Melayang-Layang dengan Yoga

Pada perkembangannya yoga memiliki berbagai bentuk, mulai dari gaya klasik misalnya Bikram yoga hingga yang paling kontemporer yakni Floating Yoga. Belakangan ini yoga banyak dilakukan sebagai olahraga karena ditemukan banyak manfaatnya untuk tubuh. Sebagai bentuk olahraga yang mirip dengan senam lantai, awalnya yoga hanya dilakukan untuk meditasi. Untuk mengontrol panca indera dan tubuh mereka secara keseluruhan, para yogi (pelaku yoga) berlatih memusatkan pikirannya.

Selain fitness dan aerobik, Dita juga suka berlatih yoga. Kegiatan Floating yoga adalah sebuah bentuk inovasi dari yoga, yakni dengan melakukan gerakan-gerakan secara mengambang dengan menggunakan hammock sebagai alat bantunya. Olahraga ini memiliki berbagai gerakan yang fleksibel dengan menggunakan tali serta kain yang diikatkan pada tubuh kita. Teknik ini merupakan kombinasi antara yoga dan pilates, ini merupakan langkah yang cukup efektif buat yang ingin menurunkan berat badan serta menjaga tubuh tetap langsing. Karena itu jenis yoga yang satu ini banyak digemari karena dipercaya membuat tubuh lebih segar dan tentunya lebih awet muda. Terutama bagi yang menderita sakit punggung ataupun sakit tulang belakang, latihan ini sangat direkomendasikan.

Dalam Floating Yoga posisi tubuh akan jauh dari lantai dan kita berada dalam keadaan melayang. Karena itu yoga yang satu ini terbilang paling fleksibel di antara latihan lainnya. Gerakan dalam floating yoga membuat otot-otot menjadi lebih rileks dan melatih tubuh agar lebih fleksibel. Pada olahraga ini, kita melakukan beragam jenis gerakan yang melawan arah gravitasi bumi. Posisi ini sangat baik untuk memperkuat otot bagian kaki, tangan, paha, dan perut. Dengan melakukannya kita dipaksa menahan tubuh dalam keadaan diikat, sehingga membuat otot semakin kencang.

Bagi yang baru memulai Floating Yoga pastinya terasa berat. Gerakan melawan gravitasi ini membuat kepala cepat pusing karena peredaran darah memang hanya berpusat di otak kita. Selama beraktivitas, darah kita hanya mengalir dari kepala menuju kaki, tanpa adanya timbal balik. Floating yoga membantu memperlancar aliran darah lewat beragam gerakan yang melawan gravitasi. Sirkulasi darah yang lancar bisa meningkatkan konsentrasi, energi, serta kinerja otak.

Tidak hanya bermanfaat melancarkan aliran darah, tetapi juga sistem pencernaan kita. Floating yoga dapat membantu mengurangi rasa sakit pada perut, karena sembelit serta beragam jenis gangguan pencernaan lainnya.

Namun belakangan ini Dita sudah agak jarang latihan Floating Yoga. Karena jadwalnya malam, dan saat itu sering malas keluar rumah, dan lebih enak bermain dengan anak-anak. Tapi untuk kesehatan, Dita bisa membuat berat badannya ideal dengan diet, sedangkan berolahraga hanya untuk mengencangkan otot-otot. (*)

Fotografi Jalanan

Setelah cukup lama berkutat di videografi, aku mulai merambah dunia fotografi. Genre yang membuatku tertantang untuk kembali mengulik fotografi, adalah Street Photography atau foto jalanan. Bahasa resminya, fotografi jalanan ini adalah salah satu jenis dari foto dokumenter yang menampilkan subjeknya dari situasi candid, lokasinya pun berada di ruang-ruang publik seperti jalanan, trotoar, pasar, maupun tempat lainnya. Fotografi jalanan adalah sebuah aliran dalam fotografi yang dalam pengambilan gambarnya lebih mengutamakan objek.

Secara literatur, menurut Thomas Leuthard, “street photography hanyalah dokumentasi kehidupan di depan umum dengan cara yang jujur”. Tujuan fotografi jalanan adalah memotret hal yang murni dari kondisi dan representasi masyarakat. Ketika mengulik ‘street photography’ yang pertama kali aku cari adalah karakter gambar. Sama saja seperti di musik, yang mengharuskan kita mencari bentuk dan karakter suara.

