Belajar Menjaga Keutuhan Budaya di Desa Sade

Pulau Lombok menjadi tempat terakhir Road Show dan Media Tour ‘Salam Indonesia’ yang digelar sepanjang Januari 2018 lalu. Setelah aktivitas yang cukup padat, rombongan Endank Soekamti diajak berjalan-jalan menikmati indahnya alam, keagunan budaya, dan kearifan lokal setempat. Salah satu tempat yang sangat membuatku terkesan adalah berkunjung ke Desa Sade. Negeri kita memiliki kekayaan budaya yang sangat beraneka ragam. Keberadaan Desa Sade di Pulau Lombok ini merupakan salah satu budaya tradisional yang masih lestari.

Desa Tradisional ini merupakan sebuah perkampungan Sasak, yang merupakan suku asli Pulau Lombok. Desa Sade berada di wilayah bagian selatan Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kehidupan keseharian masyarakat di sini masih sangat kental dan memegang teguh adat tradisi Sasak tempo dulu. Aku melihat sendiri bagaimana rumah adat khas Sasak yang berdiri kokoh dan masih terawat dengan baik.

Dalam bahasa jawa kuno. Sade diambil dari kata ‘Noer Sade’ yang berarti cahaya. Kampung ini berdiri sejak 1079 masehi, dan sejak 1975 wisatawan mulai banyak masuk ke kampung ini. Desa seluas 5,5 Hektar ini, memiliki  rumah tradisional sejumlah 150 dan setiap rumah terdiri dari satu kepala keluarga, dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang. Semua penduduk di sini masih satu keturunan, mereka melakukan perkawinan antar saudara. Bentuk pintu rumah-rumah mereka sangat pendek, mirip dengan rumah-rumah di jawa, agar bisa saling menghormati, karena kalau masuk rumah kita diharuskan menunduk biar nggak kejedot pintu. Sebelumnya penduduk Desa Sade menganut Islam Wektu Telu, dan sekarang mereka sepenuhnya memeluk Islam.

Masyarakat Sade sangat menjaga keutuhan budaya dan pola hidup yang diwarisakan leluhur mereka. Bentuk bangunan, adat istiadat, tarian, musik, busana, hingga penggunaan perlatan keseharian mereka masih sama seperti hampir seribu tahun yang silam. Desa Sade terletak di perbukitan tanah liat, yang jarak gundukan antar bangunannya sangat rapat, dan tersusun rapi ke atas. Setiap bangunannya dihubungkan dengan jalan setapak. Bangunan rumahnya sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, tiang atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Lantai rumah mereka pun terbuat dari tanah liat yang di campur dengan sedikit sekam padi.

Hal yang paling unik di sana adalah penggunaan kotoran kerbau yang dipercaya dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah. Setiap upacara adat di waktu-waktu tertentu, lantai rumah tersebut digosok dengan kotoran kerbau yang dicampur dengan sedikit air. Setelah kering, lantai tersebut disapu dan digosok dengan batu. Selain untuk menangkal serangan magis, penggunaan kotoran kerbau juga berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu, dan membuat lantai lebih halus dan kuat. Mungkin karena zaman dulu belum ada semen, maka masyarakat Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah mereka. Meski menggunakan bahan organik berupa ‘tai kebo’, aku nggak mencium baunya. Masyarakat Sade memang keren! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *