Sate Kere, Sore Hore

Orang Jogja dan sekitarnya sudah pasti tahu makanan bernama sate kere. Namun bagi yang belum mengenalnya, jika merujuk pada kata ‘kere’, pastilah identik dengan kemiskinan, nggak punya duit, orang tidak mampu, dan sebagainya. Tapi yang namanya sate kere ini jauh berbeda dengan apa yang ada dibayangkan dengan istilah ‘kere’. Apa istimewanya dengan sate kere ini? sepintas bentuknya mirip dengan sate pada umumnya. Di setiap tusuk sate kere itu tidak semua berupa daging murni, ada beberapa potongan daging kecil dan sepotong daging berupa gajih. Sate tersebut dipadukan dengan sayur tempe, pokoknya wuenak tenan lah. 

Aku biasanya menikmati sate kere tiap sore di Soekamtiland. Kebetulan di dekat Soekamtiland ada penjual sate kere yang terkenal. Aku dan teman-teman DOES University cukup membeli mentahannya dan satenya kita bakar sendiri. Teman-teman yang datang, bahkan tamu-tamu di Radio Soekamti juga berkesan dengan sensasi rasanya. Bahkan kebanyakan mereka yang datang dari luar Jogja, selalu ketagihan dengan sate ini.
Sebelum dibakar, sate kere direndam di kuah yang agak keruh. Agar bumbunya lebih meresap, setelah pembakaran pertama, satenya di rendam lagi. Bedanya sate kere dengan sate lainnya ya di bumbunya itu. Biasanya sate disajikan dengan sambal kacang, atau disajikan menggunakan kuah seperti kuah gulai di sate klathak.

Meski kita membeli mentahannya, bumbu sate kere sangat meresap karena dalam proses pengolahannya terasa seperti daging matang dan bukan setengah matang. Sate-sate ini sebelumnya memang sudah dibumbui dengan waktu tertentu, karena itu ketika akan dibakar, bumbunya sudah merasuk di pori-pori daging.
Sate kere di Jalan Godean ini buka mulai sore hingga malam hari. Anak-anak DOES University biasanya punya tempat langganan, namanya Warung Sate Kere Pak Mardi, warung ini berada di seberang jalan lokasi Warung Sate Kere Bu Bambang. Sate Kere Mbah Mardi terletak di Jl. Godean Km. 7 Gesikan, Sidomulyo, Sleman Yogyakarta.

Istimewanya sate kere ini tidak hanya pada kelezatannya saja, tapi juga harganya. Bisa jadi disebut sate kere karena harganya yang merakyat, hingga orang yang tak punya banyak uang pun bisa menikmatinya.
Sate kere ini cocok banget dengan program diet keto yang sedang aku jalani. Diet keto membolehkan makan daging berlemak, yang dimasak dengan bumbu berlimpah. Ini cocok, karena meski diet, kita boleh memakan menu yang beraroma lezat, dan rasa yang gurih. Diet keto cocok bagi yang ingin membakar lemak di tubuh, tapi tetap makan enak. Secara umum, diet keto adalah diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Lewat sate kere yang nikmat ini kita harus mengubah pola pikir yang beranggapan bahwa lemak itu jahat dan bikin gendut. Yuk jangan takut kere, tiap sore kita santap sate kere ini. (*)

