Salam Indonesia #1

Trip Salam Indonesia 2018

Pada akhir tahun lalu, Endank Soekamti merilis album ke delapan yang bertajuk ‘Salam Indonesia’. Album tersebut direkam selama 30 hari di atas kapal phinisi dengan mengarungi lautan di Papua. Dengan semangat yang sama, sepanjang Mei-Juni 2018 nanti Erix Soekamti bakal menjalani trip Salam Indonesia. Namun perjalanan kali ini ia tidak sedang mengerjakan album musik bersama Endank Soekamti, tapi membuat ensiklopedia budaya dan pesona alam Indonesia dalam bentuk video, fotografi, dan teks. Tanpa ditemani Dory (gitar), Tony (drum) yang merupakan personel Endank Soekamti lainnya, pada trip kali ini Erix akan dibantu oleh tim kreatif yang terdiri dari videografer, fotografer, editor, penulis, dan programmer.

Trip Salam Indonesia akan dimulai sejak 10 Mei hingga 13 Juni 2018. Melalui perjalanan darat dan menyeberangi lautan, petualangan tersebut bakal dimulai dari Sumba dan berakhir di Yogyakarta. Tempat-tempat yang akan didatangi nantinya berdasarkan kontribusi dari masyarakat yang telah memberikan informasi lewat www.salamindonesia.id. Lewat situs tersebut, masyarakat bisa memberikan informasi tentang pesona alam, potensi wisata, dan budaya di daerah masing-masing. Dalam setiap perjalanannya nanti, Erix dkk juga akan melibatkan teman-teman di daerah setempat sebagai pemandunya. Menurut Erix, Akamsi (Anak Kampung Situ) bakal banyak lebih mengetahui lebih detil seluk beluk tempat tersebut.

Dari informasi tersebut kemudian akan dikurasi, dikunjungi dan eksplorasi oleh tim Salam Indonesia. Hasil eksplorasi tersebut bisa disaksikan setiap hari selama perjalanan lewat www.salamindonesia.id. Menurut Erix Soekamti hal ini dilakukan agar teman-teman bisa mengetahui apa saja kekayaan Indonesia yang ada di daerahnya. Karena jika sudah tahu, maka kita akan bisa mensyukuri, menikmati, dan menjaganya.

Tempat-tempat yang bakal didatangi adalah aset Indonesia yang mungkin belum diekspolrasi dengan baik. Erix meyakini bahwa masih banyak tempat-tempat dan informasi budaya yang banyak belum dikenal luas. Trip Salam Indonesia juga didukung oleh Toyota, Fuji Film, Telkom, Eiger, dan Starcross. (*)

Masih Juga Ingin Makan Junk Food?

Ini tips agar tubuh kita tetap sehat meskipun masih mengonsumsi junk food:

• Mulailah hari dengan mengonsumsi menu sarapan sehat seperti jus buah, susu rendah lemak, yoghurt, sereal tinggi serat, dan buah. Orang yang berpola makan tinggi serat mencerna makanan secara lambat. Akibatnya, rasa lapar tertunda dan keinginan untuk mengasup makanan berlemak berkurang.

• Kandungan lemak dan sodium french fries sangat tinggi. Bila mau membeli burger carilah jenis yang lebih banyak mengandung bahan nabati dibandingkan hewani. Jika memungkinkan perbanyak isi sayurnya, seperti selada, tomat, mentimun, dan sebagainya.
• Jangan mencoba berpantang makan junk food karena kita mungkin justru tergoda untuk mencomotnya. Jika ingin, belilah dalam porsi kecil lalu bagilah dengan rekan atau teman anda.
 
• Mulailah berolahraga, Olahraga akan memompa endorfin, yaitu morfin alami dalam tubuh, untuk beredar ke seluruh tubuh. Dengan berolahraga kita jadi punya waktu sedikit untuk makan.

• Biasakan sarapan dan makan di rumah sehingga keinginan ngemil pun dapat sedikit berkurang.
• Periksa kandungan makanan yang tertera pada kemasannya makanan ringan. Perhatikan jumlah gram lemaknya. Setiap lima gram lemak, setara dengan satu sendok makan. Jadi, kalau di situ tertulis memiliki 27 gram, artinya makanan itu mengandung lima setengah sendok makan. Jumlah itu tergolong sehat kalau setara dengan 30 persen dari total kalori. Kalau lebih, artinya makanan itu mengandung lemak berlebih. Dengan cara itu, kamu dapat memilih mana makan yang mengandung lemak dalam jumlah yang aman. Dengan cara yang sama, perhatikan juga kandungan sodiumnya.
• Minum air putih sebanyak-banyaknya setelah makan junk food. Air putih membantu proses pembuangan racun-racun yang masuk bersama makanan ke dalam tubuhmu.
• Imbangi junk food yang kamu makan dengan sayuran dan buah-buahan. Kandungan gizi dalam sayur dan buah melengkapi kekurangan pada junk food.
• Jangan biasakan ngemil sambil nonton TV. Kalau pengen banget ngemil sambil nonton film atau acara favoritmu, batasi jumlahnya dan jangan nambah lagi.

