Sumur Vagina

Di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur ada sembilan sumur yang airnya dipercayai oleh penduduk sekitar mempunyai ‘kelebihan’. Dari sembilan sumur tersebut ada satu yang menarik perhatian Tim Trip Salam Indonesia, namanya Sumur Nine. Sumur tersebut berarti sumur perempuan, selain ada Sumur Mame (laki-laki) yang letaknya berdekatan. Karena bentuknya yang seperti alat kelamin perempuan, maka sumur tersebut juga dikenal dengan Sumur Vagina.

Untuk menuju ke Sumur Vagina, Tim Trip Salam Indonesia ditemani Dian Wahyu yang merupakan pria asli Lombok. Perjalanan ke sana cukup jauh, setelah beberapa jam melewati jalan aspal, tim harus melewati medan yang menantang, jalanan rusak, penuh tanah, bahkan sempat dihadang sekumpulan kerbau yang memang merupakan jalanan biasa mereka lewat. Sepanjang perjalanan, Tim disuguhi pemandangan yang sangat bagus, berupa tanah lapang yang pecah-pecah, dan melihat banyak pohon sengon yang tidak ada daunnya karena kekeringan. Sepanjang perjalanan juga tampak banyak hewan ternak, kerbau, sapi, dan kambing. Hewan-hewan tersebut berjalan melewati pepohonan kering.

Sumur-sumur tersebut juga dikenal dengan nama Lingkoq Datu, yang dalam bahasa Sasak berarti sumur kerajaan. Sembilan sumur ini juga menjadi tempat mengambil air minum untuk sapi dan kerbau. 

Selain itu juga banyak warga yang mandi di sumur tersebut. Keunikan Sumur Vagina ini adalah bentuknya yang tidak bisa bundar. Saat dibuat dan digali sumurnya, bentuknya selalu menyerupai vagina. Menurut masyarakar, keberadaan sumur ini sudah sejak lama sekali. Sumur vagina ini sempat pernah dipugar dan dilebarkan, namun hal ajaib terjadi, karena keesokan harinya sumur tersebut berubah menjadi kecil lagi seperti sedia kala. Di sebelah sumur vagina, terdapat sumur yang di dalamnya ada kulit-kulit ular, hal ini membuktikan di dalamnya ada banyak ular. 

Setelah menikmati keunikan Sumur Vagina dan sembilan sumur lainnya, kemudian Tim Trip Salam Indonesia menaiki tebing dengan mengendarai mobil. Beberapa kilometer dari sumur tersebut terdapat tebing dan Pantai Penyisok. Bisa dikatakan kalau pantai ini adalah salah satu surga tersembunyi yang berada di daerah Jerowaru, Lombok. Sebagai lokasi wisata yang baru dibuka, ternyata akses untuk menuju ke lokasi wisata Pantai Penyisok ini tidak mudah. Walaupun aksesnya yang sangat sulit, keindahan panoramanya jangan ditanyakan lagi. Semua kesulitan dan perjuangan selama di perjalanan terbayar ketika sampai di lokasi ini. Dari atas tebing ini, Tim menyaksikan hamparan lautan yang membiru dan pasir putihnya. Hal yang paling di tunggu-tunggu di tebing ini yaitu menikmati pemandangan sunsetnya, dari atas tebing ini kita bisa melihat pemandangan detik detik matahari terbenam. (*)

 

 

Terapi Kesehatan Dengan Mengubur Diri

Pulau Lombok memang dikenal memiliki deretan pantai yang cantik dan memesona. Di Lombok Utara menjadi salah satu surga pantai di Indonesia yang masih sepi dan belum ramai dikunjungi, satu di antaranya adalah Pantai Ketapang. Pantai ini terletak di Desa Selengen, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Pantai ini memiliki pasir hitam, air yang jernih dan bibir pantai yang panjang. Pemandangan juga dihiasi oleh pohon kelapa yang bertaburan menghiasi sepanjang pantai ini. Menurut cerita, dinamakan Pantai Ketapang karena dahulu banyak sekali Pohon Ketapang yang berarti Pohon Perdamaian. Di pantai inilah Tim Trip Salam Indonesia membuka tenda dan bermalam.

