SAWAH SPIDER

Kali ini kami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Sawah Spider setelah tahun lalu kami gagal mengunjunginya.

Kali ini alam sedang berpihak kepada kami.

Perjalanan menuju Ruteng yang kemarin sempat terkendala karena longsor kini sudah bisa dilewati.

Sehingga kami membagi tim menjadi 2, yaitu tim sawah spider dan tim packing.

Tim sawah spider berangkat lebih awal dari tim packing karena mereka mengajar matahari pagi.

Tim packing beberes lokasi camp setelah 2 malam menginap di Labuan Bajo.

Sedih rasanya harus meninggalkan camp yang begitu indah di bukit cinta Labuan Bajo.

Mobil pertama berangkat menuju ke lokasi sawah spider yang jaraknya sekitar 2 jam dari Labuan Bajo.

Lokasinya berada di Ruteng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tepatnya berada di Desa Cancar.

Kami disambut oleh anak-anak warga lokal dan ditemani menuju ke lokasi.

Perjalanan yang kami lewati yaitu naik ke bukit dengan menyusuri anak tangga hingga jalan tanah setapak yang dipenuhi semak belukar. Jika dilihat dari jalan raya desa, sawah itu terlihat seperti sawah pada umumnya.

Setelah mendaki bukit sekitar 100 meter, baru terlihat keelokan lodok Desa Cancar atau bentuk sawah yang berbentuk spider.

Garis pematang sawahnya benar-benar seperti gambar jaring laba-laba raksasa. Sawah yang aslinya berbentuk lingkaran itu diiris garis pematang sawah berbentuk segi tiga, lalu menjadi seperti jaring laba-laba.

Sawah spider juga terkenal dengan nama sawah Lodok yaitu pusat dari lahan adat.

Lahan adat ini adalah tanah milik suatu kampung yang digarap bersama oleh warga kampung. Sementara Lingko adalah sistem pembagian tanah adat milik kampung. Tanah ini dibagikan oleh ketua adat yang membagi pengelolaan lahan melalui upacara adat.

Pembagian lahan sawah seperti ini konon katanya hanya ada satu di Indonesia.

Selain karena unik, keindahannya kini dijadikan sebagai lokasi wisata.

Tidak heran jika kini ramai dikunjungi.

Setelah berkunjung ke sawah Lingko, tim mencari kesejukan di danau Merese sembari menunggu tim packing datang.

Begitu indah dan banyak yang bisa diexplore ditempat ini, dan terimakasih kepada kesempatan kepada semesta dan Tuhan karena kita berhasil berkunjung ke tempat ini!

 

 

MENGULIK SASANDO DARI PULAU ROTE

Pagi ini kami disambut oleh matahari pagi di pantai Nembrala.

Sebuah pantai yang menjadi destinasi unggulan pulau Rote.

Pantai Nembrala masih sangat bersih dan memiliki ombak yang tenang.

Kami menikmati pagi hari dengan merasakan masakan dari chef kita, yaitu Trio dengan menu nasi pecel.

Tidak lupa olahan seafood yang kami cari semalam di pantai Nembrala.

Selesai mengisi amunisi dengan sarapan, kami segera beberes basecamp untuk melanjutkan perjalanan.

Kami berpamitan dengan GPS yang sudah menemani perjalanan kami di daerah pantai Nembrala.

Rasanya senang bertemu dengan keluarga baru di Pulau Rote.

Kami segera menuju ke rumah pengrajin Sasando yaitu keluarga Bapak Herman Adolf Ledo.

Lokasinya terletak di Rote Ndao.

Rumah pengrajin Sasando ini berada dipinggir jalan utama, sehingga tidak sulit untuk menemukannya.

Di rumah ini terdapat banyak jenis Sasando dan memiliki variasi ukuran.

Sasando terbuat dari bahan alami yaitu bambu dan daun pohon nira (semacam lontar) kecuali bagian senar dan kawat halusnya.

Berdasarkan struktur nada, sasando dapat dibedakan menjadi dua jenis.

Pertama, sasando gong dengan sistem nada pentatonik memiliki dua belas dawai. Sasando jenis ini biasanya hanya bisa digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional masyarakat di Pulau Rote.

Kedua adalah sasando biola. Sasando ini memiliki sistem nada diatonik dengan jumlah dawai mencapai 48 buah. Kelebihan dari sasando ini terletak pada jenis lagu yang bisa dimainkannya lebih bervariasi.

Cara memaikannyapun unik, yaitu dengan dipetik menggunakan kedua tangan dengan arah yang berlawanan.

Di tempat ini kami melihat langsung pertunjukan sasando yang indah dilengkapi dengan syair syair dari Pulau Rote.

Uniknya lagi, pemain sasando biasanya menggunakan Topi Ti’i Langga sebagai aksesoris saat perform.

