Topeng Malangan

Topeng Malangan mempunyai 76 karakter yg mewakili semua sifat manusia.
Mas @handoyotopeng pewaris generasi ke 5 yg humble dan komunikatif ini mampu memerankan semuanya.

Bersama sanggar Asmoro Bangun beliau mengajar & mementaskan Topeng malang ini setiap bulannya.

Pembuatan 1 karakter topeng untuk keperluan pementasan memerlukan waktu pengerjaan 1 bulan. Bukan karena susah mengukirnya, tapi tahapan pengerjaan harus disesuaikan dengan penanggalan jawa beserta ritualnya.

Dalam setiap pertunjukan reguler, mereka membawakan cerita Panji, dan topeng Panji ini (warna hijau) dibuat dari kayu yang berumur 300 tahun.
Konon topeng-topeng sakral tua yang kini hilang (diarsipkan belanda), beberapa aksen dan aksesorisnya terbuat dari emas.

Untungnya hanya hilang secara fisik saja, tidak dengan budaya & roh didalamnya.
Semoga tetap lestari.
Selangkapnya DOES episode selanjutnya.

#TripSalamIndonesia Goes to Malang

Tanoker Kampung Egrang

Tanoker dalam bahasa Madura berarti kepompong, karena memang rata2 masyarakat Jember adalah pendatang dari suku Madura.

Trip Salam Indonesia Singgah di Kampung Tanoker Jember berniat mengarsipkan Egrang yang konon masih sangat lestari di kampung ini, namun sehari nginap dan tinggal disana, kami semua di buat jatuh cinta.

Luar biasa! 2009 didirikan, Tanoker menjadi tempat pendampingan untuk anak buruh migran yg jauh dari ortu. Bahkan beberapa anak tidak pernah bertemu dengan ortunya.

Pasangan Supo dan Cicik berinisiatif memperkenalkan Egrang sebagai langkah pelestarian budaya.
Berawal iseng konvoi Egrang dijalanan,
kampung ini mendadak terkenal sampai ke tingkat dunia dan akhir nya membuat festival besar setiap tahunnya.

Kampung yg benar2 menginspirasi Aku pribadi dalam pemberdayaan masyarakat. Ibu2 dilibatkan membuat kerajinan untuk dikelola bersama. Mereka jg mengkoordinir rumah2 warga untuk dijadikan guesthouse desa wisata.
Kamu bisa berkunjung, menginap, bermain dan berbagi ilmu.

Terakhir sebelum pulang.
Tim #TripSalamIndonesia dibikin shock melihat mereka yg gak pernah ketemu orang tua, masih kepikiran juga melakukan baksos di panti asuhan.

Puas sekali berada ditengah mereka.
Senang juga diberi kesempatan berbagi pengalaman..
Maturnuwun Tanoker. 🙏🏿

 

Sampai jumpa di Festival Egrang ke 9 bulan september nanti.

SALAM INDONESIA

Pantai Pulau Merah

Saat senja tiba, air laut dan tanah di pantai ini akan berubah warna menjadi merah. Warna kemerahan pada pantai tersebut terjadi karena bias warna matahari, karena itu pantai ini dikenal dengan nama Pantai Pulau Merah. Nama Pulau Merah juga merujuk pada sebuah bukit kecil setinggi 200 meter yang ada di seberang tepi pantai. Bukit tersebut memiliki tanah berwarna merah dan ditutupi oleh vegetasi hijau yang tidak terlalu tampak warna aslinya. Bukit ini bisa dikunjungi pada saat air sedang surut. Pantai Pulau Merah atau Pulo Merah ini terletak di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Sebenarnya nama asli pantai ini adalah Pantai Ringin Pitu. Namun seiring berjalannya waktu, tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Pulau Merah.

Di pantai ini juga terdapat sebuah pura yang digunakan umat Hindu untuk bersembahyang. Pura bernama Tawang Alun ini juga sering dikunjungi dari warga Hindu dari seluruh Indonesia terutama warga Bali. Tidak ada kejadian atau peristiwa pasti mengenai asal-usul Pantai Pulau Merah ini. Salah satu ciri khas lain dari pantai ini adalah banyaknya pohon kelapa dan pohon pisang di belakang bibir pantai. Pohon kelapa yang melambai tertiup angin sepoi-sepoi menambah keanggunan tersendiri dari Pantai Pulau Merah.

Pantai Pulo Merah berpasir putih terbentang sepanjang tiga kilometer. Ombak di kawasan Pulo Merah berkisar tiga hingga lima meter, dan cukup menantang dan menjadi salah satu tempat ideal untuk penggemar olahraga selancar. Ombak di Pulau Merah memang tidak setinggi G Land atau Pantai Plengkung. Jika Pantai Plengkung sudah banyak digunakan oleh kalangan profesional, Pulau Merah ini cocok digunakan oleh peselancar amatir, para pemula yang baru belajar berselancar.

Pantai Pulau Merah ini juga terkenal dengan kebersihannya. Pantai ini juga dijaga ketat oleh penjaga pantai yang selalu siap berada di pos jaga. Pemandangan dan ombak di kawasan wisata Pulau Merah merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. (*)

Angklung Khas Banyuwangi

Angklung merupakan alat musik tradisional yang identik dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Namun alat musik multitonal atau bernada ganda ini juga menjadi alat musik tradisional di Banyuwangi, bagian paling ujung timur pulau jawa. Alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan atau digetarkan ini menghasilkan bebunyian yang tidak hanya khas, tapi juga sakral.

Untuk menjaga lestarinya kebudayaan asli Banyuwangi, Desa Osing telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Desa wisata ini berada di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Ada atmosfer yang berbeda di desa ini dari seluruh desa yang ada di Banyuwangi. Penduduk di desa ini memiliki adat istiadat dan budaya khas yang dikenal sebagai suku Osing (Using). Mereka adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Jika dilihat dari adat-istiadat, budaya, maupun bahasanya, keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini memiliki perbedaan sendiri dari masyarakat lainnya.
Masyarakat Osing di desa Kemiren ini memiliki tradisi asli yang masih lestari dan dijalankan turun-temurun. Satu di antaranya adalah cara bercocok tanam, masyarakat di sini memiliki berbagai tradisi selamatan, mulai sejak menanam benih, saat padi mulai berisi, hingga panen. Saat masa panen tiba, petani menggunakan ani-ani diiringi tabuhan angklung dan gendang yang dimainkan di pematang-pematang sawah. Saat menumbuk padi, para perempuan memainkan tradisi gedhogan, yakni memukul-mukul lesung dan alu sehingga menimbulkan bunyi yang enak didengar. Musik lesung ini menjadi kesenian yang masuk dalam warisan budaya asli suku Using.
Angklung khas Banyuwangi biasanya dimainkan oleh 12 sampai 14 orang.Angklung memiliki empat jenis pertunjukan yaitu, angklung caruk, angklung tetak, angklung paglak, dan angklung Blambangan. Angklung Caruk berasal dari kata asli Banyuwangi, ‘caruk’ yang berarti ‘pertemuan’. Dua kelompok yang bertemu dan bersaing untuk bermain angklung bersama disebut angklung caruk.
Dalam pertunjukannya biasanya ada tiga kelompok penonton. Satu kelompok mendukung, satu kelompok angklung, dan kelompok penonton lainnya mendukung kelompok angklung kedua. Kelompok ketiga adalah penonton netral.
Angklung Blambangan merupakan improvisasi dari angklung caruk. Terdapat instrumen musik termasuk gong dan alat musik Gandrung. Angklung Tetak berasal dari kata ‘tetak’ yang berarti ‘menjaga di malam hari’. Angklung tetak dapat menjadi alat yang digunakan untuk membantu berjaga malam.
Sedangkan Paglak adalah gubuk sederhana yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak dibangun dari bambu dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya. Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjagas sawah sambil bermain angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak. Angklung paglak ini menjadi salah satu pertanda bahwa acara sudah memasuki persiapan. Warga juga menggunakannya saat mengumumkan bahwa akan dimulainya masa panen.
Warga Desa Adat Kemiren menjaga dengan baik nilai-nilai luhur mereka. Terlepas dari kondisi global, angklung paglak ini tetap eksis sebagai salah satu instrumen tradisional yang mereka miliki. (*)

Legenda dan Sejarah Banyuwangi

Pada zaman dahulu, wilayah ujung timur Pulau Jawa dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Sulahkromo. Dalam menjalankan pemerintahannya di wilayah yang alamnya begitu indah ini, sang raja dibantu oleh seorang Patih yang gagah berani bernama Patih Sidopekso. Sang Patih memiliki istri yang sangat cantik bernama Sri Tanjung. Tidak hanya cantik, budi bahasanya yang sangat halus membuat sang Raja tergila- gila padanya.

Penggalan kisah di atas merupakan salah satu versi dari legenda asal usul nama Banyuwangi. Sebelum kita mengulik sejarah berdirinya wilayah yang terletak di ujung timur pulau Jawa ini, kita simak dulu kelanjutan cerita tersebut. Karena amat tergila-gila, agar hasratnya terpenuhi, sang raja kerap merayu Sri Tanjung. Hingga suatu ketika ia memerintah Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapainya.

Dengan gagah berani dan tanpa kecurigaan sedikitpun, sang Patih berangkat untuk menjalankan perintah Sang Raja. Prabu Sulahkromo bahkan melakukan fitnah dan tipu daya kepada Sri Tanjung. Namun sebagai istri yang setia, Sri Tanjung terus berdoa untuk keselamatan suaminya. Hal ini membuat sang raja marah dan gelap mata. Hingga ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja.

Dengan busuknya Sang Raja memfitnah Patih Sidopekso bahwa sepeninggalnya, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja. Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso menemui Sri Tanjung dengan penuh amarah bahkan mengancam akan membunuh istri setianya itu. Sri Tanjung kemudian diseret ke tepi sungai yang keruh. Namun ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya, sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh dan jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu. Sri Tanjung berkata apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk, maka dirinya telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah.

Sang Patih tidak mampu menahan diri dan segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah pun keluar dari tubuh Sri Tanjung, ia mati seketika. Mayatnya diceburkan dan sungai yang keruh itu kemudian menjadi jernih serta menyebarkan bau harum, bau wangi. Patih Sidopekso linglung hingga terjatuh, tanpa disadari, ia menjerit “Banyu (air)… wangi… Banyuwangi. Dari legenda tersebut diceritakan bahwa nama Banyuwangi merupakan bukti cinta dan kesetiaan istri pada suaminya.

Jika merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan, pada 18 Desember 1771 terjadi sebuah peristiwa sejarah yang paling tua. Catatan ini kemudian diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Berdasarkan sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767).

Pada tahun 1743 Pakubuwono II menyerahkan wilayah Jawa Bagian Timur kepada VOC yang memang merasa Blambangan sudah menjadi milik mereka. Setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi, maka VOC langsung bergerak untuk merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peperangan yang terjadi sepanjang 1767-1772 itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

Kelahiran Banyuwangi ini bisa disimpulkan disebabkan oleh perang Puputan Bayu. Jika misalnya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi, mungkin VOC tidak akan tergesa-gesa melakukan ekspansi ke Blambangan, dan mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi. Puncak peperangan tersebut terjadi pada 18 Desember 1771.

Hari jadi Banyuwangi pun ditetapkan setiap tanggal tersebut. (*)

Baluran, Africa Van Java

‘Jawa rasa Afrika’ begitulah kira-kira gambaran tentang Taman Nasional Baluran di Jawa Timur. Bagi penyuka flora dan fauna di alam liar, tidak usaha jauh-jauh pergi ke Afrika, karena di Indonesia kita juga bisa menikmatinya. Sejauh mata memandang yang tampak adalah padang tandus, pohon-pohon kering dan bebatuan. Beragam satwa liar yang hidup di sini seperti, rusa, kerbau, banteng, monyet ekor panjang dan burung merak juga dengan mudah ditemui. Secara administratif Taman Nasional Baluran (TNB) termasuk wilayah Situbondo, namun jaraknya lebih dekat dari Banyuwangi, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Situbondo.

Taman Nasional Baluran terletak di Desa Wonorejo, Kec. Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Taman ini juga dikenal sebagai Africa van Java atau Little Africa, karena terdapat padang savana luas yang penuh satwa liar.  Di kawasan ini ada dua tempat yang membyat kita serasa di tengah-tengah padang savana Afrika. Yang pertama di Sadengan yang berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan yang kedua di Taman Nasional Baluran. Nama dari taman nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran. Gunung ini tampak berdiri kokoh dan menjadi latar panorama yang indah.

Taman Nasional Baluran yang memiliki luas 25 ribu hektar ini disebut sebagai miniatur hutan Indonesia. Bayangkan saja, hampir seluruh tipe hutan ada di taman nasional ini. Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan yang terdiri dari tipe vegetasi savana. Sekitar 40% diantaranya merupakan vegetasi savana. Di sini juga terdapat hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. 

Di Baluran terdapat 26 jenis mamalia, di antaranya monyet ekor panjang, burung merak, banteng, kerbau, kijang, rusa, macan tutul, dan kucing bakau. Sebanyak 155 burung juga menggantungkan hidup di hutan ini. Diantara satwa itu, Banteng (bos Javanicus) menjadi maskot taman nasional Baluran. Selain itu juga terdapat 444 jenis tumbuhan di antaranya tumbuhan asli yaitu widoro bukol, mimba, dan pilang.

Setelah melewati gerbang TN Baluran, sejauh kurang lebih 5 km kita akan memasuki kawasan hutan hijau sepanjang tahun. Kawasan ini juga lebih dikenal dengan sebutan hutan ‘evergreen’ karena selalu hijau dan tidak pernah kering. Hutan hijau ini berada di wilayah cekungan yang terdapat sungai bawah tanah. Ketika melewati evergreen, kita serasa melewati terowongan hijau karena pepohonan tampak rapat dan daunnya tumbuh lebat.

Setelah melewati hutan Evergreen, kita menuju padang savana bekol. Bekol merupakan padang yang sangat luas dan indah, apalagi dilatari dengan pemadangan gunung baluran. Saat musim hujan, Bekol akan menyuguhkan hamparan hijau dan sejuk. Namun saat musim kemarau, Bekol akan terlihat kering dan berubah warna menjadi kecoklatan. Semua tipe hutan di Baluran biasanya juga rawan kebakaran, termasuk bekol ini. Karena fenomena inilah Bekol memiliki kemiripan dengan keadaan di gurun Afrika. 

Untuk menemukan lokasi Taman Nasional Baluran sangat mudah, pintu gerbang utamanya terletak di jalan Situbondo-Banyuwangi. Jalur ini merupakan akses utama para pengendara dari Jawa Timur menuju Bali. Setiap kendaraan yang melaju dari Surabaya menuju Pelabuhan Ketapang melalui jalur pantura, sudah tentu akan melewati taman nasional ini.

(*)

Mengunjungi Kuburan Trunyan

Selain kekayaan panorama alam yang melimpah, Pulau Bali juga memiliki kekentalan budaya yang sangat terikat kuat pada masyarakatnya. Salah satu tempat di Bali yang masih memegang adat leluhur yaitu kuburan Trunyan. Di sini tersimpan banyak cerita yang tidak semua orang bisa menerimanya dengan pikiran terbuka.

Kuburan Trunyan berada di sisi timur Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali. Nyaris setiap yang datang ke sini berdiri bulu kuduknya. Tim Trip Salam Indonesia menyaksikan bagaimana jenazah-jenazah dibiarkan membusuk di atas tanah. Budaya ini berbeda dengan mayoritas masyarakat Bali. Bila pada umumnya orang-orang yang meninggal dilakukan upacara Ngaben (pembakaran jenazah), masyarakat di desa Trunyan memiliki tradisi sendiri.

Di kuburan Trunyan kita menyaksikan mayat-mayat yang dibiarkan begitu saja tergeletak di atas tanah. Mayat-mayat tersebut tidak dikubur dan hanya diberi ‘ancak saji’, yakni penutup berupa anyaman kayu berbentuk kerucut seperti segitiga sama kaki. Jika menggunakan logika, mayat-mayat tersebut tentunya mengeluarkan bau busuk yang menganggu indra penciuman. Namun di sini tidak ada bau busuk yang menyelimuti mayat-mayat tersebut. Bahkan tidak ada lalat dan hewan-hewan lain yang biasanya lazim menggerogoti tubuh jenazah.

Hal ini dipercaya karena keberadaan sebuah pohon besar tempat mayat-mayat tersebut diletakkan. Menurut cerita, dahulu kala pohon ini mengeluarkan aroma yang teramat wangi hingga tercium dari tanah Jawa.

Menurut legenda, ada empat bersaudara dari Keraton Surakarta yang terhipnotis wangi Taru Menyan yang merupakan asal nama kata ‘Trunyan’, berarti ‘pohon wangi’. Empat bersaudara itu terdiri dari tiga laki-laki dan si bungsu perempuan. Setibanya di Trunyan, sang kakak sulung jatuh cinta kepada sang Dewi penunggu pohon tersebut. Setelah direstui semua saudaranya, mereka menikah, dan Trunyan menjadi sebuah kerajaan kecil.