Pada malam hari ada sebuah hal yang menarik dan cukup mengagetkan. Tiba-tiba saja beberapa rombongan mobil datang dan parkir tepat di depan tenda Tim Trip Salam Indonesia. Sekitar 20 orang warga yang datang tersebut tiba-tiba menguburkan diri mereka di pasir. Sebelumnya mereka mencangkul pasirnya, tiduran selonjor, lalu dikubur hingga leher. ada yang kelihatan kepalanya, dan kepala dan tangan. Khususnya saat purnama tiba, kita bisa melihat tradisi dimana banyak orang atau warga sekitar yang memanfaatkan hangatnya pasir untuk terapi kesehatan. 

Menguburkan diri di pasir pada malam hari sebagai bentuk terapi yang dipercaya bisa mengobati rematik, pegal linu, hingga kelumpuhan, dan lainnya. Terapi ini dengan mengubur sebagian atau seluruh tubuh sampai leher selama beberapa jam. Pasir pantai dipercaya mengandung mineral dan zat iodium yang dapat membantu pengobatan beberapa jenis penyakit dan melancarkan peredaran darah dengan cara menanam bagian tubuh didalam pasir.

Sambil menikmati deburan ombak yang memecah kesunyian malam, Lia adalah salah warga yang melakukan terapi menguburkan diri. Ia mengaku sudah dua kali melakukannya, dan merasakan ada perbedaan, yakni pegal-pegal yang dirasakannya hilang. Selain Lia, ada beberapa warga lainnya yang mengaku sudah beberapa kali datang menjalani terapi. Ada juga pengunjung yang menderita sesak napas, dan menyatakan sudah tiga kali datang ke tempat ini guna pengobatan alternatif. Ia bersyukur penyakit yang diderita sudah berkurang. Sejumlah warga ada yang menilai pengobatan alternatif itu karena sugesti. Namun, tak sedikit yang percaya dengan pengobatan alternatif itu.

Setelah mulai merasakan hangat setelah sekitar satu jam dikubur, mereka pun mandi di pantai malam. Tampak juga banyak anak kecil yang berlarian, dan menceburkan diri ke air. Air di Pantai Ketapang yang bersih ini memang biasa dijadikan tempat berenang, apalagi ombaknya tidak terlalu tinggi. Kesehatan memang hal yang sangat berharga bagi setiap manusia. Untuk menjaga kesehatan, banyak orang sampai menghabiskan biaya mahal. Namun, tidak semua kesehatan bisa didapat dengan biaya mahal, salah satunya terapi pasir.

(*)

Pohon Purba di Lombok Timur

Jika manusia purba yang ditemukan sudah menjadi fosil, maka pohon purba yang hidup masih bisa kita jumpai. Pohon-pohon purba setinggi 40 hingga 50 meter ini dijumpai Tim Trip Salam Indonesia saat melintasi jalan lingkar utara pulau Lombok. Tepatnya di Dusun Permatan, Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, sekitar 75 kilometer arah timur Mataram. Area pohon purba ini bagaikan belantara hutan yang ada di film ‘The Lord Of The Ring’ dan ‘The Hobbit’. 

Akar pohon tersebut bisa mencapai 170 sentimeter. Lingkar batang bawahnya sebesar pelukan tiga hingga empat lengan orang dewasa, batangnya mirip batang pohon kapuk randu, berlekuk menyerupai gelampir leher sapi. Namun, batangnya licin sehingga pohon sulit dipanjat. Pohon-pohon ini menjadi tempat tumbuh kembangnya koloni lebah, dan buahnya menjadi makanan burung dara hutan.

Masyarakat menyebut pohon purba (Ficus albipila) ini pohon lian karena tidak ada ditempat lain. Mereka meyakini kalau pohon tersebut hanya tumbuh di Australia, Afrika dan Dusun Permatan ini. Ada banyak cerita yang menjelaskan bagaimana pohon Randu raksasa ini bisa tumbuh di daratan pulau Lombok. Menurut teori migrasi burung, ada yang mengatakan kalau biji-bijinya dibawa burung yang terbang dari benua lain. teori lain mengatakan biji-biji pohon Randu itu hanyut akibat tsunami di perairan Australia ratusan tahun silam. Diperkirakan pohon-pohon ini berusia lebih dari seratus tahun, lebih kurang sebelum terjadi perang Puputan di Lombok tahun 1894.