Kenapa Harus Junk Food?

Apakah kalian termasuk penyuka Junk food, atau bahkan malah sudah kecanduan? Junk food adalah istilah untuk makanan yang jumlah kandungan nutrisinya terbatas. Makanan yang tergolong dalam kategori ini adalah makanan yang kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya tinggi, tetapi kandungan vitamin, protein, mineral dan seratnya rendah. Padahal, semua zat gizi itu sangat dibutuhkan untuk kesehatan tubuh kita.

Dalam makanan, haruslah tercukupi paling tidak unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Dalam Junk food atau fast food kebutuhan tersebut belum tentu lengkap. Kadang, malah diberi tambahan vitamin dengan bahan sintesa. Bila jumlah kandungan garam, gula, lemak, dan kalorinya terlalu banyak di dalam tubuh, maka akan menimbulkan banyak penyakit. Dari penyakit ringan sampai penyakit berat seperti  darah tinggi, stroke, jantung, dan kanker.

Fast food dan soft drink mengandung kadar gula yang tinggi. Konsumsi berlebihan, mengakibatkan peningkatan kadar gula dalam darah. Penumpukan gula ini merangsang tubuh untuk memproduksi insulin lebih banyak sehingga terjadi sindrom kadar gula di dalam darah. Akibatnya, badan jadi lesu, sulit konsentrasi, dan mudah marah. Lebih parah lagi, kadar gula tersebut diikuti peningkatan produksi hormon adrenalin yang mendorong remaja bersikap agresif.”

Gula, terutama gula buatan, enggak baik untuk kesehatan karena dapat menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan gigi, dan obesitas. Makanan atau minuman yang mengandung banyak gula, antara lain cake, cookies, dan minuman bersoda (soft drink). Di antara semua di atas, minuman bersoda mengandung paling banyak gula. Pada satu kaleng minuman bersoda, mengandung sedikitnya sembilan sendok teh gula. Padahal, seharinya tubuh kamu cuma butuh empat gram atau satu sendok teh. Enggak boleh lebih! Bayangin, kalau seharinya kamu minum soft drink dua sampai tiga kaleng. Berapa banyak gula menumpuk dalam tubuhmu?

Perlu kamu ketahui, minuman bersoda enggak cuma mengandung banyak gula, tetapi juga mengandung kafein dan zat-zat adiktif lainnya. Aku memang tidak terlalu suka minuman bersoda. Sekarang sudah hampir tidak pernah menyentuhnya. Lha, kalau dulu biasany beli soda untuk dicampur dengan minuman lainnya. Tapi itu kan dulu..hehehe.

Aku juga kebetulan memang tidak terlalu suka junk food, tapi apa mau dikata? Menu inilah yang paling gampang dicarinya, terutama di saat darurat lapar menyerang. Saat sudah malam, namun rasa lapar menghantui, kita bingung mau makan apa, pastinya fast food yang paling gampang dijangkau, rasanya, harganya pun sudah kita tahu kepastiannya. Saat sedang di luar kota, selama ada junk food rasanya masih aman. Namun junk food ini buatku tidak untuk menu harian, tapi untuk darurat saja. Menu favoritku ya Fried Chicken, paha dan sayap, tanpa nasi.
Tapi jika sudah keseringan, aku berusaha untuk menghindar, bagaimana caranya? Ya mending langsung tidur aja. Hehehe.

Aku tahu bagaimana bahaya dan rusaknya jika terlalu keseringan menyantap junk food. Aku tahu informasi ini dari film dokumenter, dimana ada orang yang bereksperimen selama 30 hari hanya makan junk food. Ia pun sakit, dan diperingati dokter akan bahaya terburuknya. Aku juga kerap mendapat informasi di internet agar jangan jadikan junk food sebagai menu sehari-hari. Jika sedang menonton film, bekerja, atau menedit DOES memang lebih nikmat ditemani cemilan. Biasanya aku kalau ngemil cukup dengan kacang mete dan kwaci. Tapi, karena sedang menjalani diet, sekarang kebiasaan ngemil sudah nggak lagi. Kalau mau makan, ya makan besar sekalian, jadi nggak usah nanggung-nanggung. Daripada nyemil dan kebanyakan junk food, bisa juga beli buah buahan.  Ini yang paling sering aku lakukan. (*)

Belajar Musik Sejak Dini

Belajar musik secara intensif akan mempengaruhi kecerdasan dan kepribadian. Perlu diketahui bermusik itu tidak hanya bermain seperti akrobat atau ilmu ketangkasan lainnya. Musik itu menggerakkan otak kanan dan otak kiri. Bermain musik sangat berguna untuk kecerdasan anak.