Selain mendapatkan sebuah subyek yang unik, penting juga bagiku untuk mempunyai ‘signature style’ yang merupakan gaya khas karya-karya fotoku. Aku lebih senang dan fokus mengulik warna dan cara pengambilan gambar, selama proses pencarian karakter tersebut, aku semakin tertantang pada dunia ‘street photography’.
Fotografi jalanan adalah hasil bidikan kita di jalanan. Bedanya, kira nggak boleh men-’direct’ dan menangkap apa yang ada untuk disajikan.

Keterbatasan tersebut menjadi tantangan utama. Dalam fotografi jalanan ada etikanya tersendiri, kita nggak boleh memaksa, menggambil gambar orang tak berdaya, mencuri, dan ‘candid’ karena itu namanya paparazzi, bukan ‘street photography’. Meskipun kadang aku langgar, namun terus mengusahakan agar bisa membuat karya foto yang semakin baik lagi. Yang terpenting adalah kita tahu etikanya, dan ketika melanggar harus mempunyai solusi dan menanggung resikonya.

Untuk menciptakan fotografi jalanan, tidak ada teknik khusus, karena fotografi jalanan ini lebih mementingkan makna foto itu sendiri. Adapun beberapa kendala yang mungkin bakal dijumpai dalam fotografi jalanan adalah momen yang hilang seketika karena objek terlalu cepat bergerak atau terhalangi benda atau orang. Selain itu settingan kamera yang belum pas, otomatis membuat kita belum siap untuk memotret.

Seperti dokumenter, fotografi jalanan adalah cara efektif dan terbaik agar bisa berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa diterima di lingkungan yang tidak pernah kita kenal sebelumnya. Kita harus membuat gambar senatural mungkin, meskipun subyek tahu bahwa ia akan difoto, hal itulah yang menuntut kita agar bisa berinteraksi dengan baik di masyarakat. Sambil memotret, aku selalu memancing dengan sebuah obrolan. Ketika membidik, aku selalu menunggu dan mengusahakan agar mata subyek menatap ke kamera, hingga hasi fotonya menjadi natural, dan mendapatkan momen yang aku harapkan.

Rencananya karya-karya ‘street photography-ku ini bakal aku pamerkan, konsep, tempat, dan waktunya tunggu kabar selanjutnya ya. (*)

Rumah Adat dan Tenun Suku Sasak

Ciri khas arsitektur Suku Sasak terlihat di setiap bangunan di desa ini seperti; masjid, rumah, lumbung padi dan tempat pertemuan umum yang dindingnya menggunakan pagar anyaman dari bambu dan tiang terbuat dari kayu, dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Enaknya bangunan ini adalah bisa menyejukkan saat cuaca panas terik dan bakal terasa hangat di malam harinya. Ada beberapa bagian di dalam rumah adat Desa Sade, di antaranya ada ‘Bale Dalam’ yang di bagian depannya untuk tidur anak laki-laki dan orang tua mereka. Tempat ini sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu dan tempat makan. Dapur mereka pun masih memasak menggunakan tungku. Di sebelahnya terdapat kamar anak perempuan yang sekaligus juga menjadi tempat melahirkan. Hingga sekarang masyarakat Sade mempercayakan kelahiran bayi mereka pada dukun beranak, jika tidak bisa diatasi, mereka baru membawanya ke bidan.

Kaum pria Desa Sade kebanyakan adalah petani. Karena tidak ada sistem irigasi, panen hanya dapat dilakukan sekali dalam setahun. Mereka mengandalkan musim hujan sebagai perairannya. Hasil panen berupa padi dan palawija kemudian disimpan di dalam bangunan kecil. Lumbung Padi mereka di sebut Lumbung Pare, untuk mengambilnya menggunakan tangga yang terbuat dari bambu dan agar datang keberkahan, hanya kaum perempuan yang boleh mengambil makanan dari lumbung tersebut.

Pulau Lombok juga memiliki kain tenun sendiri yaitu tenun khas suku Sasak. Para perajin tenun 100% masih mempertahankan peralatan serba tradisional, mulai alat memintal benang hingga penenunan. Benangnya terbuat dari kapas, dan pewarnanya dari daun-daunan. Kualitas tenun pun sangat baik dengan kerapatan benang yang padat. Namun harga tenun Sasak lebih mahal karena proses produksi pengerjaannya yang memakan waktu cukup lama. Pengerjaan sehelai kain berukuran 60 x 200 cm memakan 2-4 minggu, bergantung pada kerumitan motif.