Sebelumnya lokasi pohon ini merupakan areal hutan tutupan. Pada tahun 1970-an lokasi ini sempat dijadikan budidaya kapas. Pada tahun 1982 areal ini dialihstatuskan untuk kegiatan tanaman perkebunan, lalu diserahkan kepemilikannya kepada perseorangan. Lahan perkebunan ini lebih kurang memiliki area seluas 4 hektar. Kini, hanya 1,5 hektar yang dibuka untuk dijadikan obyek wisata. Tempat ini dikelola oleh empat keluarga yang berbeda. Terdapat 40 pohon di areal tersebut, jumlah ini belum termasuk yang ada di pinggir jalan, baik yang tumbuh subur maupun yang tumbang akibat angin kencang dan ditebang, karena batangnya keropos dan lapuk.

Mengingat pohon-pohon ini sangat langka, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mencoba membeli untuk dijadikan areal konservasi, namun masih belum terwujud, karena keempat pemiliknya ingin menjadikan lokasi itu sebagai lokasi wisata. Di dunia ini setidaknya ada 50 pohon yang hidup selama lebih dari satu milenium, meski ada kemungkinan masih banyak pohon-pohon tua lainnya yang belum ditemukan. Semoga pihak-pihak yang ada baik pemilik lahan, pemerintah, dan kita sebagai masyarakat tetap menjaga dan melestarikan keberlangsungan hidup kekayaan hayati ini. (*)

 

Musik Telaga Murni, Bangkit Karena Orang Kesurupan

Lombok Timur memiliki banyak potensi sumberdaya alam mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, dan pariwisata. Selain itu wilayah ini juga memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa. Sejak zaman dahulu masyarakat Benyer mengenal kesenian yang disebut Musik Telaga Murni. Benyer adalah sebuah dusun yang terletak di ujung timur pulau Lombok, tepatnya di Desa Telaga Waru Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Musik Telaga Murni ini sempat hilang dan tenggelam, karena tidak ada generasi penerus yang mendengar dan mengenal alat-alat musik ini dalam kurun waktu yang sangat lama.

 Untuk mendengar langsung bagaimana musik ini dimainkan, Tim Trip Salam Indonesia datang ke Dusun Benyer. Desanya sepi dan cukup lenggang, kami pun masuk ke dalam gang, hingga bertemu rumah sederhana. Rumah tersebut merupakan sebuah sanggar seni. Lembaga Seni Menduli Selayar merupakan tersebut fokus pada pengelolaan kebudayaan berupa pengembangan dan pelestarian kesenian tradisional. Di sanggar tersebut sudah ada tiga orang yang menunggu Tim Trip Salam Indonesia, satu di antaranya Bapak Rihin. Setelah dipersilakan duduk di teras, Bapak Rihin yang lahir di Benyer pada tahun 1966 bercerita tentang musik tradisional daerahnya. Beliau merupakan merupakan generasi penerus Musik Telaga Murni.

Beliau menjelaskan bahwa sebutan Musik Telaga Murni diambil dari nama sebuah telaga yang ada di Dusun Benyer. Sumber mata air Telaga Murni itu dikenal dengan nama Pamualan Benyer. Mata air ini sering digunakan untuk acara-acara ritual adat, seperti acara Perkawinan, Khitanan, Otonan (potong rambut), hingga Besuq Beras (cuci beras). Masyarakat meyakini bahwa sumber mata air tersebut dapat memberikan kehidupan serta kesejahteraan bagi masyarakat sekitarnya. Saat acara-acara tersebut Musik Telaga Murni digunakan sebagai pengiringnya.

Setelah lama tenggelam dan tidak terdengar di masyarakat, Musik Telaga Murni pun mulai bangkit. Kebangkitan kembalinya musik ini tidak biasa, karena dimulai dengan adanya orang Kebangru’an (kerasukan roh leluhur). orang kesurupan tersebut minta diiringi Musik Telaga Murni. Melalui proses kebangru’an inilah Musik Telaga Murni lahir kembali dengan nama Kebangru’an. Sejak peristiwa kerasukan tersebut Musik Tradisional Kebangru’an mulai dikenal oleh generasi selanjutnya. Kini sudah ada generasi penerus yang belajar memainkan kembali alat-alat musik yang telah lama ditinggalkan. Tujuannya agar Musik Tradisional Kebangru’an dapat dikembangkan dan dilestarikan.