Selamat Jalan Made Navicula & Afi

Senin (26/3/2018) musik Indonesia berduka, kabar duka tersebut datang dari personel band grup band Navicula, Made Indra Dwi Putra. Setelah tiga hari dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, musisi Bali ini meninggal dunia. Made Indra menghembuskan nafas terakhir pada pukul 18.25. Made menyusul kekasihnya Afiriana Dewi yang meninggal sesaat setelah kecelakaan di Jalan Raya Sakah, Sukawati, Gianyar pada Sabtu (24/3/2018) dini hari. Sebelumnya dua sejoli ini mengalami kecelakaan di Jalan Raya Sakah, Ubud, Gianyar. Menurut berita, sebelum meninggal dan selama masa pemulihan, Made telah ditangani sejumlah tim dan ahli bedah syaraf. Mulai dari bedah ortopedi, bedah torax, bedah umum dan Anestesi. Rencana Made untuk menikahi Afi pun pupus. Sebelumnya Made telah datang ke rumah keluarga Afi di Godean Yogyakarta.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu setiap ke Jogja, Navicula selalu singgah bahkan menginap di Basecamp Endank Soekamti. Mereka bisa menghabiskan waktu seminggu untuk beberapa gigs di Jogja. Awal perkenalanku dengan mereka dari Nymphea Band yang juga berasa dari Bali. Mereka juga kerap menginap di basecamp Endank Soekamti. Saat itu kami menempati sebuah rumah kontrakan di dekat kawasan Casagrande Yogyakarta.

Di Jogja, kita pasti senang-senang terus, mereka bahkan ikut siaran di Radio Soekamti, biasanya kita berdiskusi seputar musik, dan kehidupan. Selain siaran, kita juga kerap bermain Play Station, dan Made salah satu yang paling hobi main game sepakbola tersebut. Navicula adalah band yang sangat ‘enjoy’ dengan rutinitasnya, mereka sangat menikmati kehidupan tur dan jalan-jalan di Jogja.

Sewaktu mendengar berita kepergian Made dan pacarnya Afi karena kecelakaan, aku sangat sedih dan terpukul sekali. Meski termasuk sudah jarang ketemu, hubunganku dengan Made sangat dekat. Mungkin karena sama-sama bassist, jadi ada hubungan emosional tersendiri. Sewaktu bertemu di Jogja, Made juga sempat curhat soal hubungannya dengan Afi yang merupakan anak Jogja. Kami bercanda soal budaya dan gaya anak muda di Jogja. Pada tahun 2013 Afi juga membantu video klip Endank Soekamti ‘Aku Gak Pulang’. Di video klip yang syutingnya dilakukan di rumah Athonk (seniman Tatto dan tokoh Rockabilly Jogja) itu, Afi tampil sebagai cameo.

Sehari setelah kecelakaan, saat Made dalam masa-masa kritisnya, aku sempat Whatsapp Robi Navicula. Aku dan teman-teman di Endank Soekamti turut berduka dan mendoakan agar Made bisa selamat dan kembali pulih. Aku juga berkata pada Robi kalau ada konser Navicula yang sudah terlanjut terikat kontrak, aku bersedia menjadi bassit mereka, menggantikan sampai Made kembali pulih. Aku rasa saat itu baru hal tersebut yang bisa kulakukan dan kubantu sebagai sahabat dan solidaritas sesama musisi.

Endank Soekamti dan Navicula juga sering manggung bareng, terutama di Bali. Tapi sayangnya belakangan ini kita jarang berjejeran waktunya, jadi justru malah mulai jarang bertemu di backstage. Bagiku Navicula adalah band yang apik banget. Liriknya bagus, tajam, dan aksi sosialnya sangat nyata. Mereka adalah band yang sangat fokus dengan apa yang mereka perjuangkan, bukan cuma pencitraan.

Misalnya saat konser musik Lockstock 2 di Stadion Maguwoharjo Sleman, Yogyakata, pada 2013 silam. Karena muncul berita negatif soal acara tersebut, Navicula malah dipuji-puji publik jejaring sosial Twitter. Mereka sangat berjiwa besar untuk terus tampil meski bayarannya gak jelas. Navicula tetap konser dan menyuarakan apa yang mereka perjuangkan. (*)

Laut Kita, Ibu Kita

Masyarakat pesisir setiap harinya berinteraksi dengan lautan dan debur ombaknya, karena kedekatannya, tak heran jika lautan dianggap seperti ibu mereka. Dari lautan pula, masyarakat pesisir mendapatkan makanan dan kehidupan lahir batin. Namun alangkah ironisnya ketika hal tersebut dinodai oleh para oknum. Seolah penghormatan terhadap laut sedang dikhianati. Oknum-oknum tersebut dengan teganya menodai lautan dengan sampah, tak sedikit lautan yang diracun, kemudian dirusak. Hal tersebut tak ubahnya seorang anak yang durhaka pada orangtuanya. Kondisi lautan kita saat ini bisa dikatakan tidak mencerminkan cinta dan bakti kita kepada sosok ibu.

