Moke: Simbol Adat, Pergaulan dan Persaudaraan Masyarakat Flores

Hampir seperti Pohon Kelapa, dari ujung satu hingga ke ujung yang lain dari pohon Enau (palem) dan Siwalan (lontar) bisa kita manfaatkan. Satu di antaranya untuk membuat minuman tradisional yang disebut Moke, yang kalau di Jawa biasa dikenal dengan legen. Moke adalah minuman khas dari Flores yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh banyak kalangan. Moke dipercaya memiliki khasiat menyehatkan dan menghangatkan tubuh.

Banyak masyarakat di Desa Legelapu, Kecamatan Aimere, NTT membuat moke sebagai mata pencarian pokok. Satu di antaranya adalah Hasper, pria yang berusia hampir 50 tahun ini telah membuat moke sejak beberapa generasi silam. Proses pembuatannya masih tradisional yang diwariskan secara turun temurun dan masih dilakukan sampai sekarang.

Moke sendiri ada dua jenis, yang pertama moke putih yang ketika baru diturunkan dari pohon rasanya manis, dan setelah di fermentasi selama 2-3 hari, rasanya menjadi kecut. Jenis yang kedua adalah moke arak yang dibuat dari moke putih yang difermentasi, kemudian dimasak, dan disuling untuk diambil kadar alkoholnya. Dengan melakukan penyulingan akan menghasilkan moke berkualitas no 1 dengan kadar alkohol paling tinggi.

Setelah dimasak dengan tungku dan kayu bakar, alkohol yang sifatnya lebih ringan dari air akan cepat menguap. Uap bening itulah yang kemudian disebut Sopi. Semakin panjang bambunya, maka akan semakin kuat kadar alkoholnya. Selain sopi, masih banyak varian minuman lain yang diolah menggunakan campuran rempah, jahe, dll.

Moke sangat mudah ditemui, mulai di berbagai sudut kota hingga di pelosok desa. Harganya berbeda tiap level, untuk yang terendah level/kelas 3 per botol sedang harganya Rp.10.000, kelas 2 Rp.25.000, kelas 1 Rp. 50.000, dan kelas super Rp. 100.000. Anak muda di Aimere memiliki tradisi minum moke, terutama ketika berkumpul atau menjamu teman yang datang. Di sini tidak ada moke yang dioplos dengan minuman lain, semua murni dari pohonnya.

Moke dengan kualitas terbaik biasa disebut BM atau bakar menyala. Moke ini biasanya disajikan pada acara-acara adat. untuk pembuka forum-forum adat, moke dan sopi juga biasa disajikan. Setelah berumur 17 tahun, seseorang boleh minum moke dan diberikan hak bersuara mengutarakan pendapatnya dalam forum-forum adat.

Semua upacara dari pemerintahan seperti pelantikan kepala desa, hingga acara rumahan; kawinan, sunatan, dll selalu ada moke. Hal ini sudah jadi tradisi wajib. Pada setiap acara biasanya sudah sudah ada seksi penanggung jawab moke.

Selain menjadi syarat wajib upacara adat, minuman tradisional warisan leluhur ini mempunyai khasiat yang berbanding terbalik dengan ‘image’nya, yaitu mengobati bayi. Mereka biasa memberi bayi yang sakit atau rewel dengan tiga tetes moke, lalu mengolesi perutnya dengan sopi.

 

Sebuah tradisi yang diwariskan memang bukan tanpa alasan. Namun tradisi itu akan terputus dengan sendirinya jika tidak disepakati, sedangkan kesepakatan terjadi karena diangap benar. Itulah inti kebudayaan. Di luar fungsi dan tujuannya, sebenarnya adalah penyalahgunaan belaka. Para pembuat moke dan sopi di Aimere Flores ini berharap sekali agar ada aturan Perda, seperti Bali dengan araknya.

Moke adalah simbol adat, persaudaraan dan pergaulan bagi masyarakat Flores. Jika moke dan sopi menghilang, maka upacara adat juga pasti menghilang, aset budaya pun berkurang. Di saat itulah identitas kita akan mudah tergantikan dengan budaya asing.