Karena tidak mau ada lagi yang terhipnotis dan mencium bau wangi dari pohon tersebut, maka sang raja memerintahkan untuk meletakkan jenazah orang meninggal di sekitar pohon itu. Perintah Raja untuk menghapus wangi itu juga agar kerajaannya terlindung dari serangan luar. Sejak itu tradisi tersebut diwariskan dan turun temurun hingga saat ini.

Meski zaman telah berganti, pada kenyataannya hingga sekarang tidak pernah ada bau busuk di sekitar kuburan Trunyan. Di sekitar ‘ancak saji’ terdapat benda-benda peninggalan si jenazah mulai dari, perhiasan, foto berpigura, baju, dan lainnya.

Di sini kuburan dibagi menjadi tiga lokasi untuk tiga kategori, antara lain kuburan untuk orang yang meninggal mulai dari bayi sampai yang sudah dewasa tetapi belum menikah. Kuburan Suci, untuk orang yang meninggal tetapi sudah menikah dan meninggal secara wajar.
Yang terakhir adalah Kuburan Salah Pati, untuk orang yang meninggal karena kecelakaan, bunuh diri atau tidak wajar.

Mayat yang bisa disemayamkan dekat pohon Taru Menyan tidak bisa sembarang orang. Ada kriteria khusus bagi mayat yang bisa disemayamkan di sana. Terlepas dari benar tidaknya legenda tersebut, seram atau tidaknya kuburan Trunyan, dan apakah memang tidak mengeluarkan bau busuk sedikitpun, langsung datang dan buktikan sendiri kebenarannya.

(*)

Keselarasan Kehidupan Beragama di Pura Ulun Danu Bratan

Di tepi barat laut Danau Bratan di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali terdapat sebuah Pura suci umat Hindu yang sangat terkenal di pulau Bali. Danau Bratan juga dikenal sebagai danau “gunung suci”, kawasan ini sangat subur dan beriklim sangat dingin, letak berada pada ketinggian 1.200 meter. Pura suci tersebut bernama Pura Ulun Danu Bratan atau Bratan Pura. Pura ini merupakan sebuah candi air besar yang ada di Bali.Pura Ulun Danu Bratan merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu, dewi air, danau, dan sungai sebagai pemberi kesuburan. Pura ini berfungsi untuk memuja kebesaran Tuhan untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, dan untuk keseimbangan alam semesta. Pura Ulun Danu Bratan dibangun sekitar awal dari abad ke-17.

Sejarah pura Ulun Danu Bratan ini dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan sejarah yang terdapat pada lontar babad Mengwi. Berdasarkan data yang terdapat di halaman depan Pura Ulun Danu, di sini terdapat peninggalan benda-benda bersejarah seperti sebuah sarkofagus batu dan papan batu yang diperkirakan telah ada sejak zaman megalitikum, sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Kedua artefak tersebut sampai sekarang diletakkan di halaman teras Pura Ulun Danu. Diperkirakan lokasi di Pura Ulun Danu Bratan ini telah digunakan sebagai tempat untuk mengadakan ritual sejak jaman tradisi megalitikum.

Selain didedikasikan untuk Siwa dan istrinya Parwati, Buddha pun memiliki tempat dalam kuil dewa Hindu ini. Komplek Pura Ulun Danu Bratan terdiri dari lima Pura dan satu buah Stupa Buddha. Pura Penataran Agung dapat dilihat ketika melewati Candi Bentar yang memiliki gerbang terpisah menuju Bratan. Pura ini berfungsi untuk memuja kebesaran Tuhan dalam manifestasi-NYA sebagai Tri Purusha Siwa yaitu Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, dan untuk keseimbangan alam semesta.

Di dalam Pura Dalem Purwa terdapat tiga pelinggih utama yaitu Pelinggih Dalem Purwa sebagai tempat untuk memuja Dewi Durga dan Dewa Rudra yang dipuja sebagai sumber kemakmuran, Bale Murda Manik atau Bale Pemaruman sebagai tempat untuk parum/rapat/diskusi, dan Bale Panjang sebagai tempat untuk meletakkan sarana persembahan upacara. Pelinggih yang ada di pura ini menghadap ke arah timur yang terletak ditepi selatan Danau Bratan.