Untuk memberikan penyadaran bagi masyarakat, Bentara Budaya dan Harian Kompas menyelenggarakan Eksibisi Jelajah Terumbu Karang bertema ’Laut Kita, Ibu Kita’. Acara ini pertama digelar di Bentara Budaya Jakarta sepanjang 21 – 25 Januari 2018. Pada pembukaan pameran ini, sosok ibu ditampilkan lewat tarian ‘Balabala’. Tarian karya koreografer Eko Supriyanto ini memang mendapat inspirasi dari peran ibu-ibu dalam sebuah keluarga. Sosok ibu selalu hadir dalam proses penyajian ikan di ruang makan keluarga. Sejak ikan dibawa nelayan hingga ke pasar ikan dan disajikan, sosok ibu selalu hadir. Tarian ‘Balabala ini ditarikan lima perempuan dari Halmahera, Maluku Utara. ‘Balabala’ sendiri artinya adalah ‘perempuan yang bangkit’.

Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Jelajah Koral Teluk Cendrawasih – Penyelam berusaha memotret hiu Paus (Rhincodon typus) yang sedang mencari makanan di sekitar bagan di perairan Kwatisore, Distrik Yaur, Kabupaten Nabire, Papua, Selasa (15/7).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Lewat pameran dan diskusi yang dibuka untuk umum, semoga mampu mengedukasi masyarakat luas untuk kembali menjadikan laut sebagaimana ibu cantik yang mampu memberikan kehidupan bagi semua. Ada 70 foto dalam 60 frame yang terpilih dari hasil kurasi oleh pewarta foto senior Arbain Rambey. Foto-foto tersebut terpilih dari 1.500 foto yang dihasilkan selama ekspedisi ‘Jelajah Terumbu Karang’. Tidak hanya foto keindahan bawah air yang disajikan dalam pameran ini, tapi juga bagaimana interaksi langsung para nelayan dengan hiu paus di Teluk Cendrawasih, Papua.

Selain itu juga kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Taman Nasional Komodo di NTT yang kesulitan mendapatkan air bersih, hal ini sangat kontras dengan panorama bawah laut yang menjadi destinasi wisata unggulan kawasan ini. Pameran ini juga digelar di Yogyakarta, tepatnya di Bentara Budaya Yogyakarta sepanjang 26 Maret – 1 April 2018. Pameran di Jogja juga menyajikan karya karya para fotografer yang terlibat yakni; Ferganata Indra Riatmoko, Harry Susilo, Heru Sri Kumoro, Ichwan Susanto, Ingki Rinaldi, dan Mohammad Hilmi Faiq.

Proyek ‘Jelajah Terumbu Karang’ ini dilakukan di delapan lokasi yaitu Jailolo, Teluk Cenderawasih, Komodo, Selat Lembeh, Wakatobi, Raja Ampat, Selayar, dan Bali. Dalam penjelajahan di delapan lokasi itu, para fotografer menemukan berbagai keindahan surga bawah laut dan membuat Indonesia layak disebut sebagai pusat segitiga terumbu karang dunia, dengan banyak misteri yang juga masih banyak tersimpan. Akan tetapi, cenderung hanya sebagian masyarakat yang memiliki kepedulian dan kearifan lokal dalam menjaga lautnya dari kerusakan akibat bom maupun penangkapan ikan tak ramah lingkungan lain. (*)

Berburu Kuliner di Danau Toba

Saat Soekamti Day di Pematang Siantar, Sumatera Utara, aku menyempatkan diri buat plesiran ke Danau Toba. Jarak Danau Toba memakan waktu satu jam perjalanan dari hotel tempatku menginap. Danau Toba merupakan danau terluas di Indonesia. Perairan yang berlokasi di Sumatera Utara ini memiliki panjang sekitar 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. 

Danau Toba terletak di pegunungan Bukit Barisan. Luasnya 1.145 kilometer persegi yang menjadikannya danau terluas tidak hanya se Indonesia tapi juga se-Asia Tenggara. Luas Danau Toba lebih besar dari Singapura. Danau ini terbentuk karena letusan gunung berapi yang memuntahkan 2.800 km kubik material letusan, sehingga membuat kawah yang lambat laun dipenuhi air menjadi danau. Pilihan berwisata di sini ada dua, kita mau sekedar cuci mata atau sekalian menikmati airnya. Kita bisa berenang dan menaiki kapal mengelilingi danau. Tapi kalau hanya ingin cuci mata, kita harus menaiki bukit agar bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya.

Di tengah Danau Toba terdapat pulau bernama Samosir yang memiliki beberapa desa dengan wisata alam luar biasa, seperti pegunungan dan air terjun. Di sana aku dan teman-teman berusaha mencari makanan khas Danau Toba, namun yang didapat tidak banyak, mungkin karena waktu plesiran yang sangat terbatas. Aku juga sempat bertanya kepada warga sekitar, apa makanan khas di sini, hamper semua menjawab ‘tidak ada’. Ya sama seperti di daerah lain, makanan yang tersedia adalah masakan padang, dan jualan mie instan. Tapi ada makanan khas yakni ikan bakar, terutama ikan nila.

Menu yang pertama kali kita dapatkan adalah martabak mesir. Kamu tahu apa bedanya martabak mesir dengan martabak telur? Keduanya sepintas nampak sama, padahal kenyataannya sangat berbeda. Persamaan kedua martabak ini adalah penampakannya, yakni adonan terigu yang diberi isian, kemudian dilipat-lipat sambal digoreng. Tekstur kulitnya renyah dan kecoklatan. Luarnya boleh sama, tapi kalau soal rasa, kita bakal langsung bisa membedakannya. Isian martabak telur dan martabak mesir itu berbeda, terutama daging yang ada pada martabak mesir dimasak dengan bumbu rempah yang banyak. Sebagaimana rendang dan gulai, bumbu rempahnya sangat beragam. Belum lagi ada tambahan variasi seperti jamur atau bawang bombay. Yang jelas, martabak mesir isinya lebih variatif daripada martabak telur biasa.


Menu lainnya yang memiliki cita rasa tinggi adalah Mie Gomak adalah makanan khas Toba Samosir khususnya kota Balige. Berbeda dengan lainnya, mie ini berukuran besar seperti pasta. Kuahnya mengandung berbagai macam rempah, andaliman, dan berbumbu cabai. Tidak hanya menyajikan air danau yang asri, di Danau Toba juga terdapat warung makan dengan menu Na Tinombur atau ikan bakar, sangat dianjurkan untuk kalian yang memiliki selera pedas. Salah satu masakan khas Batak yadalah Arsik. Menu ini biasanya paling banyak digunakan pada saat acara adat. Arsik merupakan makanan berbahandasar ikan seperti ikan mas, nila dan ikan mujair yang ditangkap langsung dari Danau Toba. Rasa dan aroma yang khas, dikarenakan proses memasaknya menggunakan andaliman sejenis rempah. Makanya menu ini rasanya pedas dan hangat.

Nah, kalau ingin merasakan sushi ala Batak, kita bisa mencoba Naniura. Bahan dasar ikan mas, nila, dan mujair ini tidak dimasak, digoreng ataupun direbus. Tapi karena bumbunya yang cadas, ikan mentah ini bakal lebih enak rasanya. Ketika berwisata, yang ditawarkan oleh sebuah tempat bukan sekedar pemandangan dan kulinernya saja, tapi juga ‘pengalamannya’. Seperti menaiki kapal kecil, makan ikan setempat. Memang perlu waktu yang cukup lama untuk melihat potensi yang ada di sebuah tempat wisata. (*)

River Tubing di Pringgasela

Di Indonesia ada banyak sungai panjang yang mengalir sampai puluhan kilometer, karena itu banyak tempat bagus dan sempurna untuk melakukan River Tubing. Tubing adalah meluncur bebas di sungai dengan menggunakan ban dalam. Kegiatan yang menyerupai rafting ini merupakan olahraga air yang banyak diminati penyuka olahraga yang menantang. River Tubing ini mirip dengan olahraga rafting, namun yang membedakannya adalah penggunaan ban karet sebagai pengganti perahu karet yang digunakan ketika Rafting. Jika kita Rafting menggunakan dayung, maka untuk menyusuri sungai, River Tubing cukup menggunakan kedua tangan.

Di Indonesia ada beberapa spot menarik untuk melakukan River Tubing, di antaranya; Cukang Taneuh atau yang dikenal grand canyon Pangandaran Jawa Barat, beberapa spot di Bali, Jawa Timur tepatnya kota Batu Malang, di Yogyakarta tepatnya di gua Pindul, Gunung Kidul, selain itu masih banyak tempat lainnya untuk melakukan olahraga air yang menantang ini. Pada intinya lokasi bermain Rafting juga bisa digunakan untuk bermain River Tubing.

Jika diibaratkan sebuah toko, untuk urusan destinasi wisata, Pulau Lombok merupakan toko serba ada. Di sana terdapat segala macam objek wisata. Mau ke gunung, ke pantai, kegiatan budaya, hingga wisata tubing semuanya oke. Sebagai penyuka olahraga ekstrim, aku dan teman-teman, termasuk Dory Soekamti melakukan River Tubing di Sungai Mencerit yang berlokasi di Desa Pringgasela, Lombok Timur. Lokasi tubing pemacu adrenalin itu ini merupakan sebuah sungai panjang yang sangat jernih.

Kita dapat menikmati tubing sepanjang dua kilometer selama dua jam. Selain itu yang lebih menantang adalah sebuah gua yang harus kita lalui di tengah perjalanan. Terowongan itu panjangnya 50 meter hingga 100 meter. Ada banyak spot yang menarik selama dalam perjalanan. Namun, sebelum menuju sungai Mencerit kita harus menempuh perjalanan menaiki mobil dan menyusuri jalan sepanjang hampir satu jam. Jalan yang dilewati pun tidak terlalu mudah, agak sedikit ‘off road’ lah.

Sesampainya di sungai, sebelum meluncur kita harus latihan dulu, dua tiga kali untuk menyesuaikan posisi ban dan pegangannya agar tidak mudah terbalik. Teman-teman yang lain mudah untuk penyesuaian, lha tapi giliranku ternyata sulit juga beradaptasi, karena postur tubuhku. Karena itu posisi riding terpaksa aku kustom sesuai dengan kebutuhan dan kenyamananku sendiri. Posisi ban sengaja aku balik dimana letak pegangannya ada di depanku, sedangkan normalnya pegangan tersebut ada di kanan kiri kita. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, aku pun meluncur cepat….Let’s go!!

Ternyata arus sungai deras sekali sehingga aku berada di posisi paling depan tanpa seseorang pun, termasuk guidenya. Pegangan ban pun nyaris lepas, hal itu sangat berbahaya sebab jika kehilangan ban, gimana caranya aku pulang? Setelah berhasil mengendalikan arus sungai, sambil menunggu teman-teman aku mencari tempat ‘parkir’ yang aman. Sama seperti diving, jika tidak ingin terkena arus, kita harus sembunyi di balik batu.

Setelah bertemu dengan rombongan yang lain, kita sempat berhenti sejenak melihat pemandangan alam yang menyejukan mata. Melihat area persawahan dari tengah sungai sungguh merasakan betapa permainya negeri kita Indonesia. Selanjutnya adalah sungai kedua, kali ini arusnya lebih tenang dan airnya lebih dingin.

Setelah itu kita memasuki terowongan sebuah gua, ada dua terowongan yang bernama virgin, nah bisa dibayangkan bentuknya kayak apa? Nah yang kedua namanya ‘dark cave’ sesuai namanya, gua ini cukup gelap, belum lagi di sana sebelumnya banyak laba-laba, tokek, dan kawan-kawannya. Kita berempat masuk ke gua tersebut, aku ada di paling depan, di belakangku Dory, Rio, dan Wisnu.

Selain gelap, gua ini sangat sempit dan nggak mungkin bisa balik ke belakang. “gludaakk” tiba-tiba aku terbalik dan tersumbat. Dory pun segera berusaha untuk turun dari band agar tidak menekan posisiku, air pun semakin tinggi dan kita terjebak di gua dengan ketinggian 30 meter saja. Hingga kemudian salah satu guide datang membawa lampu penerang. Namanya juga petualangan, pasti ada saja tantangan dan hal menegangkan yang terjadi.

Karena itu agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin melakukan River Tubing. Pertama tinggalkan barang berharga di loker atau di tempat penitipan yang disediakan. Karena jika nekat membawanya, kita bisa saja kehilangan barang-barang berharga karena arus air sungai bisa menelannya. Misalnya saja kunci kendaraan, jam tangan, handphone, itu mudah terlepas ketika berada di sungai yang mengalir deras. Namun jika kita ingin membawa kamera dan barang lainnya, pastikan membawa ‘housing underwater’ atau wadah tahan air yang khusus dirancang untuk melindungi barang-barang tersebut. Penting juga untuk mengenakan peralatan keselamatan seperti; helm, life jacket, dan decker. Meski sedang berada di atas sungai dengan limpahan air di kanan dan kiri, namun ada baiknya kita membawa air minum sendiri. Sebab kita akan berada di bawah sinar matahari dan mudah terkena dehidrasi.

Olahraga air River Tubing ini masih awam terdengar dikalangan masyarakat modern, namun olahraga ini sangat bagus untuk pembentukan karakter pasalnya, jika olahraga rafting bisa menampung enam orang dalam satu perahu, maka rasa takut dan tegang ketika melewati aliran sungai yang deras dapat diredam, namun pada water tubing semua tantangan dan rintangan yang ada harus dihadapi sendiri.

Kita juga tidak perlu khawatir, sebab ditemani oleh banyak instruktur terlatih yang akan menjaga sepanjang pertualangan. Salut untuk anak muda Desa Pringgasela yang tergabung di JBB Adventure. Mereka mengelola semua secara swadaya. Jika kalian ada di Lombok, dan penasaran mau Tubing di sana, langsung saja hubungi 082147460729 atau ke instagram @jbbadventure. (*)

Black Manta yang Dilindungi

Pada awal Maret 2018 aku diundang sebagai pemateri workshop Telkomsel yang pesertanya adalah tim ICT mereka. Sebagaimana perjalanan sebelum-sebelumnya, apalagi ini di Bali, tentu tidak mungkin hanya sekedar bekerja semata. Untuk kesekian kalinya aku kembali menyelami indahnya panorama bawah laut di Nusa Lembongan. Bersama dengan dua wilayah lainnya di Bali Selatan, yaitu Nusa Ceningan dan Nusa Penida, Nusa Lembongan telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi perairan. Untuk menuju ke sana, dari Sanur kita menaiki kapal selama kira-kira 40 menit perjalanan. Untuk berpetualang ke wilayah yang melawati gelombang arus lepas pantai ini, maka hanya kapal bertenaga kuat yang dapat melewatinya.

Pada penyelaman kali ini aku berjumpa dengan ikan black manta. Perairan Bali ini memang menjadi salah satu daerah penyebaran pari manta di Indonesia. Di sini terdapat Manta Point yang berlokasi di sebuah Teluk kecil. Tempat ini sangat disenangi ikan pari manta, terutama untuk mereka membersihkan diri. Ketika sedang melakukan aktivitas membersihkan diri ini, disekitarnya banyak dijumpai ikan yang sedang menunggu raksasa laut ini. Tempat ini memang menjadi salah satu spot favorit para penyelam yang datang ke Lembongan. Namun sayangnya, jika sedang terlalu banyak penyelam, ikan ini justru suka menyingkir dari lokasi tersebut.

Namun alangkah beruntungnya aku, yang berkesempatan untuk bermain dengan Black Manta yang berputar-putar di atas kepalaku. Black manta itu hewan yang langka di antara kawanan manta lainnya. Mereka sangat cerdas, namun kita harus tetap tenang. Jangan pernah bikin mereka kaget, karena meskipun jinak, tetap berhati-hati dengan Black Manta itu sangat penting, karena ada bagian tubuhnya yang sangat tajam dan bisa melukai jika tertusuk.

Saat ini pari manta menjadi jenis biota laut yang terancam punah di wilayah Indonesia. Bahkan sejak 2016 lalu, Ibu Susi Pudjiastuti telah menetapkan Status Perlindungan Penuh Pari Manta lewat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 tahun 2014. Pemerintah juga telah menetapkan dua jenis pari manta, yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi. Lewat aturan tersebut, berarti penangkapan dan perdagangan pari manta serta bagian-bagian tubuhnya sama sekali tidak diperbolehkan.


Menurut catatan, hingga November 2016, Kementerain Kelautan dan Perikanan (KKP), Kepolisian Republik Indonesia, dan Bea Cukai telah melakukan 35 kali operasi penangkapan terhadap pelaku perdagangan insang dan produk dari pari manta. Penangkapan tersebut dilakukan di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Makassar, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Padahal meski ikan pari manta dapat mencapai 40 tahun, namun satu ekor ikan pari manta hanya mampu menghasilkan paling banyak 6-8 ekor anakan saja selama hidupnya.

Penurunan populasi pari manta disebabkan oleh degradasi lingkungan, selain itu ancaman utama kepunahannya adalah tingginya permintaan terhadap insang pari manta. Karena itu IUCN (Aturan Internasional Konservasi Alam) secara internasional memasukkan pari manta dalam kategori ‘rentan’. Sementara Konvensi Perdagangan Internasional tentang Spesies Terancam (CITES) memasukkannya dalam Apendiks II yang berarti ikan pari manta belum terancam punah, tetapi bisa punah jika perdagangannya tidak terkontrol. Karena itu dengan cara masing-masing, kita memang harus sama-sama ikut melestarikan biota laut yang terancam punah ini.

Kedatanganku di Nusa Lembongan memang sudah yang ke sekian kalinya. Namun kali ini ada beberapa hal baru yang aku temui di sini. Kehidupan penduduk pulau Nusa Lembongan ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Sembari menikmati keindahan alamnya, kita bisa berinteraksi dan melihat aktivitas penduduknya. Sebagai pulau yang ukurannya kecil, Nusa Lembongan memiliki banyak penghuni. Namun pada malam hari, aku merasakan bagaimana sulitnya mencari warung makan yang buka. Di pulau ini kita bisa menyewa sepeda motor dengan mudah. Karena tempatnya aman, parkir motor pun bisa dimana saja. Dengan sepeda motor sewaan, aku, Bagus, dan Deka sempat berjalan-jalan melaju ke arah perbukitan melintasi Desa Lembongan.

Pastinya Nusa Lembongan menawarkan atraksi keanekaragaman spesies ikan dilindungi. Semuanya bercampur dengan lingkungan karang laut yang menakjubkan dari segi bentuk, ukuran, hingga warna. Selain pari manta, di sini kita juga bisa diving bersama ikan mola-mola. (*)