Moke dan Sopi adalah aset Indonesia, Warisan asli bangsa Indonesia.

Salam Indonesia! (*)

 

Wae Rebo, Desa Terindah di Indonesia

Di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, terdapat sebuah desa yang dikenal sebagai surga di atas awan, namanya Wae Rebo. Di desa tersebut hanya ada tujuh rumah adat yang memiliki arsitektural tradisional yang sangat unik. Bentuknya kerucut, dan terbuat dari kayu dengan atap dari ilalang yang dianyam. Hingga kini Desa Wae Rebo telah bertahan selama 20 generasi. Desa ini terletak di barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Untuk bisa sampai ke Desa Wae Rebo memang tidak mudah dan perlu perjuangan.

Tim Trip Salam Indonesia berencana menginap di Desa Wae Rebo, namun karena hari sudah terlalu malam, akhirnya tim menginap di Desa Cepang. Pagi harinya Tim Trip Salam Indonesia memulai perjalanan ke Desa tersebut. Setelah memarkir mobil di kaki gunung, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai. Tim diharuskan berjalan kaki melintasi jalan yang mendaki sejauh tujuh km. Namun saat ini perjalanan yang seharusnya ditempuh selama empat jam, bisa dilalui hanya dengan tiga jam. Kita bisa menghemat satu jam dengan menggunakan ojek.

Selain lintasan menanjak, dan hawa yang sangat dingin, di sepanjang perjalanan juga banyak lintahnya, jadi harus rapat semuanya. Saat Tim Trip Salam Indonesia menelusuri jalan tersebut, cuaca agak kurang bersahabat, di antaranya kabut tebal dan gerimis yang membasahi medan menanjak. Menurut warga, sehari sebelumnya terjadi tanah longsor, yang mengakibatkan longsoran di tiga titik, karena itu harus ekstra hati-hati untuk melaluinya.

Karena masih asri dan belum banyak terjamah modernisasi, air sungainya sangat jernih, tim sempat berhenti untuk minum dan membawa airnya untuk di perjalanan. Ada tiga pos sebelum mencapai Desa Wae Rebo, yang pertama di jembatan setelah turun dari ojek, pos dua ada di pertengahan, dan pos tiga berada tepat di depan pintu masuk Desa Wae Rebo. Di pos tersebut ada kentungan, dan selalu ditabuhkan sebagai tanda jika ada tamu yang akan masuk.

Setibanya di sana, rasa letih dan pegal-pegal hilang seketika dan terbayar dengan pemandangan alam dan budaya masyarakat yang menakjubkan. Hati merasa damai melihat rumah adat yang dinamakan ‘Mbaru Niang’. Bentuknya yang kerucut itu memang memiliki filosofi tersendiri, yakni perdamaian.

Selain rumah adat yang menjadi daya tarik, kehidupan masyarakatnya juga tak kalah menarik untuk diketahui. Sebagian masyarakat Desa Wae Rebo aktif bertani, sedangkan para wanitanya membuat tenun. Setiap keluarga punya rumah utama, dan sebagaimana tradisi di Flores, setiap tamu yang baru tiba harus ‘sowan’ ke rumah utama untuk bertemu Kepala Suku. Semua tim masuk, melepas sepatu, dan duduk melingkar. Michael yang merupakan anak kepala suku mulai bercerita tentang Desanya.

Tim Trip Salam Indonesia disuguhkan makanan yang mereka masak. Tim juga mencicipi kopi yang juga hasil tanam sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah petani kopi. Adalah seseorang yang berasal dari Bandung memutuskan untuk tinggal di Desa Wae Rebo selama empat tahun. Ia mengajar bagaimana menanam kopi yang baik dan benar. Kini orang tersebut telah diberi tanah untuk tinggal di sana. Sebelum diijinkan kepala suku, tim tidak boleh merekam apapun.