Menurut sejarah, musik tradisional ini dibawa oleh para saudagar yang berasal dari Timur Tengah. Mereka banyak yang mendatangi Pulau Lombok sambil menyebarkan agama Islam. Penyebaran ajaran-ajaran tauhid sebagai syiar agama Islam dengan cara menghibur lewat kesenian berupa syair-syair Islami yang dipadukan dengan alat-alat musik ini dianggap lebih mudah. Para saudagar tersebut mulai berdatangan pada abad ke XIV saat jalur perdagangan mulai ramai menghubungkan seluruh wilayah kepulauan Nusantara.

Dalam setiap proses pementasan dan ritual Musik Kebangru’an ini, para pemusik berusaha untuk selalu merekam kembali syair, tembang, dan gending yang bertemakan dakwah agama Islam maupun nilai-nilai kebudayaan. Penampilan grup musik ini terdiri dari beberapa instrumen; vokal (nyair dan hikayat), biola, mandolin, gambus, kendang, rincik, gidur, gong dan suling. Karena datang mendadak, para pemain musik ini sedang tidak lengkap. Akhirnya Tim Trip Salam Indonesia menikmati sajian Musik Kebangru’an yang dimainkan hanya dengan lima personel. Mereka bernyanyi, menembangkan syair, dan memainkan alunan musik bersama-sama.

 

Salam Indonesia. (*) 

Tiga Hari di Bukit Hiliwuku

Sumba Timur merupakan kabupaten terbesar di pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Luas wilayahnya lebih luas dari pulau Bali. Menurut sejarah geologi, sekitar 60 juta tahun yang lalu Pulau Sumba terletak di sekitar Teluk Bone di selatan pulau Sulawesi. Wilayah ini dulunya merupakan bagian dari Kepulauan Sunda. Akibat adanya escape tectonics, Pulau Sumba terus bergerak menuju selatan hingga berada di posisinya saat ini. Ada banyak bukit yang indah di Pulau Sumba, salah satunya adalah bukit bukit di Tanarara.

Perbukitan Tanarara yang sangat luas dan unik tersusun dari Bukit bukit karang yang gersang. Bukit ini di lapisi oleh hamparan rumput yang disaat kemarau berwarna coklat ke emasan, dan berwarna hijau disaat musim hujan. Selama tiga hari tiga malam, Tim Trip Salam Indonesia mendirikan tenda di atas Bukit Hiliwuku yang merupakan bagian dari Perbukitan Tanarara. Bukit yang menyimpan warisan bumi Tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur ini merupakan deretan belasan bukit hijau kosong. Selama tiga hari tim melihat melihat panorama berupa luasnya hamparan rumput yang sedang mengering, Bukit ini juga ada banyak hewan ternak seperti, kuda, sapi kambing.

Punggung setiap bukitnya relatif datar dan saling sambung menyambung. Menariknya lagi, akses jalan di sini berada di punggung bukit, bukan di lembah. Dari atas punggung bukit inilah Tim Trip Salam Indonesia menikmati pemandangan yang luar biasa dan berbeda dengan tempat lain. Selama mendirikan basecamp di Bukit Hiliwuku, banyak sekali warga yang berdatangan untuk bermain ke lokasi camping. Mereka benar-benar ingin mengtahui apa yang sedang dikerjakan Tim Trip Salam Indonesia. Setelah melihat beberapa video yang sedang dikerjakan, mereka sangat senang. Pada malam harinya juga banyak warga yang datang, tidak hanya orang dewasa tapi anak-anak menikmati proses pengeditan video Salam Indonesia. 

Oleh warga sekitar, Tim Trip Salam Indonesia difasilitasi kamar mandi yang berada di sebuah sekolah. Untuk keperluan mandi dan buang air besar, mereka sendiri yang membawa dan menyiapkan air. Mereka sangat ramah dan mudah akrab dengan kami. Mereka juga tidak mau dibayar sepeser pun. Semoga pengembangan pariwisata di Sumba tidak hanya mengutamakan sisi pendapatan, namun juga memperhatikan sisi budaya, pendidikan, lingkungan hidup, para penghayat kepercayaan (Marapu), dan ketentraman serta kenyamanan masyarakat. Sunset di Hiliwuku, Tanarara tidak akan pernah terlupakan. (*)

 

 

 

Sang Pengantar Arwah

Tidak ada hal yang pasti di kolong langit ini, kecuali kematian. Untuk menghadapinya, semua agama dan kepercayaan menjelaskan dan mengatur apa yang terjadi di balik kematian. Sumba, Nusa Tenggara Timur memilki kepercayaan lokal yang dikenal dengan nama Marapu. Kepercayaan tradisional ini beresensi kepada harmonisasi relasi antara manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesamanya, dan dengan semesta alam.