Plato pernah mengatakan bahwa ilmu setelah agama adalah musik. Karena belajar musik itu mengajarkan sosialiasi bagi anak. Sebenarnya sangat aneh kalau ada orangtua yang melarang anaknya bermain musik. karena scara psikologis, musik mengajarkan anak untuk tampil dan melatih kepercayaan diri.

Selain dikenal sebagai gitaris Dharma For Music, Kenny Prehara adalah seorang pengajar musik. Menurtnya seorang anak bisa mulai bermain musik sejak usia sedini mungkin. Namun mereka memang agak sulit untuk main instrumen tertentu seperti, gitar dan drum. Ini karena kapasitas fisiknya, anak-anak usia dini cenderung diajarkan main piano. Kalau disuruh main drum kakinya belum sampai, untuk main gitar, siku dan tangan belum sampai.

Namun untuk usia lima tahun, anak-anak sudah bisa belajar drum dan gitar. Untuk belajar musik, secara teori sangat berhubungan dengan matematika. Agak sulit kalau belum bisa matematika. Karena dimulai dengan hitungan dan ketukan harga nada.

Pertama yang diajarkan adalah pengenalan instrumen. Anak-anak dikenalkan dengan anatomi gitar dan lainnya.  Kemudian belajar teknik dasar permainan, bagaimana cara stem gitar, dan mengenal tuts piano.

Kemudian anak-anak diajari untuk menguasai lagu. Mereka diarahkan untuj memainkan lagu- lagu sederhana. Ini juga menyesuaikan dengan kesukaan dan kemauan murid, tugas guru hanya mengarahkan sesuai kemampuan si murid. Jika anak les privat atau belajar di sekolah musik, otomatis anak tersebut akan menguasai pelajaran seni musik yang diajarkan di sekolahnya. Tanpa disadari, industri musik akan dipakai terus menerus. Kini karir di musik sangat terbuka. Kita tidak hanya jadi pemain musik, tapi masih banyak karir seperti, penulis buku, sound engineering, analis, dan kritikus musik.

Semua orang bisa main musik, jangan pernah ragu untuk bisa main musik. kesuksesan di musik bukan hanya karena bakat dan keberuntungan, tapi terjadi karena kerja keras. Bakat dan keberuntungan hanya beberapa persen. (*)

Semrawutnya Sampah Visual

Di kota-kota besar fenomena sampah visual memang kerap terjadi, begitu juga di Yogyakarta. Sampah visual tersebut di antaranya iklan di luar ruang yang notabene milik publik. Bentuk Sampah Visual pun bisa bermacam-macam, di antaranya papan iklan, baik yang bersifat komersil maupun tidak. Ada juga yang berbentuk pamflet liar yang ditempel di tembok, tiang listrik, dan dengan ukuran yang lebih besar yaitu spanduk, baliho, dan sebagainya.

Belum lagi masalah tersebut diperparah dengan banyak papan iklan yang sudah habis masanya, namun masih juga terpajang hingga terkadang membuat suasana kota menjadi kotor. Ketika hal itu semakin dibiarkan, maka tidak mustahil kalau lama-kelamaan semua ruang publik akan didominasi oleh sampah visual.

Sampah visual ini memang sangat mengganggu, dan menurutku nggak cuma pamflet, poster, spanduk dan baliho, tapi juga instalasi listrik yang membuat ruwet pemandangan kota. Contohnya di kawasan tugu, meski gak banyak baliho dan spanduk, karena kabel yang semrawut kita mau motret yang bagus kan jadi susah, lha padahal tugu itu kan ikonnya Yogyakarta.
Menyikapi sampah visual sebaiknya nggak cuma fokus sama baliho dan teman-temannya, tapi juga infrastruktur kotanya.

Forum diskusi tentang fenomena ini telah banyak digelar, bahkan hasilnya banyak juga inisiatif dari warga untuk membersihkan sampah visual ini. Sumbo Tinarbuko adalah salah satu orang yang cukup aktif menyuarakan hal ini. Selain dosen di ISI Yogyakarta, beliau juga seorang penulis, dan aktif di gerakan Reresik Sampah Visual. Pada sebuah diskusi “Iklan, Sampah Visual, dan Tata Ruang Kota”, di Bentara Budaya Yogyakarta, Sumbo banyak mengemukakan tentang ruang-ruang publik Yogyakarta yang dirampas. Mengapa ‘dirampas’ karena ruang tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan kepentingannya yang bermacam-macam, mulai kepentingan ekonomi, hingga politik.

Di antara contoh yang dikemukakan Sumbo adalah saat menjelang pemilihan umum, dimana partai politik melakukan aksinya dengan memasang spanduk, baliho, dan lainnya di hampir setiap sudut kota. Ia juga mempresentasikan bagaimana Jembatan Janti seringkali berganti warna sesuai merk provider telekomunikasi tertentu yang beriklan di sana. “Bahkan jika tidak diawasi, mungkin empat sisi tugu akan berwarna-warni merah, kuning, biru sesuai merk-merk tersebut,” tambahnya.