Rumah utama yang didatangi Tim Trip Salam Indonesia ini juga menjadi tempat untuk berembuk dan menyelesaikan masalah. Sesuai arsitekturnya, segala sesuatunya dimusyawarahkan di rumah ini hingga ‘mengerucut’ dan menjadi satu kesimpulan. Di rumah kerucut yang diperuntukan bagi tamu, dapurnya dibuat terpisah. Ini menjadi salah satu bukti bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan para tamu yang datang. Hal ini karena banyak tamu yang terganggu akan asapnya, padahal jika kita duduk saja, kita tidak akan terkena asap.

 

Sedangkan di rumah lainnya, letak dapur berada di tengah untuk tempat makan bersama, asapnya juga bisa dimanfaatkan sebagai pengawet kayu di rumah tersebut. Rumah-rumah ini memiliki lima lantai dengan tinggi sekitar lima meter. Setiap lantainya memiliki fungsi yang berbeda. Tingkat pertama untuk tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga, tingkat kedua untuk menyimpan bahan makanan, tingkat ketiga untuk menyimpan benih pangan, tingkat keempat untuk menyimpan stok pangan saat kekeringan, dan tingkat kelima untuk tempat persembahan leluhur. Jika ingin menginap, kita juga bisa menumpang di rumah adat ini.

Desa Wae Rebo merupakan sebuah tempat yang bersejarah sehingga dinobatkan menjadi situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2012 lalu. Tak heran jika Wae Rebo disebut sebagai desa terindah di Indonesia. (*)

Komodo Saudara Kita

 

 

Di ujung paling barat Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat terdapat Pulau Komodo. Di Pulau inilah ribuan hewan yang menyerupai kadal raksasa ini hidup dan berkembang biak dengan baik. Selain dikenal sebagai habitat asli hewan komodo, di pulau ini juga terdapat Suku Modo, yang lebih dikenal dengan sebutan ‘orang komodo’. Mereka sudah mendiami Pulau Komodo sejak dahulu kala, uniknya lagi, mereka terbiasa hidup berdampingan dengan hewan yang dijuluki ‘cucu naga’ tersebut.

Tim Trip Salam Indonesia menemui seorang legenda lokal bernama Alfonsus Hana. Ia merupakan seorang guru pertama yang mengajar di Pulau Komodo. Pak Alfonsus yang dikenal dengan nama Guru Sus inilah, yang melalui mimpinya, telah menemukan mata air di Gunung Kelimutu, di sana terdapat danau yang memiliki tiga warna. Mata air temuannya tersebut kemudian mampu mengairi seluruh pegunungan. Guru Sus tinggal di Pulau Komodo dan sangat dihormati. Meskipun seorang pendatang, ia mampu berbahasa modo, bahasa asli yang menyerupai bahasa Manggarai. Di Pulau ini terdapat banyak suku, di antaranya Sumba, dan Bugis. Orang Komodo bisa berbahasa semua suku, namun tidak ada orang luar yang bisa berbahasa komodo kecuali Guru Sus ini.

Guru Sus juga bercerita bahwa ia sempat bertemu dengan Suku Komodo yang asli, sebelum mereka punah. Menurutnya Suku asli Komodo memiliki telinga yang besar dan agak lancip, mereka juga memiliki hidung yang besar. Suku Komodo satu-satunya yang ia temui punah karena proses melahirkan yang sangat mengerikan. Pada zaman dulu, jika akan melahirkan, para wanita menyadari dan siap meninggal dunia karena proses persalinan yang tragis. Bayangkan setiap melahirkan anak, sang ibu harus rela mati karena dibelah perutnya. Sementara itu sang bapak diharuskan bersemedi ke hutan sepanjang proses kelahiran dan kematian tersebut.

Hingga pada suatu ketika ada seorang dari suku Sumba yang terdampar di sana. Ia mencoba membantu sebuah proses persalinan, dan akhirnya berhasil menyelamatkan anak dan ibunya. Ketika sang suami pulang dari semedi, betapa merasa senangnya ia mendapati anaknya lahir dan istrinya tetap selamat. Ia pun bersyukur sambil menangis haru. Sejak itulah di sana diadakan perayaan. Suku Sumba pun dianggap sebagai pahlawan dan dipersilakan tinggal di sana. Hingga saat ini teknik persalinan masyarakat Komodo sudah berjalan normal.