Di rumah inilah salah satu budaya di Indonesia terus dilestarikan.

Semoga terus lestari dan tetap menjadi Ikon Pulau Rote!

Sore yang cerah adalah waktu yang tepat untuk merasakan kenikmatan mandi di alam bebas.

Kami segera menuju ke mata air Oemau yang terkenal dengan kejernihannya.

Kesegaran dari kolam tersebut membuat kita kembali fresh kembali. Apalagi cuaca sore itu sangat panas.

Selesai menikmati keindahan musik dari Pulau Rote dan mata air Oemau, kami menikmati sore di Pantai Batu Termanu.

Batu Termanu sebenarnya merupakan 2 buah bukit berukuran sangat besar yang berada di sebuah tanjung dan di lepas pantai. Dua bongkahan batu besar tersebut yaitu Batu Suelai, yang disebut-sebut berkelamin pria dan Batu Hun berkelamin wanita.

Sore itu kami menikmati senja sambil duduk duduk bersantai di rerumputan hijau yang membentang.

Tidak terasa esok kami sudah harus meninggalkan Pulau Rote, dengan memiliki banyak cerita di dalamnya.

Terimakasih sambutannya Pulau Rote!

MENUJU PULAU PALING SELATAN DI INDONESIA

Kami mengantri sejak subuh untuk menyebrang dari Kupang tepatnya Pelabuhan Bolok menuju ke Pulau Rote.

Pelabuhan pagi itu sangat ramai.

Kami mengantri dan informasi yang didapatkan adalah pukul 09.00 kapal akan berangkat menuju Pulau Rote.

Kami sudah berada di ruangan VVIP kapal Ranaka dan siap melakukan perjalanan menuju Pulau Rote.

Perjalanan yang kami tempuh tidaklah lama, hanya 5 jam.

Dan pukul 13.00, kami sudah sampai di Pulau Rote.

Pulau Rote adalah sebuah pulau yang terletak di paling selatan Indonesia dan menawarkan wisata alam da budaya yang indah dan bernilai.

Kami disambut dengan pemandangan yang sangat indah, yaitu laut serta bukit bukitnya yang masih sangat asri.

Perut yang kerocongan membuat kami harus istirahat siang terlebih dulu sebelum bertemu dengan GPS.

Kenikmatan es degan dibawah pohon membuat kami menjadi nyaman duduk duduk dan bersantai.

Menjelang sore, kami segera bertemu dengan GPS di Pelabuhan Ba’a.

Pelabuhan Ba’a berjarak sekitar 30 menit dari pelabuhan tempat kami sampai siang tadi.

Daerah Ba’a merupakan pusat kota dari Pulau Rote.

Setelah kami berkenalan dan bertegur sapa dengan para GPS, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi pertama yaitu pembuatan topi Ti’i Langga.

Ciri khas topi ini adalah adanya semacam cula yang mirip unikorn setinggi 40 sampai 60 sentimeter atau hiasan jambul yang melekat di bagian depan. Jambul tersebut sering disebut dengan istilah ‘antena’.

Topi ini merupakan salah satu ikon dari Pulau Rote. Terbuat dari daun pohon Nira, topi ini diproduksi setiap harinya 1 buah oleh para pengrajin rumahan dan dijual dengan harga 150-200ribu.

Selain sebagai oleh oleh, topi ini masih digunakan untuk kegiatan kegiatan adat di Pulau Rote.

Selesai melihat pembuatan topi Ti’i Langga,

Tim trip salam Indonesia segera menuju ke lokasi camping.

Kami disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah menuju ke lokasi camping.

Menikmati keindahan alam serta matahari sore yang sangat indah, kami siap beristirahat di camp serta siap mengexplore keindahan Pulau Rote esok hari.

 

SEMANGAT BERBAGI

Kami merasakan udara pagi dan menikmati keindahan pagi hari dari Fatuleu.

Kejadian dini hari yang cukup menegangkan terbalas dengan indahnya pagi hari yang menyegarkan.

Destinasi kali ini adalah SD Kofi.

SD Kofi adalah sebuah sekolah dasar yang dalam pengembangannya bekerja sama dengan save the children.

Save the Children adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang mempromosikan hak-hak anak, menyediakan bantuan dan membantu mendukung anak-anak di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hari masih terlalu pagi, sehingga kami memutuskan beristirahat di bawah kaki gunung Fatuleu.

Udara yang segar dan sejuk membuat kami segera mencari tempat beristirahat yang nyaman dan tidak lama kami langsung tertidur dengan pulas.

Menjelang siang, beberapa tim dari save the children menghampiri kami.

Kami langsung ngobrol bersama sembari menceritakan pengalaman kami semalam.