Kira-kira satu bulan hanya bisa menyelesaikan satu kain tenun. Kain yang ditenun secara manual ini memiliki beragam motif dengan harga mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Sejak usia 8-9 tahun, anak gadis mereka sudah diajarkan menenun, dan jika belum bisa menenun, anak gadis di Desa Sade belum diijinkan untuk menikah.

Desa Sade terletak sekitar delapan km, hanya dengan memakan waktu sekitar 20 menit perjalanan dari Bandara International Lombok. Jika ingin berwisata ke Pantai Seger dan Tanjung Aan, jangan lupa singgah ke Desa ini. (*)

Belajar Menjaga Keutuhan Budaya di Desa Sade

Pulau Lombok menjadi tempat terakhir Road Show dan Media Tour ‘Salam Indonesia’ yang digelar sepanjang Januari 2018 lalu. Setelah aktivitas yang cukup padat, rombongan Endank Soekamti diajak berjalan-jalan menikmati indahnya alam, keagunan budaya, dan kearifan lokal setempat. Salah satu tempat yang sangat membuatku terkesan adalah berkunjung ke Desa Sade. Negeri kita memiliki kekayaan budaya yang sangat beraneka ragam. Keberadaan Desa Sade di Pulau Lombok ini merupakan salah satu budaya tradisional yang masih lestari.

Desa Tradisional ini merupakan sebuah perkampungan Sasak, yang merupakan suku asli Pulau Lombok. Desa Sade berada di wilayah bagian selatan Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kehidupan keseharian masyarakat di sini masih sangat kental dan memegang teguh adat tradisi Sasak tempo dulu. Aku melihat sendiri bagaimana rumah adat khas Sasak yang berdiri kokoh dan masih terawat dengan baik.

Dalam bahasa jawa kuno. Sade diambil dari kata ‘Noer Sade’ yang berarti cahaya. Kampung ini berdiri sejak 1079 masehi, dan sejak 1975 wisatawan mulai banyak masuk ke kampung ini. Desa seluas 5,5 Hektar ini, memiliki  rumah tradisional sejumlah 150 dan setiap rumah terdiri dari satu kepala keluarga, dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang. Semua penduduk di sini masih satu keturunan, mereka melakukan perkawinan antar saudara. Bentuk pintu rumah-rumah mereka sangat pendek, mirip dengan rumah-rumah di jawa, agar bisa saling menghormati, karena kalau masuk rumah kita diharuskan menunduk biar nggak kejedot pintu. Sebelumnya penduduk Desa Sade menganut Islam Wektu Telu, dan sekarang mereka sepenuhnya memeluk Islam.

Masyarakat Sade sangat menjaga keutuhan budaya dan pola hidup yang diwarisakan leluhur mereka. Bentuk bangunan, adat istiadat, tarian, musik, busana, hingga penggunaan perlatan keseharian mereka masih sama seperti hampir seribu tahun yang silam. Desa Sade terletak di perbukitan tanah liat, yang jarak gundukan antar bangunannya sangat rapat, dan tersusun rapi ke atas. Setiap bangunannya dihubungkan dengan jalan setapak. Bangunan rumahnya sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, tiang atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Lantai rumah mereka pun terbuat dari tanah liat yang di campur dengan sedikit sekam padi.

Hal yang paling unik di sana adalah penggunaan kotoran kerbau yang dipercaya dapat mengusir serangga sekaligus menangkal serangan magis yang ditujukan pada penghuni rumah. Setiap upacara adat di waktu-waktu tertentu, lantai rumah tersebut digosok dengan kotoran kerbau yang dicampur dengan sedikit air. Setelah kering, lantai tersebut disapu dan digosok dengan batu. Selain untuk menangkal serangan magis, penggunaan kotoran kerbau juga berfungsi untuk membersihkan lantai dari debu, dan membuat lantai lebih halus dan kuat. Mungkin karena zaman dulu belum ada semen, maka masyarakat Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah mereka. Meski menggunakan bahan organik berupa ‘tai kebo’, aku nggak mencium baunya. Masyarakat Sade memang keren! (*)

Fitness tau Diet?