Banyak versi cerita mengenai legenda Pulau Komodo. Kepada Tim Trip Salam Indonesia, Guru Sus bercerita bahwa zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki dua anak. Karena cenderung pilih kasih, akhirnya salah satu anak merasa kurang diperhatikan, dan dipandang sebelah mata. Anak yang berjenis kelamin perempuan tersebut kemudian lebih memilih untuk mengasingkan diri di hutan, hingga akhirnya berubah menjadi komodo. Hutan itupun kemudian dinamakan Pulau Komodo.

Ada beberapa cerita yang membuktikan komodo tersebut merupakan saudara orang Flores. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika komodo disakiti, atau dipukul kepalanya, maka yang memukul akan merasakan rasa sakit yang sama. Bukan hanya itu, satu orang di antara mereka bakal dirasuki arwah komodo untuk menjadi mediator. Ia akan kesurupan, dan bicara dengan bahasa Komodo, yang artinya “kenapa kamu pukul kepalaku?”, kemudian yang memukul akan minta maaf, tapi jika komodo mau memaafkan, maka ia akan sembuh, dan jika tidak, maka ia bakal mengalami sakit terus menerus.

Ada satu cerita yang terkenal di masyarakat, tentang sebuah keluarga yang memiliki bayi. ketika sang bapak sedang pergi kerja, dan sang ibu pergi ke pasar, tiba-tiba ada komodo masuk ke dalam rumah dan tidur di samping bayi mereka. Ketika pulang, sontak sang bapak kaget melihat komodo yang tidur di sebelah anaknya. Tiba-tiba ada seseorang dari suku Bugis yang pandai silat dan ingin menjadi pahlawan, komodo tersebut dipukulinya, Karena kaget melihat bayi tersebut menangis, si bapak dan komodo tersebut keluar. Setelah dipukul, komodo tersebut lari ke hutan, sedangkan yang memukul langsung sakit seketika, bahkan punggungnya berdarah-darah. Kemudian sang ibu dari bayi tersebut kesurupan dan bicara dengan bahasa komodo, “kenapa kamu memukulku, padahal aku ini sedang menjaga anakmu. Anakmu lagi tidur dan aku jagain, kok malah aku yang digebukin?” orang yang pandai silat tersebut pun meminta maaf, dan setelah dimaafkan sakitnya sembuh seketika.

Cerita selanjutnya adalah tentang dua orang yang masuk ke hutan, dan tiba-tiba kaget melihat ada komodo lewat di hadapannya. Satu di antara mereka spontan melempar batu hingga mengenai mulut komodo. Setelah sekitar lima menit, mulutnya pun berdarah, Si pelempar batu tersebut bernama Haji Salim, dan salah satunya adalah Guru Sus, yang merupakan sahabatnya. Setelah sampai di rumah, Haji Salim kaget bukan main ketika di depan cermin mendapati mulutnya mencong. Tiba-tiba istri beliau kesurupan, ‘Kamu kenapa melempar batu ke mulutku?’ tanyanya dengan bahasa komodo. Ia pun meminta maaf, namun sayang maafnya tidak diterima, dan hingga saat ini mulut Haji Salim pun ‘perot’ alias mencong sebagaimana komodo yang dilempar batu olehnya.

Ada juga cerita tentang anak-anak di sana yang sangat akrab dengan komodo, hingga ketika pertama kali Guru Sus datang mengajar di sana, ia sangat kaget dan takut melihat kedekatan anak-anak tersebut dengan komodo. Dengan riangnya mereka bermain bersama komodo. Sambil anak-anak tersebut tiduran, seekor Komodo menaiki tubuhnya, dan sebagian teman-temannya menarik-narik buntut komodo. Guru Sius pun panik, dan anak kecil tersebut berkata “kenapa pak guru panik? mereka ini kan saudara kita!”