Pengalaman yang cukup menyenangkan dan menegangkan untuk dibagikan kepada teman-teman lainnya.

Kami kemudian mampir sebentar di SD Kofi untuk melihat perkembangan gedung serta sarana prasarana yang sedang dibangun sembari membersihkan badan.

Selanjutnya, pukul 14.00 kami sudah ditunggu oleh anak-anak SD Kofi dan anak anak yang bermukim disekitar Fatuleu di sebuah tempat yang biasa digunakan mereka untuk berkumpul.

Tempat ini berada tidak jauh dari SD Kofi.

Sebuah tempat yang biasa digunakan untuk mengisi waktu luang sepulang sekolah.

Mereka biasanya menghabiskan waktu dengan membaca, menyanyi serta mendongeng bersama para relawan.

Hal itu biasa dilakukan seminggu sekali, dan hari itu kami berbagi dan belajar bersama anak anak di Fatuleu.

Senang rasanya dapat berbagi bersama mereka.

Berbicara mengenai cita cita dan harapan yang mereka ingin capai.

Bukan hanya kita yang mengajarkan kepada mereka, ternyata mereka juga mengajarkan banyak hal kepada kita.

Salah satunya semangat mereka menular kepada kami untuk bekal ke kehidupan selanjutnya.

Terimakasih adek-adek di SD Kofi, kalian adalan tunas bangsa penerus generasi selanjtunya.

Tetap semangat meraih cita cita!

POS LINTAS BATAS NEGARA

Jika mengingat kejadian semalam, berbagai perasaan bersemayam.

Lucu, kaget, takut dan seru bercampur menjadi satu.

Setelah kami merasakan kesegaran dari air terjun Oehala di daerah So’e, kami melanjutkan perjalanan.

Hari ini kami berangkat menuju ke Atambua. Sebuah kota yang berada di perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.

Dari Kupang, kami menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam. Perjalanan seperti biasanya, berjumpa dengan jalanan yang berkelok-kelok.

Sebagian dari tim masih terjaga dengan menikmati pemadangan, namun sebagian tim menggunakan waktunya untuk tidur.

Hari ini kami berkunjung sampai luar negeri !

Dari Atambua, kami harus melewati perjalanan selama 30 menit menuju ke Patok Batasan Lintas Negara.

Hari ini sangat panas, namun kami bersemangat berjalan menuju ke perbatasan untuk melihat Timor Leste.

Kami diperbolehkan masuk sampai di Tugu Timor Leste. Seluruh tim senang melihat dirinya sudah bisa berkunjung ke luar negeri.

Perbatasan kini dibuat semegah mungkin, hal itu adalah upaya mencegah trjadinya konflik akibat kesenjangan.

Setelah kami menikmati daerah perbatasan dan menyelesaikan berbagai kerjaan, kami akan menuju ke Fatuleu.

Sebuah daerah yang dijangkau dengan perjalanan selama 5 jam dari Atambua.

Jalanan dari Atambua menuju Fatuleu malam itu cukup sepi, mobil melaju dengan kencang bebas hambatan.

Malam itu karena kami sudah kelelahan, kami mengikuti arahan google maps dalam memilih jalan.

Ada dua jalan yang tersedia, namun kami memilih jalan yang lebih cepat 20 menit. Hal itu dikarenakan kami ingin segera sampai dan menghemat waktu perjalanan.

Tidak ada pikiran negatif dibenak kami.

Kami melanjutkan perjalanan dan mencoba melewati jalan yang ada di depan mata.

Jalan tersebut memang sudah rusak, tertutup semak-semak, terdapat batu-batuan, terdapat sungai kecil dan seringkali curam.

Kami saling gotong royong untuk melewati jalan tersebut.

Hi-lux menjadi ketua rombongan dan memberikan arahan kepada 2 mobil veloz dibelakangnya.

Walaupun pelan pelan dan saling membantu, kami bisa melalui jalanan ekstrim itu walau cukup menyita tenaga.

Di tengah perkebunan dan jalanan yang sepi, tiba tiba kami didatangi oleh beberapa gerombolan bapak bapak warga lokal.

Mereka menanyakan maksut perjalanan kami, karena suara kami cukup menganggu mereka.

Setelah kami jelaskan, kami bisa melanjutkan perjalanan. Maksut mereka hanya mengkonfirmasi perjalanan kami. Mereka juga khawatir jika kami tersesat.

Informasi yang didapatkan, tidak jauh dari tempat saat kami didatangi oleh segerombolan bapak-bapak tersebut kami sudah bisa bertemu jalan yang baik dan mulus.

Kami kemudian bersemangat melanjutkan perjalanan.

Namun tiba-tiba mobil Hi-lux memberikan informasi melalui HT bahwa jalan tidak bisa dilewati karena tertutup batang pohon.