Ma, bermakna ‘yang’, dan Rapu, berarti ‘disembah’ atau ‘dihormati’. Yang disembah adalah arwah leluhur, tetapi di atasnya terdapat kekuatan tertinggi yang tak dibandingkan. Kekuatan tertinggi ini tidak dinamakan (anonim). Pemeluk Marapu menyanjung dengan, ”Ndapa Nunga Ngara, Ndapa Teki Namo” Artinya: Yang tak disebut nama, yang tak diperbandingkan.”  Marapu memiliki kitab suci bernama Lii Ndai. Kitab ini berupa syair yang dihafal para pemuka adat dan dibacakan pada saat upacara-upacara tertentu diselingi nyanyian adat.

 

Dalam kepercayaan Marapu, arwah nenek moyang sangat dihormati, dipuja, dan dimintai tolong untuk menyampaikan permohonannya kepada Tuhan. Mereka juga sangat menghormati raja/ pemimpinnya. Hal ini bisa disaksikan lewat tradisi penguburan raja yang bernama Taning Maramba. Bisa dikatakan prosesi penguburan Raja di Sumba ini adalah acara pemakaman termahal di dunia. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga di Pulau Sumba.

Upacara kematian penganut Marapu harus dilengkapi penyembelihan banyak hewan. Kerbau, kuda, sapi dan babi adalah hewan ternak yang disembelih sebagai persembahan kepada Sang Pencipta untuk menghantarkan arwah raja yang meninggal di kehidupan selanjutnya. Bukan hanya itu Taning Maramba juga membutuhkan batu besar utuh yang diangkut dari atas gunung. Batu raksasa tersebut dibawa turun untuk menjadi makam raja.

Sebelum menggunakan bantuan alat berat di zaman modern ini, pada zaman dahulu masyarakat Sumba bahu membahu mengangkat batu raksasa. Banyak dari mereka yang tidak selamat sampai ke tujuan. Masyarakat yang mengakat batu besar itu hanya menggunakan kayu pohon, dan menempuh jarak lebih dari 12 km. Jika ada sedikit saja kecelakaan yang terjadi, batu besar ini akan menelan korban. Mereka bisa terjepit, tertindih, terdorong, dan terinjak. Hal tersebut merupakan gambaran dari loyalitas, pengorbanan, dan kecintaan rakyat Sumba terhadap rajanya.

Karena beratnya prosesi tersebut, hingga kini persiapan proses pemakaman paling cepat bisa memakan waktu satu tahun.
Sebelum dimakamkan, jasad raja dimasukkan ke kulit kerbau. Jasad itu baru dibungkus dengan kain setelah tiga hari kematian dan diawetkan menggunakan Bunga Walahanggi. Bunga itu dikeringkan dan disimpan di tempat duduk mayat.

Biasanya jenazah dibungkus kain tenun dalam posisi jongkok, seperti ketika masih di dalam rahim. Posisi tersebut diyakini sebagai perlambang kehidupan baru setelah kematian. Kain tenun pembungkus jenazah bergambar seorang pengawal raja yang meninggal, dipimpin oleh seorang kepala pengawal yang sedang menunggang kuda menuju rumah adat untuk disemayamkan.

Mereka adalah papanggang, sang pengantar arwah. Orang-orang yang hidupnya untuk menemani raja semasa hidup, dan masuk ke liang lahat menemani raja bersama-sama menutup mata di bawah batu raksasa.

Salam Indonesia. (*)

Kampung Adat di Sumba

Kota Waingapu adalah ibukota dari Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Waingapu sendiri merupakan kota terbesar di Pulau Sumba. Waingapu kota yang panas yang penduduknya tidak terlalu padat. Hal ini bisa dilihat dari jarak yang saling berjauhan antara rumah satu dengan yang lain.

Bukan hanya keindahan alamnya, Sumba juga memiliki keunikan budaya tersendiri. Adat dan budaya tersebut tetap lestari ditengah pesatnya perkembangan zaman. Ada banyak kampung adat yang tersebar dari Barat hingga Ke timur Pulau Sumba, NTT. Mulai dari Kampung Tambahak, Prainatang, Kampung Watumbaka, Praiyawang, Kampung Kawangu, Umabara, dll.