Masyarakat suku komodo dan komodo memang terlihat sangat akrab sekali seperti saudara. Bahkan anak-anak tersebut memberi tips pada Guru Sius, selain tidak usah merasa takut, jika tiba-tiba bertemu komodo, langsung saja bilang “Sebai!” maka seketika komodo tersebut diam. Pada suatu ketika Guru Sus masuk hutan dan semua komodo menurut ketika ia berkata “Sebai!” yang dalam bahasa komodo artinya adalah ‘teman’.

Masyarakat sekarang memang masih percaya, dan ada juga yang sudah tidak percaya lagi dengan kisah-kisah tersebut. Namun bagaimanapun kebenarannya, komodo merupakan saudara kita. Selain menjadi hewan yang paling dilindungi di dunia, komodo juga memiliki kisah kearifan lokal sendiri yang patut dilestarikan. Masyarakat di Pulau Komodo memperlakukan komodo dengan baik, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Komodo bebas berkeliaran untuk memangsa babi hutan, rusa serta binatang liar lainnya. Jika ada komodo yang sudah tidak bisa mencari mangsa sendiri, mereka diberi makan oleh saudara mereka, yakni kita, manusia.

“Sebai, Salam Indonesia” (*)

Flores: Pulau Bunga atau Pulau Ular?

Labuan Bajo merupakan Kota kecil di pinggir pantai paling barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Potensi wisata di Labuan Bajo bukan hanya Pulau Komodo yang sudah terkenal dimana-mana. Di sini juga banyak sekali tempat yang bisa di eksplorasi keanekaragaman budaya, alam, dan wisatanya. Banyak banget turis-turis asing yang melancong ke pintu gerbang pulau komodo ini. Apalagi di sini juga banyak terdapat spot-spot untuk diving. Tim Trip Salam Indonesia berlabuh di pulau ini setelah hampir 36 perjalanan dari Surabaya.

 

Suku yang berada di kepulauan Flores merupakan percampuran antara etnis Melayu, Melanesia, dan Portugis. Selain Pulau Timor, Pulau Sumba dan Kepulauan Alor, Pulau Flores merupakan empat pulau besar di Nusa Tenggara Timur. Setiba di Flores, Tim Trip Salam Indonesia berusaha mencari tahu tentang pulau ini dan asal-usul ceritanya.

Karena pernah menjadi koloni Portugis, maka tak heran jika Flores identik dengan kebudayaan Portugis. Bahkan nama Flores ini sebenarnya merupakan pemberian orang-orang Portugis. Saat pertama datang ke sini, mereka melihat pantainya penuh dengan bunga. Orang Portugis mengatakan “Cabo das Flores” yang berarti “Tanjung Bunga”. Lalu apa nama asli pulau ini sebelum kedatangan orang-orang Portugis?

Sebelumnya Pulau Flores masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit. Gajah Mada dikatakan pernah mendatangi pulau ini, bahkan masyarakat Lembata percaya bahwa mahapatih Majapahit itu tinggal cukup lama di Lembata dan meninggalkan sebilah keris di sana.

Nama Flores yang sudah dipakai hampir empat abad ini tidak mencerminkan kekayaan yang dikandung oleh pulau ini. Karena itu, lewat studi yang mendalam pada tahun 1969, Orinbao mengungkapkan bahwa penduduk lokal telah memiliki nama untuk pulau ini, yakni Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.

Tak heran jika nama Nusa Nipa terasa bernuansa “Majapahit”, sama seperti nama-nama pulau lain, misalnya Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan lain-lain. Lalu, mengapa masyarakat lebih memilih Flores sebagai nama resmi yang digunakan saat ini?

Padahal menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri, nomor 30 tahun 2012, tertulis bahwa pemberian nama daerah, memperhatikan prinsip-prinsip penamaan yang di antaranya meliputi penggunaan nama lokal/daerah, dan menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Peraturan tersebut berarti nama-nama daerah yang ada di Indonesia tidak boleh menggunakan nama asing, kenapa bukan Nusa Nipa yang digunakan?