Ia juga mengritisi janji Walikota Yogyakarta yang belum terwujud. Walikota pernah menjanjikan bahwa kawasan-kawasan di antaranya, Jl Diponegoro, Jl Solo, dan Jl Sudirman akan menjadi kawasan bebas sampah visual, “namun sampai saat ini, bukannya berkurang, malah semakin bertambah banyak,” tegas Sumbo.

Memang sudah sepatutnya bahwa ruang publik harus tetap menjadi milik publik, dan tidak diprivatisasi oleh pihak tertentu. Semoga hal ini bisa menjadi kesadaran bersama, dan semboyan “Yogyakarta Berhati Nyaman” bukan hanya sekedar slogan.

Menurut pengamatanku kurang lebih 25 persen musik sampah visual itu dihasilkan dari promo acara musik, misalnya di Perempatan Ringroad Kentungan, Spanduk dan Baliho ada di tiap sudut, dan pasti ada acara musiknya. Tapi kalau acara musik kan memakai baliho yang paten sesuai tempatnya, yang nyatanya memang ada disediakan tempatnya oleh pemerintah. Masalahnya adalah banyak acara yang sudah kadaluarsa tapi iklannya belum juga diturunkan. Sedangkan sampah visual dari kampanye politik itu ada juga yang tidak memakai spot yang disediakan. Mereka bikin sendiri spanduknya, dan bahkan pernah beberapa kali terjadi memasang di tempat ilegal, seperti di bangunan cagar budaya.

Masih adanya sampah visual ini menurutku juga menjadi bukti bahwa iklan konvensional masih dipakai. Namun kita sebagai band (Endank Soekamti) sudah tidak pernah bersentuhan lagi. Dulu kan pernah zamannya promosi acara konser pakai flyer, dan poster, tapi sekarang semuanya sudah beralih ke digital. Semua bentuk promosi yang dibuat sendiri oleh musisi sudah didigitalisasi. Lewat promo digital kan bisa lebih irit, nggak nyampah dan lebih efektif, informasinya bisa langsung sampai ke komunitasnya sendiri. 

Menurutku sampah visual di Kota Jogja termasuk parah dibanding kota lain, apalagi aku suka motret, jadi bisa merasakan banget keruwetannya. Buat terima kasih untuk teman-teman yang sudah melakukan aksi nyata membersihkan kota dari sampah visual. Itu adalah hal terbaik yang bisa dilakukan masyarakat. (*)

Ingatanku Tentang Gempa 2006

GEMPA bumi yang terjadi 2006 silam cukup berdampak yang luar biasa bagi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Ketika sebagian besar masyarakat hendak bersiap memulai aktivitas, Sabtu, 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.55 WIB, tiba-tiba dikejutkan oleh guncangan yang memporak-porandakan isi Kota Jogja, Bantul dan sebagian wilayah Sleman serta beberapa daerah di Jawa Tengah Selatan.

Saat itu hampir semua orang terkecoh, jika gempa bumi adalah akibat Gunung Merapi yang sedang mengalami peningkatan aktivitas. Terlebih gempa tersebut terjadi berbarengan dengan munculnya asap tebal dari Puncak Merapi. Gempa bumi 2006 lalu ini termasuk gempa bumi tektonik dengan kekuatan 5,9 skala Richter (SR) dan berlangsung selama 57 detik. Pusat gempa terjadi pada 8,03 derajat Lintang Selatan dan 110,32 derajat Bujur Timur dengan kedalaman 11,3 kilometer yang mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan setidaknya 6.000 korban jiwa.

Peristiwa ini tentunya sudah menjadi ingatan masyarakat yang terkena dampaknya. Hampir setiap tanggal tersebut, sebagian besar Timeline sosial media menceritakan ulang pengalaman mereka akan peristiwa yang tentunya bukan semata-mata akibat dosa manusia, seperti yang sering diteriakkan sebagian warganet dengan melayangkan ayat-ayat tertentu.

Melalui akun twitter, aku juga pernah berkicau tentang detik-detik saat menjelang peristiwa alam tersebut. Begini kicauanku saat itu di akun @ErixSoekamti, May 27, 2012:

Hari ini #6thnGempaYK sehari sebelumnya saya berantem sama pacar. Saat itu Endank Soekamti & crew semuanya tinggal dalam satu atap dengan status masih bujang. Satu jam sebelum gempa saya maen Playstasion bareng Rintho Aribowo (salah satu kru ES), Ari Soekamti bobok lebih awal, dan Dory Soekamti pergi ke warnet depan.

Karena mata mulai pedas, saya meninggalkan Rintho yang sedang asik bermain PS dengan stick balap yang baru saya beli. Tiba-tiba….. 05.55 Vibration Stick PS balap yang dimainkan Rintho bergetar menjadi 5.9 skala richter. Dia kemudian lari dan teriaak …….ERIX!!!