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa untuk menjaga kesehatan, olahraga merupakan salah satu hal yang penting dilakukan. Setelah melahirkan Astu, putra ketigaku, badan istriku jadi membengkak, alias gemuk. Karena masih menyusui, Dita belum boleh menjalani diet. Satu-satunya jalan agar bentuk tubuh kembali normal adalah dengan fitness. Paling tidak dengan fitness ia bisa mengencangkan kembali otot-otot yang sebelumnya tidak bekerja. Olahraga setelah melahirkan membantu mengembalikan bentuk tubuh kembali seperti sebelum hamil. Tak heran, banyak ibu setelah melahirkan akan lebih giat berolahraga.

Namun waktu yang tepat untuk bisa mulai olahraga setelah melahirkan tergantung dari kondisi dan kesanggupan. Selama merasa sanggup dan dokter juga memperbolehkannya, tidak masalah jika ingin melakukan olahraga seminggu setelah melahirkan. Tapi sebaiknya konsultasikan ke dokter sebelum mulai olahraga setelah melahirkan.

Sebenarnya Dita mulai rutin fitness setelah melahirkan Barak, dan mulai berhenti ketika positif hamil anak ketiga. Baru Februari 2018 ini ia kembali rutin fitness. Tentunya Dita tidak sembarangan latihan, karena dibimbing oleh personal trainer di sebuah pusat kebugaran di Jogja. Latihan fitnessnya hanya dititik beratkan untuk kekuatan otot pinggul, tangan, dan kaki. Dita melenturkan kembali otot pinggul, otot perut, bisep, trisep, dan hamstring. Letak otot bisep ini terdapat pada lengan atas, dan cukup dikenal karena dekat dengan permukaan kulit sehingga mudah untuk dilihat. Sedangkan otot triseps merupakan otot besar yang terletak di sepanjang lengan atas. Fungsi dari otot trisep adalah sebagai penahan beban pada sendi bahu dan ekstensi sendi siku.

Dita juga mengaku senang main kettlebell, alat fitness berupa bola besi dengan gagang yang tebal. Kettlebell sebenarnya merupakan olahraga asli masyarakat Rusia. Prinsip latihan kettlebell terbagi menjadi tiga kategori gerakan yakni swing yang berdampak pada pinggul, pull and push yang juga berdampak dari pinggul sampai kaki dan squad yang lebih mengarah pada bagian perut dan kaki. Selain mampu membentuk badan, dengan sering berlatih kettlebell, kita dapat mengeluarkan tenaga yang cukup besar dalam jangka waktu yang panjang, Manfaat kettlebell lainnya adalah untuk stamina. Kettlebell cocok untuk latihan intensif yang fokus pada otot utama, membakar lemak tubuh, dan membangun kekuatan tubuh. Menurut para ahli, satu kali (35 menit) berlatih kettlebell sama dengan lima jam berlari di atas treadmill”.
Biasanya Dita bisa melakukannya 10 menit tanpa berhenti.

Setiap Senin sampai Jumat Dita berlatih di Celebrity Fitness. Sebelumnya, setelah kelahiran Barak, ia berlatih di Adonis Fitness. Untuk personal trainer, Dita merasa lebih nyaman dengan sesama wanita. Biasanya kan personal trainer memberikan deskripsi yang menyentuh bagian otot-otot tertentu. Karena itu dengan personal trainer wanita ia merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi.

Sewaktu fitness di Adonis, aku juga sempat ikut latihan rutin sampai tiga bulan. Hal itu karena aku melihat perkembangannya secara signifikan. Tapi lama-kelamaan aku jadi malas, dan memang tidak percaya bahwa olahraga bisa melangsingkan tubuh, akhirnya malah justru lebih banyak makan. hahaha.. Untuk urusan menguruskan badan, aku lebih percaya pada diet daripada berolahraga. (*)

Dokumenter Lebih Relevan

Setelah bergelut dengan film fiksi beserta visual effect-nya, aku tertarik untuk mendalami dokumenter. Ternyata aku lebih ‘enjoy’ dengan dokumenter yang kontennya memang diolah dari realitas. Kepuasannya pun berbeda karena ada manfaat yang lebih untuk band. “Aku rasa karya dokumenter lebih relevan dan ini yang dibutuhkan anak band, bukan visual effect”.