Tim Trip Salam Indonesia percaya bahwa masyarakat mempunyai beragam persepsi, dimana cara pandang kita mesti berbeda dengan orang yang melihat dari sisi lain. Disebut Nusa Nipa atau Pulau Ular karena ada yang mengatakan sebab pulau ini (dulunya) dihuni banyak ular. Sedangkan ada masyarakat yang mengamini nama Nusa Nipa karena bentuknya seperti Ular, meski di jaman itu, nenek moyang kita belum punya drone atau pesawat terbang. Kita yang datang ke sini pun langsung ikut mengamini asal-usul nama tersebut. Perihal kebenarannya itu jadi nomor dua.

Budaya adalah sesuatu yang telah disepakati dan diamini bersama secara turun temurun, maka tak ada masalah juga jika masyarakat tetap menamai pulau ini, Flores. Meski tidak lagi digunakan sebagai nama pulau, sekarang Nusa Nipa dipakai sebagai nama sebuah universitas di Maumere, hal ini agar masyarakat Flores tidak lupa akan sejarahnya.

Salam Indonesia! (*)

Makan Tanah, Tradisi yang Nyaris Punah di Tuban

Di dalam sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu, Mbah Mar dan Mak Pi amat telaten membuat ampo. Kuliner unik di daerah yang berada di pesisir pantai utara Jawa Timur ini merupakan warisan turun-temurun sejak beberapa generasi. Makanan tradisional masyarakat di Tuban ini nyaris punah, karena tidak banyak lagi orang yang mengonsumsinya. Bagaimana tidak, menu camilan ini terbuat dari tanah liat murni yang diambil dari sawah.

Sebelum bertolak ke Indonesia timur, Tim Trip Salam Indonesia mendatangi Dusun Trowulan, tepatnya di Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Jalan menuju Desa Bektiharjo tidak terlalu sulit. Hanya sekitar lima kilometer dari pusat kota.

Mbah Mar dan Mak Pi merupakan generasi ke lima pembuat ampo di dusun tersebut. Keluarga ini juga menjadi satu-satunya pembuat ampo di desanya. Mak Pi adalah putri kedua dari lima bersaudara, sedangkan saudaranya yang lain tidak ada yang bisa membuat ampo. Karena sudah tidak lagi memiliki tanah, perempuan kelahiran 1979 ini menyewa tanah yang ada.

Tanah tersebut memiliki multifungsi, saat musim hujan dan air tergenang Mak Pi menanam padi, sedangkan saat kering, tanah tersebut dimanfaatkannya sebagai bahan ampo. Tanah liat yang sudah dipilih dibawanya pulang ke rumah, lalu ditempatkan di ruang kedap cahaya. Tentunya agar tanah tersebut tetap lembab dan tidak kering.

Menurut Mak Pi tidak ada resep khusus untuk memasaknya. Ia hanya mencari dan memilih tanah bersih yang bebas dari kerikil. Tanah pilihan tersebut lalu ditumbuk dan dipadatkan sehingga menjadi adonan berbentuk segi empat. Kemudian adonan tersebut dikikis dengan stik dan membentuknya seperti gulungan.

Mak Pi tidak menggunakan api yang menyala untuk proses pembakarannya, ampo hanya perlu diasapi untuk menimbulkan bau sangit. Sebelum proses membuat ampo, Mak Pi telah menyimpan banyak stok kayu bakar di rumahnya. Total pembuatannya hanya memakan waktu dua jam. Setelah siap dikonsumsi, ampo tersebut ia jual di pasar baru Tuban dengan harga Rp 10 ribu/kg.

Kini yang mengonsumsi ampo kebanyakan adalah para orang tua dan wanita hamil yang sedang ngidam. Menurut cerita, karena sudah menikmatinya sejak kecil, banyak orang tua di sini yang bisa lemas jika tidak makan ampo. Selain dikonsumsi, ampo juga menjadi keperluan dalam membuat sesajen. Biasanya sesajen tersebut disajikan untuk mengobati orang kesurupan, sunatan, selametan kelahiran sapi, perayaan panen padi, dan sebagainya.

Kebiasaan makan tanah ini biasanya dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tropis dan hangat. Tidak hanya di Tuban, sebenarnya tradisi ini banyak dimiliki oleh masyarakat di berbagai belahan dunia, terutama para ibu hamil. Seperti di Tanzania dan negara Afrika lain, 30 hingga 60 persen ibu hamil pernah makan tanah atau kotoran lainnya.
Begitu juga di Cirebon, Jawa Barat, tanah yang biasanya menjadi bahan dasar keramik bisa diolah menjadi makanan tradisional yang banyak diminati dan sulit dicari.