Entah apa yang terbersik dikepala Rintho dari beberapa teman di beskem, hanya nama saya yang terucap dari mulutnya *PrekBgt

Sebuah gitar Bass dikamar membangunkan saya dengan tidak senonoh. Ia yg berdiri angkuh di sebelah saya tiba-tiba terjatuh tepat dikepala. Lambat laun secara slow motion, saya mulai terbangun dan keluar, semuanya bergoyang… Melangkahpun susah.

Disaat keluar, saya menyaksikan banyak warga panik. mata saya nggak mau libur dan tak kuasa untuk terus melihat kost-kostan putri di ujung jalan. Tiba-tiba pandangan pun berubah fokus tatkala seseorang datang dengan senyum, berjalan pulang dari warnet… Dialah Dory Soekamti.

Dengan senyumnya, Dory bercerita tentang apa yang terjadi saat asik masyuk menikmati donlotan video mesum dilantai 2. “ASU!! Lagi enak-enak kok monitornya goyang semua, dari lantai dua semua user Rama Net pada lari rebutan satu pintu,” ujarnya.

Setelah semuanya mulai reda dan dianggap sudah aman, kami kembali masuk rumah. Ehh.. Ari Soekamti baru bangun 🙂 *KlupaanBangunin “pagi ”

Semua terjadi sangat cepat dan semua masih santai, masih ketawa ketiwi dan saling bercerita tentang apa yang dialami. Karena masih ngantuk.. Sayapun tidur kembali… Begitu juga dengan yang lain 🙂 zzzzz..Zzz..Zz

Sejenak terlelap, gempa itu datang lagi!! Seperti belum puas menghajar kami, kali ini mereka datang lagi dengan ditemani isu tsunami. saya berusaha menelpon keluarga dan mantan pacar 🙂 berharap gempa ini mampu menggetarkan hatinya untuk kembali kepelukan saya.

Beskem Endank Soekamti jauh dari jalan raya, listrik mati. Kami benar-benar nggak tahu apa yang terjadi.

Jam menunjukan pukul 2, muncul inisiatif mencari berita lewat gelombang radio Hp, lalu kami menemukan Sonora fm.Semuanya menjadi sangat serius buat kami ketika kaget mendengar info radio Sonora mengatakan bahwa korban sangat begitu banyak.

Karena ngantuk dan lapar setelah manggung di Jakarta dan berlanjut di Solo, Erix mengaku mulai susah mengingat! 🙂 “Saya nggak mau cerita yang sedih-sedih,”

***
Peristiwa gempa bumi 2006 mampu menjadi sebuah pembelajaran kehidupan bagi masyarakat, dimana dengan begitu, masyarakat dapat hidup selaras di wilayah rawan gempa. Semoga ke depannya Jogja selalu baik-baik saja, dan warganya semakin berhati nyaman. (*) 

Mengaktifkan Penonton Film Pendek

Belakangan ini euforia pembuat film dalam memproduksi film pendek semakin meningkat, tak heran jika semakin banyak festival film pendek yang kita dijumpai. Hal ini otomatis akan semakin banyak pula ruang diskusi film yang dibentuk oleh para pecinta film. Bisa disimpulkan bahwa mereka yang berproses dalam industri ini semakin berlomba-lomba untuk memajukan perfilman di Indonesia. Di Jogja ada beberapa forum yang menjadi wadah apresiasi film pendek di Yogyakarta, di antaranya kegiatan ngobrol film di Komunitas RumahKami yang dilakukan rutin setiap bulannya.

Bagi anak muda yang gemar membuat film, film pendek menjadi wadah ekspresi diri secara positif dan kreatif. Tapi sangat disayangkan jika halo kreatif ini masih sulit di apresiasi oleh masyarakat Indonesia secara umum. Jika dikonsumsi oleh banyak orang secara intens, maka sebuah tontonan akan mejadi aktif, misalnya Sinetron atau film-film yang beredar di bioskop. Lalu bagaimana nasib film pendek yang tidak menang dalam festival. Apakah film pendek hanya untuk festival? Sedangkan membuat film juga butuh dana yang besar. Apakah film pendek hanya berakhir pada festival atau kanal sosial media saja? Bagaimana film pendek dapat dinikmati oleh masyarakat umum selain penonton yang itu-itu saja?

Film itu memiliki pemetaan masing-masing, begitu juga festival film pendek yang masih tergantung kebutuhan festival itu sendiri. Jika film pendek ingin bisa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, dibutuhkan kerjasama antara produser dan sutradara. Hal ini agar film tersebut dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum dengan dengan tepat, karena masing-masing sutradara memiliki cara untuk menyampaikan ide dan gasasan melalui sebuah karya.