Beberapa dari kami turun, namun tiba-tiba terdengar suara saling sahut-sahutan seperti suara-suara burung, hewan, dan lain lain.

Kami tidak berpikir apa apa, suara suara bersahut-sahutan tersebut kami balas dengan teriakan teriakan kami sambil bercanda.

Suara suara tersebut semakin kencang , mendekat dan saling sahut-sahutan.

Kami mendadak khawatir dan ketakutan.

Ada warga lokal yang menghampiri kami, mempertanyakan maksut perjalanan kami.

Selanjutnya seluruh tim berkumpul di sebuah tanah lapang, tidak disangka seluruh warga desa sudah berkumpul bersiap menyerang kami dengan berbagai senjata yang mereka bawa.

Seperti pisau, pistol, parang sampai berbagai kayu kayu yang menyeramkan.

Malam itu kami cukup kaget dengan apa yang sedang kami hadapi.

Setelah melalui diskusi, akhirnya kami tau bahwa mereka sangat khawatir dengan hewan ternak mereka.

Mereka mengira kami sadalah erombongan pencuri ternak.

Kasus ini sedang ramai di daerah Fatuleu, sehingga mereka sigap jika bertemu dengan orang asing dengan kendaraan malam hari di daerah tersebut.

Tidak dipungkiri kecurigaan mereka adalah karena jalanan rusak yang kita lalui.

Bersama para perangkat desa kami akhirnya menjelaskan maksut dan tujuan kami sesungguhnya.

Semua aman dan terkendali ketika fajar keluar dari ufuk timur. Mobil kami dicek oleh para warga untuk meyakinkan seluruh warga desa.

Akhirnya kami tau, suara suara yang saling sahut menyahut itu bernama KOA, sebuah sandi suara untuk berbagai kondisi di daerah Pulau Timor.

Bisa dalam keadaan terdesak, tanda dalam bahaya, tanda untuk berkumpul atau ajakan dalam suatu acara. Dan hari itu ditengah masalah kesalahpahaman ini, kami jadi belajar tentang Koa, sebuah tradisi unik dari daerah Fatuleu.

Tidak ada yang salah untuk kali ini, karena hal ini memang terjadi karena kesalahpahaman.

Setelah berfoto sebagai kenang-kenangan kondisi menjadi kondusif.

Kami diantarkan oleh para warga menuju ke destinasi kami selanjutnya.

Mereka tidak menyeramkan, mereka sangat baik jika keadaan sudah kembali normal.

Pengalaman yang membuat kami cukup diaduk-aduk perasaannya.

Semoga selalu aman untuk kita semua!

 

 

 

SAMBUTAN PULAU SABU

Hari ini kami menuju ke Pulau Sabu.

Sebuah pulau kecil yang terletak di antara Pulau Timor, Sumba dan Rote.

Perjalanan yang tim trip salam Indonesia harus lalui adalah sekitar 12 jam dari Pelabuhan Bolok Kupang.

Informasi yang didapatkan kapal akan berangkat pukul 12.00.

Pagi ini rombongan mobil veloz merah meluncur ke pelabuhan untuk mencoba memesan tiket untuk ketiga mobil menuju ke Pulau Sabu.

Kami sedikit kaget melihat banyaknya kendaraan yang sudah mengantri, kami mendadak khawatir jika tidak ada slot tempat untuk tiga mobil kami.

Kami mencoba memesan tiket pukul 12.00 untuk tiga mobil rombongan trip salam indonesia, namun ternyata kami ditolak.

Alasannya adalah setiap mobil harus sampai di pelabuhan terlebih dahulu, kemudian tiket baru bisa di pesan.

Kami diberi solusi untuk mobil veloz merah bisa berangkat pukul 12.00 terlebih dahulu, dan mobil lainnya yaitu veloz putih dan hilux akan berangkat pukul 16.00.

Solusi yang cukup membantu walaupun kami harus terpisah kapal. Namun setidaknya kami semua akan sampai di Pulau Sabu di hari yang sama.

Tim akhirnya dipecah menjadi 2 tim.

Tia, Yance, Trio dan Nafi berangkat terlebih dulu dengan kapal Ranaka pukul 12.00 bersama mobil veloz merah.

Tim yang lain menunggu pukul 16.00 sambil berwisata di gua kristal yang letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Sebagian tim lain menunggu sembari mengedit video.

Tia, Yance, Trio dan Nafi menunggu diruangan VVIP kapal Ranaka. Tidak ada perasaan curiga sama sekali, kami menunggu dengan sabar. Namun, sampai pukul 15.00 kapal tidak kunjung berangkat.

Kami hanya saling mengeluh dalam hati, namun tidak ada pikiran negatif sama sekali.

Beberapa penumpang memberikan informasi terlambat karena ombak yang besar. Kami tetap santai menunggu kapal berangkat sambil bermain hape dan tidur santai.

Tiba tiba terdengar suara ramai masuk ke dalam ruangan VVIP.

Rombongan yang berangkat pukul 16.00 tiba tiba masuk ke dalam ruangan VVIP. Kami sontak terkaget.

Kami langsung panik dan saling tuduh bahwa kedua tim salah kapal. Kami segera mencari tahu kebenarannya.

Ternyata, kapal Ranaka yang berangkat pukul 12.00 berubah jam keberangkatan menjadi pukul 16.00.

Dan kapal Umakalada yang harusnya berangkat  pukul 16.00 sudah berangkat pukul 12.00.

Informasi yang cukup membuat kami terkejut karena dua mobil veloz putih dan hilux sudah berangkat ke Pulau Sabu pukul 12.00 tanpa supir.

Yang membuat kami kaget lagi adalah kapal Umakalada akan berangkat menuju ke Waingapu Sumba.

Sehingga kami sangat khawatir jika dua mobil tersebut akan sampai di Waingapu Sumba.

Informasi tentang pergantian jam keberangkatan tidak disiarkan kepada penumpang, sehingga timbulah kesalah pahaman.

Kami segera mengkonfirmasi kepada kapten Kapal kelanjutkan mobil kami.

Kami cukup lega karena kapal Umakalada akan menunggu kapal Ranaka sampai di pelabuhan, sehingga 2 mobil di dalam kapal Umakalada tidak akan berangkat menuju Sumba sampai kapal Ranaka sampai.

Memang hal yang membuat terkejut dan lucu.

Setidaknya kami memang kompak karena tetap dalam 1 kapal, walaupun2 mobil sudah berangkat terlebih dulu.

Kami kemudian bisa tertidur dan istirahat di dalam Kapal.

Kapal melewati laut Sawu yang memiliki gelombang cukup besar.

Namun karena kelelahan, kami tertidur dengan pulas.

Pag harinya, kedua kapal saling berdekatan, para sopir segera loncat mencari mobil mereka masing masing.

Dan kondisi mobil aman dan selamat.

Namun semoga komunikasi yang baik dipelihara oleh ASDP, sehingga tidak akan ada kesalahan seperti ini lagi.

Pagi harinya, kami lagi lagi bertemu dengan GPS yang baik hati. Mereka sudah menunggu kedatangan kami sejak subuh.

Kami disambut dengan sunrise di Pulau Sabu dengan indahnya.

Selanjutnya segera menuju destinasi yang sudah kami rencanakan sebelumnya.

Destinasi pertama adalah Kelabba Majha. Lokasi ini merupakan tempat yang cukup terkenal di Pulau Sabu.

Salah satu destinasi favorit para pelancong.

Kelabba Maja adalah bukit bukit dan tebing tebing yang luas dan memiliki banyak varian warna sehingga tampak cantik, yaitu warna putih, coklat, biru dan merah.

Kelabba Maja merupakan tempat sakral untuk warga Pulau Sabu. Tempat yang dipercaya sebagai berdiamnya dewa bernama Dewa Maja. Sehingga di lokasi ini masih sering digunakan untuk lokasi upacara.

Lokasi ini sudah cukup teratur dan terawat, sehingga setelah mencari konten kami bisa menikmati keindahan alam dengan bersantai di Gazebo.

Yang selalu  menyenangkan dalam perjalanan adalah interaksi dengan warga sekitar. Kami menemukan sebuah budaya unik, yaitu setiap pria di Pulau Sabu selalu membawa pisau di kantong celananya.

Hal ini dikarenakan sebagai bentuk pengamanan diri dari hal hal yang tidak diinginkan.

Sehingga kami memutuskan untuk berkunjung ke pembuatan pisau Sabu yang terkenal di seantero NTT karena ketajamnnya.

Pisau sabu disebut dengan nama tud’i yang dibuat dengan cara tradisional.

Namun, untuk kualitasnya tidak kalah dengan daerah lainnya.

Selanjutnya kami menikmati sunset di pulau Sabu.

Langit dan cuaca yang bersahabat membuat kami mendapatkan pemandangan yang indah.

Serta melihat warga pulau Sabu yang melakukan proses pembuatan garam di kerang kerang besar yang mereka temukan di pantai.

Walaupun perjalanan di pulau Sabu mendapatkan kejutan dari kesalahan kapal.

Ternyata kami mendapatkan pemandangan yang luar biasa di Pulau ini.

Tidak hanya itu, warganya menyambut kami dengan sangat ramah.

Kami menghabiskan malam sembari mengobrol bersama.

Berbagi bersama dengan mereka yang entah kapan lagi akan bertemu.

Kami saling bertemu, untuk mengajarkan dan diajarkan.

Kami pamit esok hari untuk kembali melanjutkan perjalanan!

Terimakasih pulau Sabu yang membuat kami menjadi merasa berarti.

Semoga ada waktu untuk bertemu lagi. Kami pamit sembari cium hidung sebagai ucapan salam tradisional di Pulau Timor.

 

 

 

KEINDAHAN PULAU TIMOR

Memasuki destinasi trip salam Indonesia selanjutnya, kami disuguhi sebuah pemandangan layaknya negeri dongeng dan setting di film film.

Fatumnasi terselip di celah pegunungan. Tidak jauh dari desa ini terlihat puncak Gunung Mutis, gunung tertinggi di Pulau Timor.

Di Fatumnasi mengambang di awang-awang seakan meneduhi seantero pulau.

Fatumnasi adalah sebuah desa kecil ini begitu tenang, jauh dari keramaian, sedikit banyak lantaran sulitnya akses transportasi untuk masuk ke sini.

Sejauh mata memandang tampak gradasari warna langit biru dan hamparan padang rumput berwarna hijau.

Udara sejuk, serta hewan hewan yang bebas berkeliaran menambah suasana di Fatumnasi semakin menawan.

Fatumnasi berarti batu tua.

Di tanah tinggi inilah tinggal Suku Mollo, sebuah etnis pedalaman Timor.

Hal yang unik di sini, adalah adanya rumah rumah modern yang masih menjaga rumah tradisinal bentuk lopo yang gondrong, atap alang-alangnya memanjang hingga ke tanah.

Hal ini dikarenakan lopo di tanah ini berfungsi sebagai rumah yang membendung dinginnya udara gunung.

Tidak hanya itu, rumah itu juga digunakan untuk meletakan berbagai bahan pangan serta tempat beristirahat ketika dingin menerjang.

Destinasi kami adalah menuju ke sebuah hutan bonsai yang masih berada dalam satu lokasi.

Perjalanan menuju lokasi kami bertemu dengan batu-batu besar ini berbentuk unik yang menjadi daya tarik wisata di Fatumnasi.

Selanjutnya akan disambut oleh pohon-pohon Ampupu berusia ratusan tahun yang ketika kabut datang tampak begitu mistis.

Penduduk setempat menyebut pohon-pohon ini bonsai alam karena tampilannya yang seperti bonsai raksasa.

Bonsai alam ini  merupakan salah satu daya tarik Cagar Alam Gunung Mutis dan masih terjaga keasirannya hingga kini.

Kami tidak ada waktu yang lama menikmati keindahan alam ini.

Namun kunjungan yang hanya sebentar membuat kami sangat terkesan.

Kami segera melewati jalan jalan terjal menuju pantai Kolbano. Pantai ini merupakan salah satu daya tarik di Pulau Timor.

Sesampainya di pantai kami tidak melihat hamparan pasir hitam maupun putih yang akan kalian lihat melainkan hamparan bebatuan yang terlihat cantik berwarna-warni.

Tak hanya itu saja, keindahan Pantai Kolbano juga dilengkapi dengan adanya landmark yang berupa sebuah batu raksasa yang menjadi ciri khas di Pantai Kolbano ini, penduduk setempat biasa menyebutnya batu besar “Fatu Un”.

Pengunjung juga dapat menaiki batu tersebut untuk melihat keindahan panorama Pantai Kolbano dari ketinggian.

Samudera Hindia yang ada di hadapan muka pantai dengan kombinasi birunya air laut serta hamburan bebatuan berwarna-warni semakin menambah keindahan Pantai Kolbano.

Ada keunikah lain yang membuat kami tertarik.

Beberapa orang yang sedang mencari batu batu warna warni Kolbano yang akan dijual lagi di negera lain seperti Korea.

Batu batu ini bernilai seni tinggi dan dihargai dengan harga yang lumayan.

Kamipun mencari beberapa batu yang akan kami bawa pulang sebagai cinderamata.

Kami menikmati sore ditemani anak anak lokal yang bermain di pantai.

Mereka menyambut kami dengan sangat ramah.

Membuat kami menjadi betah.

 

BEMO POWERFULL

Ada yang sangat menarik perhatian kita ketika sedang berada di Kupang.

Kami melihat kendaraan umum dengan musik yang menggelegar diruas ruas jalan. Musik-musik itu menjadikan bemo seperti diskotik berjalan.

Musik-musik ini tidak akan menganggu kenyamanan para penumpang, justru menambah kenyamanan para penumpang karena bisa mengusir rasa kantuk di dalam bemo.

Dentuman musik hip-hop dan house music ini selain sebagai penghibur penumpang juga sebagai media untuk menarik perhatian dengan harapan banyak penumpang yang akan naik ke dalam bemo.

Sore itu kami ingin mencari tahu kebenaran bemo Kupang yang mencuri perhatian.

Kami segera menuju ke terminal bemo untuk bergabung bersama para supir dan kernet.

Angkot yang sedang menunggu penumpang tersebut saling sahut sahutan. Memutar lagu dari berbagai genre dengan volume yang sangat kencang.

Tidak hanya itu hal yang unik di sana selain lagunya adalah nama disetiap bemo.

Biasanya nama-nama bemo ini tertulis di bagian samping body mobil.

Ada banyak sekali nama-nama bemo yang kami jumpai. Biasanya adalah nama nama wanita, seperti Vanessa, Atalia, Bella, Widewy  dan lain lain.

Nama-nama ini bukan tanpa alasan dibuat. Nama bemo ini dibuat supaya memudahkan penumpang untuk mengingat bemo yang mereka tumpangi sehingga para penumpang tidak lari ke bemo lain.

Selain itu nama-nama ini dibuat untuk membedakan daerah operasi bemo itu sendiri.

Pernak-pernik dan beragam aksesoris juga menghiasi bemo ini.

Hal ini mungkin sebagai wujud apresiasi mereka terhadap seni, yaitu seni menghias bemo. Tidak hanya aksesoris bagian luar seperti lampu warna-warni dan kaca yang ditutup dengan stiker cewek-cewek seksi, kalimat kalimat jenaka, serta aksesoris seperti tak kalah heboh.

Bagian dalam bemo ini dilengkapi dengan berbagai macam pernak-pernik dan aksesoris seperti boneka kecil yang digantung, lampu hias, dan aksesoris unik lainnya.

Saat kami ikut sebagai penumpang, dan Erik mencoba menjadi kernet memang ada keasikan tersendiri.

Obat galau karena selalu ada keceriaan di dalamnya.

Hanya dibandrol dengan harga 2000, kami siap diantarkan menuju lokasi dengan mendapatkan bonus musik yang powerfull.

Sore itu kami sangat senang merasakan keceriaan bemo Kupang. Bemo yang harus diapresiasi karena supir dan angkot mengkombinasi seni di dalamnya.

Angkot yang penuh dengan kreatifitas.

Jika Anda ke Kupang jangan lupa naik ya!

SELAMAT DATANG KUPANG

Selamat datang di Kupang

Sebelumnya kami melakukan perjalanan menyusuri Flores dan sampai di Kota paling timur di Pulau Flores, yaitu Larantuka.

Perjalanan menuju Larantuka disuguhi dengan pemandangan yang indah.

Kami beristirahat sejenak untuk menikmati keindahan alam Larantuka sekaligus menikmati langit senja. Semakin lengkap dengan menyeruput kopi.

Kami juga berinteraksi dengan warga sekitar yang selalu ramah dan baik hati.

Saat badan kami kelelahan dan butuh istirahat, warga lokal merekomendasikan lokasi untuk melepaskan lelah di sebuah pemandian air hangat yang terletak tidak terlalu jauh.

Bersama warga lokal kami ditemani menuju ke lokasi tersebut.

Perlu berjalan melewati hutan dan sungai untuk menuju kesana karena pemandian air hangat itu berada didalam hutan mangrove.

Perjalanan menuju ke lokasi pemandian air panas tersebut tidaklah mudah, penuh dengan lumpur dan nyamuk.

Di tengah perjalanan Tia terjebak masuk ke dalam lumpur sehingga membuat seluruh tim tertawa.

Sebelum sampai di dalam, perjalanan semakin ekstrim dengan pemandangan akar akar hutan mangrove serta pohon pohon yang rindang. Kami sangat senang seperti masuk ke dalam sebuah tempat tersembunyi.

Sesampainya di lokasi pemandian air panas, kami sedikit kaget.

Melihat pemandiannya yang cukup kecil dan airnya yang tidak begitu hangat.

Namun, uniknya pemandian ini hanya ada ketika air laut sedang surut, seperti sore itu. Jika malam hari dan air sudah pasang, pemandian tersebut tidak bisa digunakan.

Pemandian air panas itu dimanfaatkan oleh warga lokal untuk melakukan kegiatan seperti mandi dan mencuci pakaian.

Pemandian itu memacu Deka, Teguh dan Erik segera masuk ke dalam kolam untuk mandi bersama warga lokal yang sedang mencuci pakaian bersama  anak nakanya.

Selalu menyenangkan mendapatkan banyak hal yang tidak diduga sebelumnya dalam perjalanan, seperti sore ini.

Setelah mengecharge tenaga kami segera melanjutkan perjalanan.

Kami harus segera mengantri di pelabuhan fery Larantuka menuju Kupang.

Durasi perjalanan kali ini adalah 12 jam. Waktu yang panjang kami gunakan untuk beristirahat.

Dan akhirnya tim Trip Salam Indonesia sampai Ibu kota NTT yaitu Kupang!

Pengecekan kendaraaan bermotor oleh pihak kepolisian di Kupang cukup ketat. Kami diperiksa surat kendaraan dan mobil secara berurutan.

Hal itu dilakukan karena menghindari mobil mobil “bodong” akan dibawa ke Timor Leste.

Hari itu kami sangat kelelahan dan ingin segera beristirahat.

Hari itu keberuntungan sedang berpihak kepada tim. Kami diberikan tempat singgah oleh Keluarga Kakak Akbertus untuk menginap di tempat yang nyaman selama di Kupang yaitu di Hotel On the Rock selama 3 hari.

Kami sangat senang melihat kasur yang empuk, ruangan berAC dan bisa mandi air hangat di hotel.

Sembari beristirahat, menghabiskan waktu berenang di hotel menjadi hal yang menyenangkan dilakukan karena kami terbiasa mandi di kolam alam!

Ternyata perjalanan penuh kejutan, bahkan dari orang orang yang baik hati yang selalu mensupport dalam perjalanan.

SEMANGAT BARU DARI GONG WANING

Hari ini kami akan mengunjungi Sanggar Benza dan bertemu dengan Nyong Franco, seorang yang memopulerkan lagu gemu famire. Letaknya di Kabupaten Sikka.

Saat melangkahkan kaki masuk ke dalam sanggar kami mendapat kejutan anak anak yang sedang berlatih menari dan bermain alat musik.

Belum sempat bertemu dan bertegur sapa, kami langsung disuguhi pertunjukan mereka.

Mereka sangat bersemangat, tidak ada beban dan tampil sangat lepas.

Sehingga setelah selesai, kami memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.

Beberapa diantara kami merinding melihat pertunjukan mereka. Bagaimana tidak, anak anak ini membawa aura positif.

Anak anak ini asli berasal dari Sikka, mereka menghabiskan waktu lenggangnya di sanggar Benza untuk berlatih alat musik tradisional NTT bernama Gong Waning.

Alat musik ini dimainkan dengan cara dipukul. Gong waning terdiri dari beberapa jenis instrumen, seperti gendang, gong dan saur.

Waning sendiri adalah alat musik yang terbuat dari kayu kelapa dan hanya memiliki 1 membran.

Pertunjukan tersebut dilengkapi dengan tarian, nyanyian dan musik dari gong waning tersebut.

Lirik lirik yang mereka mainkan mengandung makna keberagaman Indonesia.

Lirik yang membuat setiap pendenganrnya menjadi terenyuh dan jatuh hati, termasuk kami.

Kami berkenalan dengan seluruh personil, kemudian bertemu dengan Nyong Franco selaku pemilik sanggar.

Nyong Franco dan sanggar Benza merupakan salah satu pelestari bangsa yang patut diapresiasi. Dan patut dikenalkan kepada seluruh pelosok negeri, bahkan luar negeri.

Anak anak di sanggar Benza sangat menginspirasi. Mereka membuat kami kembali bersemangat lagi.

Dan semangat itu kami bawa untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Larantuka.

Larantuka adalah Kota yang terletak di ujung timur Flores.

Larantuka terkenal dengan kota yang sangat religius dan dijadikan sebagai destinasi untuk wisata religi dari dalam negeri atau luar negeri.

Tim trip Salam Indonesia mendapatkan kabar baik karena jalan menuju Larantuka tidak memiliki kelokan yang ekstrim.

Namun, namanya juga adventure, terdapat dua jalan bercabang ketika menuju Larantuka.

Tim memilih cabang kiri, dengan niat menghindari jalan pegunungan yang berkelok.

Dan…

Kejutan…

Jalan disini sangat rusak dan dipenuhi jalanan batu yang ekstrim dan dipenuhi batu-batuan.

Beberapa kali kami bertanya kepada penduduk setempat, apakah jalan tersebut bisa dilewati.

Kita memilih melanjutkan perjalanan. Sejauh mata memandang, kami disuguhi pemandangan alam yang sangat indah, yaitu pegunungan dan lautan yang sangat biru. Lautan yang masih belum terjamah dan sangat bersih.

Tidak hanya itu, kami selalu saling sapa dengan warga di jalanan desa yang kita lewati.

Mereka tampak senang dan sangat ramah.

Untuk mendapatkan pengalaman berharga, terkadang diperlukan memilih jalur keluar dari zona nyaman, seperti perjalanan kali ini.

Walaupun jalanan cukup terjal, namun sebanding dengan pengalaman yang didapatkan!

Sampai Larantuka, kemana lagi ya?