Meski secara medis tradisi makan tanah ini tidak higienis, namun ada juga penelitian yang dilakukan para ilmuwan bahwa keinginan untuk makan tanah liat ternyata sudah ada sejak lama, dan disebut dengan geophagy.

Keinginan ini biasanya sering dialami oleh perempuan di awal masa kehamilannya atau pada anak-anak. Setelah diteliti ternyata tanah liat atau lempung tersebut memiliki efek menyamankan perut dan membantu melindungi pelakunya dari virus dan bakteri.

Sera Young dari Cornell University, New York, AS, yang meneliti tentang geophagy menjelaskan bahwa tanah liat juga bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen dan virus. Sehingga lempung yang dimakan itu bisa menjadi semacam pelindung, semacam masker lumpur untuk usus kita. Selain itu khasiat dari tanah, jika mengandung banyak karbon, bisa digunakan sebagai pencuci perut dan menyerap racun racun yang ada di usus.

Sebagian masyarakat Tuban percaya bahwa ampo bisa menguatkan sistem pencernaan, mengobati penyakit panas dalam, gatal-gatal. Mereka memakainya dengan cara dicelupkan hingga mencair lalu diminum, ada juga yang dioleskan.

Terlepas dari masalah kedokteran, dan kesehatan yang masih menjadi perdebatan, tradisi ini merupakan budaya turun temurun yang hampir punah. Tim Trip Salam Indonesia juga menelusuri sepanjang desa dan menemukan bahwa banyak warga biasa dan anak muda yang sudah tidak lagi memakan ampo.

Karena itu Tim Trip Salam Indonesia merasakan adalah rasa syukur yang mendalam. Sebab menurut sejarahnya, pada zaman penjajahan Belanda masyarakat di Tuban susah mencari makanan, kemudian mereka menemukan sarang rayap, kemudian dibersihkan, diangkut, lalu diletakkan di tungku. Ternyata setelah diasapi ada bau yang enak, akhirnya menyebarlah ke masyarakat kalau tanah bisa di makan.

Tim Trip Salam Indonesia bersyukur saat ini bisa makan enak, sedangkan orang-orang tua kita dulu, justru hanya dengan makan ampo yang terbuat dari tanah, rasanya sudah nikmat sekali.

Salam Indonesia! (*)

 

10 Tips Saat Soekamti Day

Menonton konser musik memang menjadi hal yang sangat menyenangkan, apalagi perginya bersama teman-teman atau pacar. Tapi sebelum kalian memutuskan untuk berangkat berpesta sekuat tenaga bersama Endank Soekamti, ada 10 hal yang harus diperhatikan:

Informasi: Serap info sedetail-detailnya, lokasi dimana, harga tiket berapa, lalu sebarkan informasi ini kepada teman-temanmu yang belum tahu.

Atur Rencana: Kita harus membuat rencana pergi dengan siapa, naik apa, jika menginap pastikan tempat menginapnya.

Pamit dengan keluarga: Hal ini penting untuk menghidari berita-berita anak hilang dengan alasan menonton konser Endank Soekamti.

Packing dan Eksis: Ada beberapa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat Soekamti Day, selengkapnya ada di bawah artikel ini. Jangan lupa juga eksis di sosial media bahwa kalian akan bersenang-senang di Soekamti Day.

Berdoa dan Hati-hati di jalan: nah, yang ini jangan sampai kelupaan, jaga keselamatan selama perjalanan dan jangan sampai lupa makan sebelum konser.