Hal tersebut dikatakan dosen Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta Mandela Majid pada sebuah diskusi tentang film pendek. Ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi saat ini tentunya memudahkan kreator untuk membuat film. Namun hal ini belum tentu menjadikan semakin banyaknya film pendek yang dibuat, juga semakin banyak film pendek yang berkualitas secara cerita. “Selera Penonton juga semakin beragam, jadi ketika sutradara ingin membuat sebuah karya, kerja produser adalah perlu memikirkan peta selera penonton pada zamannya,” ungkapnya. Jika berbicara tentang sebuah karya, maka tidak terlepas dari uniti dan pencitraan. Film yang unik itu memiliki tema yang berkualitas, dan disampaikan dengan cara sederhana. (*)

Kamu Suka yang Mana, Gudeg Basah atau Gudeg Kering?

Sebagaimana Endank Soekamti, Gudeg dan Bakpia adalah aset Yogyakarta. Gudeg adalah makanan khas yang paling terkenal, dan telah menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta. Di hampir tiap sudut kota Jogja, kita akan sangat mudah menemui penjual makanan dengan bahan utama gori (nangka muda) ini. Rasa gudeg yang manis dan gurih ini karena memasaknya dicampur dengan gula aren. Makan gudeg biasanya dipadupadankan dengan berbagai macam lauk pelengkap seperti; krecek, telur, ayam, tempe dan tahu bacem.

Jika biasa makan gudeg, kita pasti tahu kalau secara umum makanan ini ada dua jenis, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan yang gurih dan ‘nyemek’ (agak becek) dan biasanya banyak diburu untuk menu sarapan pagi. Sedangkan gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama sampai kuahnya kering dan warnanya coklat pekat.

Aku lebih suka gudeg basah daripada yang kering, karena lebih enak kalau ada kuah-kuahnya becek gitu. Aku memang nggak punya tempat langganan makan gudeg, tapi yang jadi favoritku adalah warung-warung gudeg yang ada di pinggir jalan, terutama yang berjualan di malam hari. Karena nggak makan nasi, jadi biasanya aku hanya pesan gudeg (gori)nya saja, sayap ayam, telur, dan krecek, itu pasti.

Menurutku gudeg itu sudah menjadi industri, dan hampir jarang rumah-rumah yang kutemui memasak gudeg untuk menu sehari-hari di dapur keluarga mereka. Menjadi industri karena saking identiknya dengan Yogyakarta, para turis dan wisatawan selalu berburu gudeg dan membawanya pulang untuk dijadikan buah tangan. Tempat makan gudeg yang paling terkenal di Jogja adalah sentra gudeg Wijilan.

Selain terkenal. kawasan ini juga bersejarah, karena letaknya yang berada di sebelah timur Alun Alun Utara, tepatnya di selatan Plengkung Tarunasura atau dikenal dengan Plengkung Wijilan. Di Jalan Wijilan ini berjejer warung-warung yang menjajakan gudeg. Menurut cerita, kawasan ini awalnya hanya ada satu penjual gudeg, yaitu Warung Gudeg Ibu Slamet, beliaulah yang  pertama kali merintis warung gudeg, tepatnya pada zaman pendudukan Jepang, tahun 1942.

Setelah Warung Gudeg Ibu Slamet, beberapa waktu kemudian di Wijilan tambah dua warung lagi, yakni Warung Gudeg Campur Sari yang sudah tutup sejak tahun 80an, dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang saat ini dikenal dengan Gudeg Yu Djum. Di era 90an, muncul Warung Gudeg Bu Lies, dan hingga saat ini banyak bermunculan warung gudeg lainnya di daerah Wijilan. Karena banyaknya warung gudeg di sana, dan letaknya berdekatan dengan lokasi wisata Kraton Yogyakarta, maka Jalan Wijilan dijadikan sentra gudeg untuk para turis.

Kita cerita sedikit tentang sejarah gudeg di Yogyakarta yang muncul bersamaan dengan pembangunan kerajaan Mataram di alas Mentaok yang kini bernama Kotagede. Pada abad ke-16, para prajurit Kerajaan Mataram membuka hutan belantara untuk membangun peradabannya, kebetulan di hutan tersebut, ada banyak pohon nangka, melinjo, dan kelapanya. 

Pohon- pohon tersebut kemudian ditebang, dan banyaknya nangka, melinjo dan kelapa menginspirasi orang-orang saat itu untuk membuat makanan dari bahan-bahan tersebut. Karena jumlah pekerja yang sangat banyak, untuk memenuhi makanan mereka, nangka muda yang dimasak jumlahnya juga sangat banyak. Untuk mengaduknya yang dalam bahasa Jawa disebut ‘hangudeg’ harus menggunakan alat menyerupai dayung perahu. Dari proses mengaduk (hangudeg) inilah makananan tersebut disebut gudeg. Bisa dibilang gudeg tercipta dari ketidak sengajaan para prajurit Mataram. Ketenarannya pun dimulai dari keluarga para prajurit mataram, hingga melebar ke masyarakat luas.