 

Pura Taman Beji berfungsi untuk melakukan upacara Ngebejiang, yakni ritual penyucian sarana upacara, dan untuk memohon Tirta atau air suci. di Pura Taman Beji ini juga berfungsi sebagai tempat untuk Melasti bagi masyarakat sekitar dan penduduk setempat. Melasti adalah Upacara pembersihan dan penyucian oleh umat Hindu di Bali

Pura Lingga Petak sering disebut dengan Pura Ulun Danu Bratan. Gambar Pura ini juga terdapat pada lembaran uang kertas pecahan Rp. 50,000. Di dalam Pura Lingga Petak ini terdapat sebuah sumur suci dan keramat yang menyimpan Tirta Ulun Danu, Air Suci Ulun Danu. Di pura ini juga terdapat sebuah Lingga yang berwarna putih yang diapit oleh batu merah dan batu hitam. Pura Lingga Petak ini dipercaya sebagai sumber utama air kesuburan dari Danau Bratan. Ada dua pelinggih di sini, yaitu pelinggih yang memiliki atap/tumpang sebelas (Pelinggih Meru Tumpang Solas) menghadap ke arah selatan, dan pelinggih yang memiliki tiga tumpang/atap (Pelinggih Meru Tumpang Telu) yang masing-masing pintu nya menghadap ke empat penjuru arah mata angin. Di bawah sebuah pohon beringin besar terdapat Pura Prajapati. Pura ini berfungsi sebagai tempat berstananya Dewi Durga.

Adanya Stupa Budha di kawasan Pura Ulun Danu Bratan ini menandakan keselarasan dalam kehidupan beragama. Stupa Budha ini menghadap ke arah selatan yang berlokasi diluar dari area utama dari komplek Pura Ulun Danu Bratan.

 

Berdasarkan Babad Mengwi, pendiri Kerajaan Mengwi I Gusti Agung Putu telah mendirikan pura yang berada di ujung danau Bratan sebelum beliau mendirikan pura Taman Ayun. Dalam lontar Babad Mengwi tidak dijelaskan kapan tepatnya beliau mendirikan Pura Ulun Danu Beratan, tetapi dijelaskan tentang pendirian pura Taman Ayun dan upacaranya pada hari Anggara Kliwon Medangsia, tahun Çaka 1556 (tahun 1634 setelah Masehi). Berdasarkan dari deskripsi Babad Mengwi tersebut diketahui pura Ulun Danu Bratan didirikan sebelum tahun Saka 1556 oleh I Gusti Agung Putu. Sejak pendirian pura tersebut, kerajaan Mengwi menjadi tenteram dan sejahtera dan masyarakat pun menjuluki beliau “I Gusti Agung Sakti”.

 

Pemandangan yang sangat menakjubkan adalah saat air danau Bratan ini sedang pasang, maka pura Ulun Danu akan terlihat seperti mengambang di atas air. (*)

Air Terjun Banyumala

Banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di air terjun, salah satunya adalah berenang. Namun sebelumnya harus dipastikan dulu apakah air terjun tersebut aman. Meskipun bisa berenang tidak menjamin keselamatan, karena banyak juga air terjun yang berbahaya, misalnya derasnya debit air yang jatuh akan membuat sebuah cekungan dalam yang bisa membuat kita tersedot ke dalamnya. 

 

 

Kabupaten Buleleng, Bali dikenal sebagai surganya air terjun, karena memang sebagian besar air terjun di Bali berada di kawasan ini. Hampir 90% objek wisata di Buleleng adalah air terjun. Salah satu air terjun terbaik yang didatangi Tim Trip Salam Indonesia adalah air terjun Banyumala. Selain memilki panorama yang indah, di sini kita juga bisa menikmati air terjun secara langsung. Air terjun Banyumala memiliki kriteria aman untuk melakukan aktivitas air seperti berenang. Bisa dibilang air terjun ini merupakan salah satu air terjun terbaik di Pulau Dewata.

 

 

Airnya yang sangat jernih dan tenang membuat Tim Trip Salam Indonesia merasa aman untuk berenang di dalamnya. Kejernihan airya dibuktikan dengan melihat langsung dasar kolam yang titik terdalam bisa mencapai kedalaman dua meter. Kolam untuk berenang ini kira-kira berdiameter mencapai 20 meter. Bentuknya yang bulat membuat ruang untuk banyak orang berenang di sini. Bagi yang tidak bisa berenang pun bisa menikmati kolam air terjun dari sisi kolam, atau sekalian bisa belajar berenang di sini.