Tertib dan Antri: sesampainya di venue jangan lupa untuk hal ini, meskipun konsernya digelar tanpa tiket alias ngantri, kita tetap harus tertib dan mengantri

Mampir ke booth merch: dukung band kesayangan kamu dengan membeli original merchandise nya, selain itu juga ada kotak donasi untuk proyek Endank Soekamti lainnya. Di booth ini kalian juga bisa saling berkenalan dengan kamtis-kamtis lainnya

Bertukar Contact dan Kenang2an: setelah saling berkenalan, kalian juga bisa menjalin silaturahmi lebih dekat lagi. Bahkan bisa jadi kalian malah ketemu jodoh, lho…;p

Saling Menjaga dan Melindungi: Berhati-hati kalau sedang berpogo ria jangan sampai memukul teman-temannya, usahakan tangannya dibuka, jangan mengepal. untuk para wanita diberi tempat di paling depan. Kalau ada yang mencoba provokasi atau copet, tangkap dan telanjangi.

Have Fun!

Nah,kita ada beberapa tips tentang apa Yang boleh dan tidak boleh dibawa saat konser. Biar apa? Biar keamanan konser selalu terjaga, dan bakal ada konser-konser seru lain lagi yang bakal diselenggarakan karena kita sebagai penonton bisa menjanjikan suasana yang aman.

Yang Boleh:

1.Bendera
Bendera itu bikin suasana konser makin meriah.. Selain itu, bendera juga berguna sebagai pengganti payung agar tidak kepanasan atau kehujanan.. Tapi inget, ini konser music, jadi nggak boleh bawa bendera tim bola, bendera partai, dsb. Dan inget, usahain bendera yang kalian bawa itu, jangan sampai mengganggu penonton yang lain ya!

2.Pacar
Pacar juga salah satu yang bisa membuat konser tambah asik dan meriah saat menonton konser, apalagi saat lagu yang sedang dimainkan itu lagu favorite kalian pasti suasananya menjadi sangat asik. Dan jangan sampe salah membawa pacar orang ya!

3.Air minum
Ini hal yang paling penting yang harus di persiapkan saat menonton konser, agar saat kalian kehausan saat nyanyi dan nge-dance mengikuti alunan musik tidak perlu pergi mencari minum. Air minum yang kita rekomendasikan adalah air putih atau minuman yang bisa membantu memulihkan stamina. Jangan membawa minuman keras, karena minuman keras itu sifatnya panas, sedangkan kondisi gig pastinya udah panas. Ntar endingnya suasana hati ikut panas. Rusuh deh.. Inget ya! Rusuh pas konser itu sifat penonton kampungan.

4.Kamera
Kamera juga salah satu yang wajib di bawa saat konser, kamera bisa mengabadikan moment musisi kesayangan kita saat manggung bisa juga untuk mengambil foto cewek atau cowok cakep yang sedang nonton konser. Kalo nggak punya kamera digital, kalian boleh pake kamera di handphone. Yang penting jangan make kamera di tablet atau webcam laptop karena itu bisa menutupi pandangan para penonton di belakang kalian.

Yang tidak boleh:

1.Senjata tajam
ini benda yang sangat amat di larang untuk dibawa di semua konser, jangan sampai membawa tajam ke konser karena itu membahayakan penonton yang lain. Kalo niatnya mau have fun, ngapain bawa senjata tajam? Mending bawa tikar, sajadah, sarung, biar kita tetap di dalam lindungan yang maha kuasa. Yup.. Doyan music boleh, tapi jangan ampe lupa ibadah ya!

2.Barang-barang mewah
Bete nggak sih, kalo pulang dari konser hape ilang? Dompet ilang? Pacar ilang? Itulah kenapa, pas nonton konser, mending tinggalin benda-benda mewah yang kalian punya di rumah aja. Bawa barang-barang yang berguna aja. Misal: Jas hujan.

3.Narkoba
Ngapain bawa dan make narkoba pas konser? Mau keliatan keren? Basi.

Nah itu lah beberapa tips tentang yang boleh dan tidak boleh di bawa saat konser semoga tips ini bisa menjadi pertimbangan untuk kalian saat menonton konser.

Dan yang penting jangan mengotori area konser, jangan membuang sampah sembarangan dan selalu menjaga keamanan saat konser berlangsung atau sudah selesai.

Mungkin kalian juga punya tips tentang apa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat konser? Silahkan share tips kalian di bawah :D.