Nah, kalau sedang ke Jogja dan naik pesawat, perjalanan kamu terburu-buru hingga tidak sempat mampir ke sentra gudeg Wijilan, kamu bisa mampir ke Gudeg Rahayu yang letaknya di dekat bandara Adisucipto. Di sana ada menu gudeg basah dengan paduan rasa pedas dan gurih.
Selain gudeg, di sana juga menjual aneka makanan oleh-oleh khas Jogja, di antaranya sudah pasti bakpia.

Gudeg & Bakpia Pathok Rahayu ini punya dua cabang, pusatnya ada di Jalan Solo Km 10 Yogyakarta (timur traffic light Bandara Adisucipto), dan cabangnya di Jalan Laksda Adisucipto Km 7,5, Tambak Bayan, Yogyakarta. Gudeg ini juga cocok sebagai menu nasi box untuk berbagai acara, kalau oleh-oleh biasanya yang paling sering diburu adalah gudeg besek/kendil dan gudeg kalengan. Nah, kalian suka yang mana, gudeg basah atau kering? Itu sih soal selera. (*)

Radio Soekamti: “Yang Muda Yang Berirama”

SETELAH beberapa tahun sempat tidak mengudara, Radio Soekamti kembali mengudara. Radio ini bisa didengarkan melalui streaming via internet di radio.soekamti.com. Radio Soekamti pertama kali mengudara ketika Endank Soekamti mengeluarkan album ‘Pejantan Tambun’ di tahun 2007 silam. Ideku mendirikan radio sendiri ini adalah untuk menyediakan wadah bagi band-band indie yang sulit masuk radio, terutama karena banyaknya persyaratan yang ditentukan. Yang bisa dicatat adalah Radio Soekamti merupakan radio komunitas pertama yang dibangun dan dikelola oleh anak band. Bahkan, Radio ini sempat menjadi nominasi MURI sebagai band yang memiliki stasiun radio sendiri.

Mulai Maret 2018 ini, Euforia Digital bekerjasama dengan Radio Soekamti lewat program bertajuk ‘GELORA & IRAMA’. Program berupa talk show streaming dan live performance dari RadioSoekamti yang dipandu Kiki Pea dan Dory Soekamti ini ditujukan untuk mengapresiasi karya teman-teman band dan musisi yang telah mendistribusikan karya mereka lewat Euforia Digital. Untuk band-band terplilih, Euforia Digital bekerjasama dengan Euforia Audio Visual akan membuat video perform musisi tersebut live dari Radio Soekamti. Dengan adanya program ini, diharapkan para musisi akan lebih bersemangat dalam berkarya dan mempromokan karya-karya mereka. Selain itu juga ada Gelora & Irama Spesial yang mengundang musisi-musisi dari luar Jogja untuk melakukan promonya di sini.

Sejak awal mula eksistensinya, respon band-band indie sangat gencar mengirim demo lagu mereka, bahkan dari lingkungan teman dekat banyak yang ingin berpartisipasi, baik siaran maupun membuat program sendiri. Di antara program yang menjadi andalan adalah Drama Kumbara, sebuah drama komedi yang di’peleset’kan dari tokoh serial laga Brama Kumbara. 
Tahun 2010, Radio Soekamti sempat vakum karena kesibukan band, dan kini aktif lagi setelah Endank Soekamti menempati ‘basecamp’ yang baru dan cukup layak untuk mendirikan studio siaran. Sebelumnya program-program yang ada lebih fokus untuk menaungi band-band indie. Dengan warna baru ini Radio Soekamti ingin lebih terbuka, dengan menerima musik-musik lain yang ingin diputarkan, tidak hanya band indie.

Drama Kumbara yang diasuh oleh Dory Soekamti ini memang sudah cukup memiliki pendengar setianya. Program ini adalah hiburan baik bagi para pendengar, maupun para pemainnya sendiri yang diam-diam memang memendam hasrat untuk berkelakar. “Skenarionya jarang detail sehingga ada ruang untuk improvisasi. Ke depannya mudah-mudahan bisa melibatkan lebih banyak teman-teman di Jogja sebagai bintang tamunya,” ujar Dory.
Kiki Pea, seorang jurnalis lokal memiliki program bertajuk AMKMM (Anda Meminta Kiki Mungkin Memutar) program yang kaya akan banyolan ini memutarkan lagu-lagu yang tidak diduga, namun ada tema khusus setiap program siarannya. Kiki juga kerap mengundang bintang tamu untuk berbicang-bincang, baik dari kalangan musisi, perupa, filmmaker, maupun insan kreatif lainnya.

Skena Rockabilly juga mendapat perhatian khusus di Radio Soekamti. Athonk Sapto Raharjo, seorang tattoo artist yang juga aktif mewadahi skena rockabilly lewat komunitasnya Rockin Spades Rockabilly Club YK selalu mengudara.
Program lainnya adalah Sersan yang dipandu oleh Tuan Arief. Sesuai namanya serius tapi santai, program ini merupakan tempatnya untuk ngobrol seru seputar anak muda yang kreatif. Drummer band LaQuena, Alvian Vinuria juga ikut ambil bagian sebagai penyiar di Radio Soekamti. Program yang bernama BendeKill ini mengudara setiap hari Jumat, pukul 8 malam. Di program ini, Vian memberikan berita terbaru dari band-band non mainstream baik manca maupun dalam negeri. Sebelumnya pada 2010 lalu, Vian juga pernah siaran di Radio Soekamti. Baginya Radio Komunitas ini bisa menjadi wadah buat band-band yang tidak berada di arus utama.

Bukan hanya mereka yang awam di dunia radio yang ikut siaran di Radio Komunitas ini. Rayya, yang juga seorang Music Director (MD) di sebuah radio swasta ini membawakan acara MOST (Movie and Original Sound Track) yang tentunya akan membahas tentang film-film terbaru, baik impor maupun lokal. Bukan hanya itu, Rayya juga membahas sekaligus lagu-lagu yang mengisi track di film yang dibahasnya. Bagi Rayya, Radio Soekamti adalah strategi yang sangat spektakuler untuk menambah kekuatan sebuah band, dalam hal ini Endank Soekamti. Ia melanjutkan, karena radio ini adalah radio streaming, maka pendengarnya pun sangat luas jangkauannya, “Asalkan ada sinyal dan jaringan internet.
Pada setiap tengah malam, Siswa-siswa DOES University menemani pendengar setia lewat program acara Selentem (Soekamtiland Tengah Malam). Di acara inilah Radio Soekamti mendapat lebih banyak pendengar setia, terutama bagi mereka yang tidak bisa tidur di kala malam.
Mau band kamu tampil di Radio Soekamti? Pantengin terus channelnya dan ikuti instagramnya di @radiosoekamti. (*)

Killthedj dan Pertanian

Kamu pasti kenal siapa Marzuki Mohamad kan? Ditengah kesibukannya sebagai rapper dan berbagai aktivitas seni budaya, pria yang dikenal dengan nama Killthedj kini memiliki kegiatan lain yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. Menjadi Petani memang sudah menjadi keinginan sejak lama dari seorang Marzuki. Pendiri Jogja Hip Hop Foundation ini juga aktif membangun desa kelahirannya di kawasan Prambanan. Ia berpikir untuk mengelola tanah dan rumah orangtuanya yang sudah tidak dihuni selama beberapa tahun. “Tinggal di desa lebih santai, sepi dan bisa kenal dengan banyak masyarakat,” katanya.

Ia berujar bahwa akan sia-sia jika pulang kampung jika tidak melakukan aktivitas berupa aksi nyata di masyarakat. Karenanya dengan modal secukupnya, pria yang akrab disapa Juki ini membuat aksi pertanian dengan pemuda di kampungnya. Sebelum melancarkan usahanya, ia dan kawan-kawannya melakukan studi banding ke beberapa daerah yang maju pertaniannya seperti, Kulonprogo, dan Salatiga. Setelahnya mereka menyewa tanah kas desa dan merekrut beberapa pemuda yang berusia dibawah 25 tahun. Di antara mereka ada yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan, karyawan toko, mantan pelayan di diskotik, hingga para pelajar SMA. Juki dan pemuda desanya menggarap berbagai sayuran, palawija, padi, hingga kolam ikan. “Tujuannya bukan pada hasil, tapi bagaimana belajar bercocok tanam dengan baik,” tegas rapper kelahiran Klaten, 21 Februari 1975 ini.

Ke 12 pemuda yang bercocok tanam bersama Juki menyiapkan 30 kantung polybag di rumahnya masing-masing. Hal ini, menurutnya untuk melakukan kedaulatan pangan di rumah masing-masing. Meski ide tersebut belum bisa dijalankan sepenuhnya, namun minimal bisa menumbuhkan kesadaran, dan menutupi kebutuhan sehari-hari. “untuk beberapa bumbu, kini kami tidak harus beli lagi setiap harinya,” ungkap rapper yang bersama JHF telah dua kali melakukan tur di Amerika Serikat ini.

Juki menceritakan sebagai contoh, dari 10 polybag dalam dua minggu bisa menghasilkan 2kg sawi. Namun jika dikalikan 12 orang, jumlah tersebut bisa menghasilkan sesuatu. Ketika panen, mereka pun menjualnya langsung ke pasar Prambanan. Sejak kecil, pencipta lagu ‘Jogja Istimewa’ ini memang sudah dekat dengan dunia pertanian. Bersama bapaknya ia seringkali ikut ke sawah untuk mencabuti rumput liar. Juki kecil juga kerap diberi tugas untuk menyiram tanaman, menggiring air untuk arus irigasi, dan membantu ketika panen. Di tengah kesibukan padatnya jadwal aktivitas kebudayaan, Marzuki selalu akan menyempatkan diri mengurus pertanian di desanya yang memang sudah mengalir di darahnya sejak kecil. (*)