Jika ingin mengenal dan mempelajari langsung keagungan budaya yang ada di sini, bisa datang langsung ke kampung-kampung adat tersebut. Di dekat Kota Waingapu, tepatnya di kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera ada sebuah kampung adat bernama Kampung Raja.

Kini di Kampung Raja Prailiu masih tersisa beberapa rumah adat. Di kampung ini Tim Trip Salam Indonesia mampir ke rumah Mama Raja Margaretha. Tampak pohon besar yang dihiasi rahang babi dan rangkaian tulang belulang di halaman rumahnya. Beberapa kuburan batu di sekitarnya tidak membuat kesan yang angker, tapi justru membuat rasa kagum akan luhurnya kebudayaan bangsa kita.

Dengan fasihnya, Mama bercerita banyak tentang adat-isitiadat di Kampung Raja. Oleh Mama Raja Margaretha, Erix Soekamti diberi cinderamata berupa kain tenun ikat kepala Papa Raja yang bernama Tiara atau Tamelingu. Ada beberapa jenis kain tenun yang terdapat di Sumba, yakni hinggi (selimut), lau (sarung), tiara (ikat kepala), dan tamelingu (tudung kepala).

Kaum perempuan di Sumba Timur memang mempunyai keahlian membuat kain tenun. Secara turun-temurun mereka masa belajar dengan ketekunan yang tinggi. Proses pembuatannya pun tidak instan, mereka belajar selama bertahun-tahun dari lingkungan keluarganya hingga bisa menghasilkan sehelai kain yang bermutu.

Waktu yang tidak sebentar ini diperlukan karena dalam membuat kain Sumba harus memiliki intuisi dan daya imajinasi yang tinggi. Proses tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dan tahap pengadaan bahan baku, pengaturan lungsi, pembuatan ragam hias, pemberian warna dan menenun.

Dari Kampung Raja, Tim Trip Salam Indonesia menuju Kampung Rende. Selama perjalanan ke kampung adat tersebut tampak savana dan bukit kering yang membentang luas. Di antara pemandangan Savana dan perbukitan tersebut, terlihat juga rombongan hewan ternak seperti, sapi, kuda, dan domba yang merumput hingga ke tepi jalan.

Jarak Kampung Rende sekitar satu jam setengah dari kota Wangaipu. Selain mengeksplorasi rumah adat, tim juga melihat proses pembuatan tenun Sumba Timur. Di Desa ini Tim Trip Salam Indonesia bertemu dengan Mama Rambu Intan, yang merupakan Mama Raja Rende.

Rumah adat di Desa ini sudah sangat tua, dipercaya rumah terseut dibangun sejak 200 tahun silam. Selain rumah adat juga ada kubur batu dari para bangsawan Rende. Di beberapa bangunan tersebut ada satu rumah bernuansa joglo, Mama bercerita bahwa Kakek Raja dahulu berteman dekat dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Mama Rambu Intan juga bercerita tentang tradisi masyarakat Sumba yang menguburkan orang yang meninggal di halaman depan rumah mereka. Ada satu kubur batu yang berukuran sangat besar. Batu penyusun kuburan ini berasal dari bukit di sekitar Rende, beratnya kurang lebih satu ton.

Di atas kubur batu tersebut ada semacam menara dari batu yang dipahat. Pahatan tersebut merupakan beragam simbol para bangsawan Rende. Batu tersebut bergambar macam-macam hewan, di antaranya; kuda, kura kura, buaya, dan burung kakatua. Masing-masing simbol ini memiliki arti sendiri.

Di Desa Rende terdapat sebuah rumah dengan dinding dari kulit kerbau dan terdapat tanduk kerbau yang sangat besar di depannya. Rumah tersebut adalah rumah raja terakhir kerajan Rende.

Salam Indonesia! (*)

Bebunyian yang Nyaris Punah itu Bernama Jungga

Warisan budaya lainnya yang tak kalah penting di Sumba adalah alat musik tradisional. Karena sudah tidak ada lagi yang memainkannya, maka alat musik tradisional bernama jungga ini sudah tidak diproduksi lagi.

