Angklung Khas Banyuwangi

Angklung merupakan alat musik tradisional yang identik dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Namun alat musik multitonal atau bernada ganda ini juga menjadi alat musik tradisional di Banyuwangi, bagian paling ujung timur pulau jawa. Alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan atau digetarkan ini menghasilkan bebunyian yang tidak hanya khas, tapi juga sakral.

Untuk menjaga lestarinya kebudayaan asli Banyuwangi, Desa Osing telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Desa wisata ini berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Ada atmosfer yang berbeda di desa ini dari seluruh desa yang ada di Banyuwangi. Penduduk di desa ini memiliki adat istiadat dan budaya khas yang dikenal sebagai suku Osing (Using). Mereka adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Jika dilihat dari adat-istiadat, budaya, maupun bahasanya, keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini memiliki perbedaan sendiri dari masyarakat lainnya.
Masyarakat Osing di desa Kemiren ini memiliki tradisi asli yang masih lestari dan dijalankan turun-temurun. Satu di antaranya adalah cara bercocok tanam, masyarakat di sini memiliki berbagai tradisi selamatan, mulai sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah. Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar. Musik lesung ini menjadi kesenian yang masuk dalam warisan budaya asli suku Using.
Angklung khas Banyuwangi biasanya dimainkan oleh 12 sampai 14 orang.Angklung memiliki empat jenis pertunjukan yaitu, angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung Blambangan. Angklung Caruk berasal dari kata asli Banyuwangi, ‘caruk’ yang berarti ‘pertemuan’. Dua kelompok yang bertemu dan bersaing untuk bermain angklung bersama disebut angklung caruk.
Dalam pertunjukannya biasanya ada tiga kelompok penonton. Satu kelompok mendukung, satu kelompok angklung, dan kelompok penonton lainnya mendukung kelompok angklung kedua. Kelompok ketiga adalah penonton netral.
Angklung Blambangan merupakan improvisasi dari angklung caruk. Terdapat instrumen musik termasuk gong dan alat musik Gandrung. Angklung Tetak berasal dari kata ‘tetak’ yang berarti ‘menjaga di malam hari’. Angklung tetak dapat menjadi alat yang digunakan untuk membantu berjaga malam.
Sedangkan Paglak adalah gubuk sederhana yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak dibangun dari bambu dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya. Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjagas sawah sambil bermain angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak. Angklung paglak ini menjadi salah satu pertanda bahwa acara sudah memasuki persiapan. Warga juga menggunakannya saat mengumumkan bahwa akan dimulainya masa panen.
Warga Desa Adat Kemiren menjaga dengan baik nilai-nilai luhur mereka. Terlepas dari kondisi global, angklung paglak ini tetap eksis sebagai salah satu instrumen tradisional yang mereka miliki. (*)

4 Replies to “Angklung Khas Banyuwangi”

  1. Angklung merupakan alat musik tradisional yang identik dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Namun alat musik multitonal atau bernada ganda ini juga menjadi alat musik tradisional di Banyuwangi.
    apakah alat musik tradisional ini dapat mendunia di negala tetangga?

  2. Satu di antaranya adalah cara bercocok tanam, masyarakat di sini memiliki berbagai tradisi selamatan, mulai sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen.

Leave a Reply to rani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *