Manusia Pasir Sumenep

Arosbaya memberikan sensasi private camping di tengah tebing tinggi.

Dan saat tim trip salam Indonesia terbangun di pagi hari, tim mendapatkan hadiah pemandangan keindahan tebing tebing yang berhias sinaran matahari.

Beberapa tim trip salam Indonesia tidak kuasa menahan diri untuk melakukan hunting foto dan video. Mini moto yang dibawa jauh jauh dari Yogyakarta menjadi properti foto dan video pagi ini.

Erix yang baru saja kehilangan drone kesayangannya, hari ini tampak bergembira bermain dengan drone barunya sekaligus mengabadikan Arosbaya dari ketinggian.

Setelah berkegiatan, seluruh tim sudah disediakan sarapan oleh Trio, chef terbaik dari tim Trip Salam Indonesia dengan menu nasi goreng kornet. Rasanya sedikit kecut namun tidak ada pilihan lain.

Di tengah tebing dengan udara segar, bercengkrama dengan sahabat menjadi moment yang menyenangkan, karena setelah itu tim harus melanjutkan menuju perjalanan selanjutnya.

Sinar matahari yang hangat membuat tim Trip Salam Indonesia bersemangat melanjutkan destinasi selanjutnya.

Setelah berpamitan, berfoto bersama dan mengisi dahaga dengan es degan, tim Trip Salam Indonesia melanjutkan perjalanan dari daerah Bangkalan menuju Sumenep.

Perjalanan  kurang lebih 4 jam disuguhi perjalanan dengan pemandangan yang cukup indah, namun sebagian dari tim tertidur karena kelelahan, terutama Soba dan Isa sangat terlelap karena lelah mengedit video yang harus di upload hari ini.

Sore harinya, tim Trip Salam Indonesia sampai di destinasi Wisata Kampung Pasir, tepatnya di Desa Legung Timur, Pesisir Lebak Sumenep Madura.

Tim trip Salam Indonesia menemui sebuah tradisi yang unik turun temurun. Mereka terbiasa untuk bermain, duduk-duduk hingga tidur di atas pasir pantai.

Tapi sekarang ini, saat rumah mereka sudah mengadaptasi hunian modern, warga kampung pasir tetap tak bisa lepas dari pasir. Setiap rumah dan berbagai kegiatan seperti tidur, bercengrama, melahirkan semua dilakukan di atas pasir, tak heran jika di sebut Wisata Kampung Pasir.

Warga kampung pasir percaya bahwa tidur beralaskan pasir bisa jadi obat bagi tubuh merekat, terutama untuk penyakit tulang seperti rematik.

Setelah berkeliling di Kampung Wisata Pasir, tim trip salam Indonesia menikmati keindahan pantai Lombang dan mendapatkan sunset pertama selama 3 hari perjalanan Trip Salam Indonesia.

Selanjutnya, tim trip Salam Indonesia kembali ke Surabaya.

Kemana destinasi selanjutnya?

 

#ArsipTSI “Cukur Rambut Madura”

Sembilan belas Maret 2019, Trip Salam Indonesia melanjutkan perjalanan melewati jembatan Suramadu menuju Pulau Madura.


Mendengar nama Pulau Madura, pasti yang terbesit dipikiran  adalah Sate!

Namun jangan salah, disinilah tempat ditemukannya para tukang cukur rambut yang legendaris dan menyebar di seluruh pelosok Indonesia, Pangkas rambut Madura!


Salah satu foto tertua tentang pangkas rambut Madura yang merantau di Jakarta, tercatat dibuat tahun 1911.


Dulunya mereka buka praktek di bawah pohon-pohon rindang, bermodal kursi dan cermin.


Pangkas rambut sendiri merupakan sebuah tradisi lazim bagi pria di berbagai belahan dunia, dengan cerita latar belakang yang berbeda beda.

Jika di eropa pangkas rambut merupakan pencitraan diri sebagai sosok terhormat, di asia tenggara pangkas rambut dilakukan saat orang sedang bersedih, atau sering disebut buang sial.

Setelah ajaran Islam masuk, pangkas rambut juga menggambarkan kepatuhan terhadap ajaran agama. Dimana ada salah satu langkah dalam haji yang mewajibkan memangkas rambut yang disebut dengan Tahallul.

Di masa Pangeran Diponegoro, potongan rambut digunakan untuk membedakan para pejuang dari orang-orang yang membelok ke pihak penjajah.

Karena tidak tiap orang bisa mencukur rambut, maka menjelmalah ia jadi profesi dan bisnis. Dan bisnis ini terus berkembang hingga sekarang. Hingga sekarang pangkas rambut Madura masih banyak beredar, bahkan punya perkumpulan yang anggotanya mencapai ribuan.

Ditengah maraknya barbershop modern, pangkas rambut Madura masih jadi pilihan banyak orang.

Secara teknis, pangkas rambut madura tak ada bedanya dengan barbershop modern. Malah tak jarang pijatan mereka lebih mantap. Apalagi harga juga lebih murah.


Dan yang paling penting, ini adalah budaya dari masyarakat Madura yang jadi kebutuhan penting para pria pria ganteng di Indonesia.

Tim Trip Salam Indonesia mengarsipkan pangkas rambut Madura menjadi arsip Indonesia.

Salam Indonesia!

A Start Always A Hard Part (Ksatria Suramadu)

Hujan mengguyur Yogyakarta seharian, di tgl 17 Maret 2019. Mau tak mau urusan packing di hari keberangkatan ini jadi terganggu.

Erix yang baru menyelesaikan Soekamti Day di Lampung, berhadapan dengan turbulens selama perjalanan menuju Yogyakarta.

Pemasangan roof rack, Avanza Veloz sedikit tergesa, berakibat munculnya celah air di pintu mengakibatkan kursi penumpang basah kuyup.

Hingga pukul 02.00 dini hari, tim Trip Salam Indonesia 2019, akhirnya siap untuk berangkat.

Perjalanan Yogyakarta-Surabaya, disambut dengan langit dan sunrise yang cerah. Membuat semangat tim menyala, walaupun mata sedikit berat untuk dibuka.

Di Surabaya, tim #TSI2019 menyempurnakan kesiapan mobil. Lalu berancang-ancang untuk berangkat ke Madura.

Kemegahan jembatan Suramadu memang jadi salah satu target tim #TSI2019. Cuaca yang terlihat mendukung, membuat tim bersemangat untuk mengarsipkan jembatan ini lewat aerial video.

Disinilah tim TSI 2019 merasakan extreme nya perubahan cuaca sekarang ini. Setelah tim berputar balik untuk pengambilan gambar, terlihat awan kelabu bergerak cepat dari arah seberang. Posisi kendaraan tim TSI berada di tengah jembatan, dan drone sudah melayang.

Dan benar, jangan pernah meremehkan kecepatan awan kelabu yang membawa hujan itu. Apalagi ditambah gangguan sinyal di tengah jembatan Suramadu. Drone tak mampu mencapai titik aman, dan terhempas di aliran kendaraan yang melintas Suramadu.

Adalah Deka Pramana Putra, seorang ksatria pemberani yang mencoba menyelamatkan arsip yang sudah terekam itu. Melangkah seorang diri di jembatan sedangkan semua mobil harus berputar di ujung jembatan.

Namun kekuatan supernya tak mampu melawan lebatnya hujan. Walaupun Deka dihampiri mantol (jas hujan) penyelamat yg datang entah darimana, wal hasil dia tetap klebes a.k.a kuyup dengan membawa pulang bangkai drone yg hancur tanpa memory card.

Dan Drone Rescue, berubah menjadi Deka Rescue. Dalam lebat hujan, sungguh sangat sulit menemukan Deka. Apalagi si ksatria ini menyamar menjadi sebuah patung berkerudung hijau.

Dan sisa hari pertama perjalanan #TSI2019 ditutup dengan stand up komedi dari Deka yang bercerita perjuangannya di belantara Suramadu.

Ya, memang sebuah awal yang berat. Seperti halnya saat di awal kita memulai semua usaha kita. Tapi tetap satu keyakinan di hati. Semua yang kita lakukan sepenuh hati, akan berbuah indah di kemudian hari.

Tetap optimis, tetap semangat!
Let’s go!

#TripSalamIndonesia2019
#Day1