Awalnya Saiful, teman kami untuk Trip Salam Indonesia menemukan jungga di dapur neneknya. Saat itu juga Tim Trip Salam Indonesia mencoba untuk memperbaiki dan memainkannya. Alat musik Jungga dimainkan dengan cara dipetik dan menghasilkan suara yang khas. Jungga menggunakan dua dawai yang diambil dari kawat kopling yang ditarik dan diluruskan. Ada dua jenis jungga, yakni empat senar dan dua senar.

Seperti kriya asli lainnya dari Sumba, jungga juga dihiasi ornamen kuda, penyu, itik sebagai identitas budaya mereka. Pada zaman dahulu jungga dimainkan untuk mengiringi lantunan syair-syair saat ritual upacara adat. Selain itu jungga juga dimainkan saat menggembala untuk menghibur binatang ternak mereka.

Sebagaimana efek domino, alat ini sudah tidak diproduksi karena tidak ada lagi yang memainkannya. Setelah beberapa hari mencari, akhirnya Tim Trip Salam Indonesia menemukannya di Lambanapu yang berjarak 10 km dari Kota Waingapu. Di Desa ini juga terdapat situs Lambanapu yang merupakan situs hunian leluhur masyarakat Sumba.

Di desa tersebut Tim Trip Salam Indonesia bertemu dengan Bapak Puratanya. Beliau adalah salah satu dari tiga orang Sumba yang hingga kini masih mempunyai dan bisa memainkan Jungga dengan baik. Sangat miris memang menyadari bahwa tidak ada lagi generasi penerus yang bisa memainkan bahkan mengenal gitar senar kopling ini.

Untungnya cucu beliau, Desti Kanda mulai mewarisi bakat Pak Puratanya tersebut. Berbeda dengan kain tenun yang terus diproduksi dan semakin diminati orang banyak, alat musik jungga mulai tergerus arus zaman.

Tim Trip Salam Indonesia mendadak merasakan kebahagiaan setelah melihat
Desti Kanda yang mewarisi bakat musik, dan ternyata diam-diam mempelajari Jungga.

Salam Indonesia! (*)

Ribuan Tahun Menjaga Adat Kampung Bena

Di atas ketinggian 2.245 mdpl, berjarak 17,5 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada terdapat salah satu kampung adat tertua di daratan Flores, Nusa Tenggara Timur, namanya Kampung Adat Bena. Banyak cerita tentang asal usul kampung yang diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun lalu ini. Kedatangan Tim Trip Salam Indonesia ke kampung ini awalnya tidak direncanakan. Karena masalah cuaca, penyeberangan Trip Salam Indonesia ke Pulau Sumba harus tertunda. Pulau Flores memang sangat kaya akan ragam budaya dan panorama alamnya, karena itu Tim Trip Salam Indonesia memutuskan ke Kampung Bena ini.

Kampung ini berada di sebelah timur Gunung Inerie yang artinya ‘Ibu Bergembira’. Rumah adat di sini memiliki arsitektur tradisional yang beratap alang-alang berpadu dengan susunan batu-batu gunung. Hal ini menjadi bukti bahwa kampung ini merupakan sisa peradaban megalitikum. Rumah adat di sini per lima tahun diremajakan atau dibangun ulang kembali. Arsitektur rumah-rumah adat ini dibangun sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya, dan bambu menjadi bahan dasar rumah adat Kampung Bena.

Mata pencaharian kaum laki-laki Kampung Bena adalah berladang dan bertani. Hasil pangan mereka adalah umbi-umbian, jagung, dan kacang-kacangan. Selain itu mereka berkebun kopi, kemiri dan tanaman lain yang tumbuh subur di kaki Gunung Inerie. Para kaum perempuannya menenenun dengan cara tradisional. Hasil tenun ini kemudian dijual ke kota Bajawa atau ke para wisatawan yang berkunjung. Harga tenun kecil yang dipakai sebagai ikat kepala dijual seharga Rp 100 ribu.

Kampung Bena berbentuk seperti perahu raksasa. Pintu masuk ke kampung Bena hanya melalui sisi pintu. Di dalamnya berderet sebanyak 40 rumah adat yang saling berhadapan. Di antara deretan rumah yang saling berhadapan dan dijadikan halaman, berderet kuburan. Mayat-mayat tersebut dikuburkan di antara kurungan batu-batu berlempeng tipis dan panjang serta tajam. Batu-batu itu menjulang keatas hingga membentuk semacam kurungan. Beberapa ujung batu tersebut diletakkan lempengan sehingga membentuk semacam meja dari batu.