 

 

Kolam yang berada tepat di bawah air terjun Banyumala ini terbentuk secara alami, dan kolam inilah yang membuat air terjun ini menjadi sangat menyenangkan. Letak air terjun Banyumala berada di dasar sebuah lembah dengan tiga sisi air terjun dan yang terbesar dan tertinggi berada tepat di tengahnya, kemudian air terjun yang lebih kecil berada di kanan dan kiri.

 

 

Sangat mudah untuk menemukan air terjun ini. Dari Bedugul menuju ke arah utara hingga sampai pertigaan antara Kecamatan Busung Biu dan Kota Singaraja, lalu ke arah kiri tepat pada jalan utama di atas danau Buyan dan Tamblingan. Jika membawa kendaraan roda empat, kendaraan perlu diparkirkan agak jauh karena akses jalan yang terus menyempit. Dari tempat parkir, ada jalan setapak lagi dan mengharuskan kita berjalan sampai pos tiket. Hanya perlu membayar sebesar Rp 20ribu untuk memasuki area air terjun. Setelah itu masih harus melewati jalan yang lebih kecil dengan tangga-tangga buatan yang curam. Setelah berjalan kaki sekitar satu jam, perjalanan yang melelahkan akan terbayar sesampainya di Air Terjun banyumala. Byuuuurrr….

 

 

 

 

(*)

Satu dari 20 Danau Terindah di Dunia ada di Bali

Kawasan Bedugul memiliki aset keindahan alam yang istimewa. Tepatnya di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali ada beberapa danau. Satu di antaranya adalah Danau Bratan yang terletak di antara dua danau lainnya yaitu Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Danau ini merupakan gugusan danau kembar di dalam sebuah kaldera besar. Karena terbilang cukup istimewa, di tepian Danau Bratan inilah, Tim Trip Salam Indonesia mendirikan
tenda dan bermalam.

 

 

Di sisi timur danau ini terdapat sebuah gunung bernama Gunung Catur, orang Bali biasa menyebutnya Pucak Mangu. Lokasi ini menjadi tempat yang sangat bagus untuk hiking. Bagi yang suka main air, di kawasan danau Beratan juga terdapat permainan air seperti parasailing, kano, hingga jetski. Memang danau ini sangat cocok untuk penyuka wisata air.
Menuju Danau Bratan sangat mudah, di samping mudah dijangkau karena berada di jalur jalan provinsi yang menghubungkan Denpasar-Singaraja, tidak jauh dari kawasan danau juga terdapat tempat wisata yang menarik lainnya, yakni kebun raya Eka Karya Bedugul, pasar buah dan sayur-sayuran Bedugul, danau Buyan dan danau Tamblingan.
Danau Bratan adalah danau terluas dan terbesar kedua setelah danau Batur di Bali. Luas Danau Bratan kira-kira 375.6 hektar dengan kedalaman antara 22-48 meter dengan luas keliling kurang lebih 12 km. Fungsi danau ini juga sangat penting sebagai sumber utama irigasi di daerah bagian tengah pulau Bali.

 

 

Hal menarik lainnya dari Danau Bratan adalah terdapat Pura Ulun Danu. Bagi umat Hindu, Pura ini merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu sebagai pemberi kesuburan. Pura ini berfungsi untuk memuja kebesaran Tuhan untuk memohon anugerah kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan manusia, dan untuk keseimbangan alam semesta. Pura Ulun Danu Beratan dibangun sekitar awal dari abad ke-17, letaknya ada di bagian ujung dari Danau Bratan.

 

 

Danau Bratan merupakan tujuan wisata terbaik yang biasa dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun domestik, segarnya udara pegunungan dengan pemandangan danau, pura dan gunung yang indah, jauh dari kebisingan kota. Saat matahari tersebut, Pura Ulun Danu Bratan memiliki pemandangan yang sangat indah, terlebih dengan adanya kabut yang menyelimuti bagian dari gunung. Pantulan bayangan dari pura Ulun Danu pun terlihat sangat menakjubkan dari permukaan air danau Beratan. Tak heran jika Danau Bratan adalah salah satu dari 20 danau terbaik dan terindah di dunia.

 

 

 

(*)