Masyarakat Kampung Adat Bena mempertahankan tradisi leluhur mereka sejak zaman batu. Maka itulah kampung ini disebut kampung megalitikum. Di depan rumah mereka juga terdapat bebatuan besar yang ujungnya runcing. Batu itu merupakan simbol pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Masyarakat di sini percaya bahwa batu-batu besar di kampung mereka disusun oleh raksasa bernama Bhake. Raksasa tersebut meninggalkan jejak berupa telapak kaki di sebuah batu besar. Pada halaman tengah kampung terdapat ‘Ngadhu’ dan ‘Bhaga’ yang merupakan representasi hubungan dengan leluhur setiap generasi hingga selamanya. ‘Ngadhu’ merupakan representasi nenek moyang laki-laki dari satu suku, sedangkan ‘Bhaga’ merupakan representasi nenek moyang perempuan dari sebuah suku.

Kampung Bena dihuni oleh sembilan suku yang berbeda yakni; suku Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, Ago, dan suku Bena. Meskipun terdiri dari banyak suku, mereka hidup dengan damai dengan pertalian saudara yang sangat kuat. Ini merupakan bukti bahwa sejak dulu nenek moyang kita sudah menghargai perbedaan. Bhinneka Tunggal Ika,

Salam Indonesia. (*)

Kelelawar dan Taman Laut 17 Pulau Riung

Keindahan panorama, mulai dari hamparan pasir putih dengan air yang jernih, hingga terumbu karang yang berwarna-warni semua ada di Taman Laut 17 Pulau Riung. Belum lagi ragam flora dan fauna di gugusan pulau kecil-kecil ini yang memiliki pesona dan karakteristik masing-masing.

Lokasi taman laut 17 Pulau Riung berada di kecamatan Riung kabupaten Ngada atau sekitar 72 km ke arah utara pusat kota Bajawa, Flores, NTT. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat singgah, Tim Trip Salam Indonesia hanya berjalan kaki menuju bagian barat pantai yang memiliki sebuah dermaga. Di sana tampak pemandangan kapal nelayan Bajo yang terikat. Di Minggu pagi aktivitas di pantai tersebut sepi, tidak ada yang tampak orang berjualan. Sedangkan ramainya biasanya setiap malam Minggu.

 

Meskipun bernama Taman Laut 17 Pulau Riung, sebenarnya di sini ada 24 pulau-pulau kecil. Pemberian nama “tujuh belas” adalah sebagai pengingat Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Nama pulau-pulau yang ada di sini adalah: Pulau Ontoloe, Pulau Pau, Pulau Borong, Pulau Dua, Pulau Kolong, Pulau Lainjawa, Pulau Besar, Pulau Halima, Pulau Patta, Pulau Rutong, Pulau Meja, Pulau Bampa, Pulau Tiga, Pulau Tembaga, Pulau Taor, Pulau Sui dan Pulau Wire.

Tim Trip Salam Indonesia rencananya akan menyusuri 17 pulau tersebut. Namun karena ada beberapa kendala dan keterbatasan, tim hanya ke Pulau Rutong dan Pulau Kelelawar. Tim sempat mendaki ke atas bukit yang berada di daratan Pulau Rutong. Dari bukit yang ditumbuhi semak dan rumput ini terlihat pemandangan lanskap keseluruhan Pulau Rutong yang dikelilingi pasir putih yang sangat elok.

Kondisi perairan di sekitar Pulau Rutong sangat jernih. Kita bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang, serta terumbu karang yang berwarna-warni dari atas kapal. Air laut di sekitar Pulau Rutong berwarna hijau toska, sangat cocok dan menggoda untuk segera berenang atau snorkeling.

Tidak hanya panorama laut yang bisa dinikmati, di darat juga terdapat hutan untuk ditelusuri. Hutan tersebut dihuni oleh spesies rusa Timor,  dan biawak Mbou, jenis yang lebih kecil dari Komodo. Selain itu juga terdapat berbagai jenis spesies burung langka seperti; bangau putih, bangau hitam, burung beo, cuckoos, elang, bluwok, parkit, dan kelelawar.

Nama lain pulau Kelelawar yaitu pulau Ontoloe. Di sini merupakan habitat bagi ribuan kelelawar raksasa. Mereka banyak bergelantungan di pepohonan. Lantaran hanya dihuni kelelawar, pulau itu dinamakan Pulau Kelelawar. (*)