Karena itu tahun 2012 aku mulai membuat terobosan di album ‘Angka 8’ dengan menyuguhkan proses pembuatan album tersebut selama satu bulan dalam bentuk web series yang bisa disaksikan lewat YouTube. Web series ini banyak mendapat respon positif, dan penonton yang mencapai ribuan viewer di setiap episodenya. Web series ini juga bisa lebih mendekatkan Endank Soekamti dengan penikmatnya. Hal ini menjadi materi promo yang efektif.

Sewaktu pembuatan web series ‘Angka 8’ aku menggunakan kamera Canon 5D. Sejak album ini, selain bermusik Endank Soekamti juga produktif membuat film, baik itu film panjang maupun film-film pendek yang dipublish di media sosial. Hal tersebut dilakukan karena sebagai band, sejak dulu Endank Soekamti membutuhkan media untuk menyampaikan dan mempublikasikan karya-karyanya ke masyarakat.


Band-band seperti Endank Soekamti memang sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk tampil di media massa, apalagi di televisi. Makanya lewat web series ini bisa memenuhi kebutuhan Endank Soekamti agar dapat terus bertahan, berkembang, dan berkarya lebih baik lagi. Pembuatan film akhirnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan Endank Soekamti sebagai sebuah band. Tradisi ini terus berkembang di setiap pembuatan album Endank Soekamti selanjutnya.

Kecuali untuk album ‘Salam Indonesia’ yang direkam di lautan Papua tanpa sinyal yang layak untuk mengunggah video, setiap web series ini tayang setiap hari bertepatan dengan waktu sahur. Untuk produksi rekaman biasanya dilakukan jam sembilan pagi sampai malam. Hari itu juga langsung proses editing, dan diunggah pas waktu sahur.

Setelah album ‘Soekamti Day’ yang direkam di Gili Sudak, Lombok, aku mulai tertantang untuk terus membuat video yang harus aku unggah setiap harinya selama 30 hari. Banyak yang taruhan kalau aku nggak bakal sanggup melakukannya. Bahkan istriku sendiri berani menjanjikan sebuah laptop baru jika web series ini bisa tayang dan konsisten selama 30 hari. Akhirnya, aku menang dan berhasil mendapatkan macbook baru untuk mengerjakan Diary Of Erix Soekamti (DOES), yang kini sudah lebih 600 episode.(*)

Film Layar Lebar Pertama yang Kandas

‘Long Live My Family’ menjadi lagu ajaib yang men-trigger hampir semua kreatifitas yang ada di Endank Soekamti. Bermula dengan belajar visual effect dalam editing video, dan akhirnya sukses membuat video klip sendiri. Dengan modal nekat dan percaya diri, setelah berhasil ngulik-ngulik visual effect, lagu ini kemudian aku kembangkan menjadi film panjang yang mengangkat karakter wayang superhero yang berjudul sama.

Film ini menjadi sekolahku dibawah bimbingan X Code Films, sebuah rumah produksi yang bergerak dibidang Audio-Visual, Advertising, dan Multimedia. Rumah produksi ini memiliki tim kreatif yang didukung oleh pembuat film, kreator, seniman video, dan para kru yang berpengalaman di bidang multimedia.
Bermetamorfosis dari Digital One (D-1) Production yang berdiri tahun 2003, maka  22 Juni 2005 menjadi momentum berdirinya X-CODE films. 

Berangkat dari lima orang pekerja multimedia, kini X-CODE films telah banyak berkarya. Hingga saat ini banyak sekali karya film, TV Program, Video Clip, Iklan TV, dan sebagainya yang telah mereka kerjakan.  Bersama USAID-LGSP mereka memproduksi Film TV ‘Lubang Tak Berujung’, selain itu sebuah Dokudrama berjudul ‘Tetes Embun Harapan’, Features Film berjudul ‘Tunggu Aku di Taman Cinta’, dan sederet Fim dokumenter lainnya sudah mereka produksi.

Belum lagi keterlibatan mereka di sederet film produksi internasional seperti, ‘Eat, Pray, Love’, ‘Java Heat, ‘Amphibious 3D’, dan masih banyak lagi. Selain beberapa Film, X-Code Films juga telah membuat banyak video klip, sebut saja lagu-lagu Shakey Band, Bagaikan, Salman Al Jugjawy (Sakti ex Sheila on 7), Kiki & The Klan, dan sederet video klip lainnya.

Lewat proyek ‘Long Live My Family’ inilah aku baru tahu bahwa di produksi film panjang ternyata tidak mudah, apalagi jika melibatkan divisi dan kru yang cukup banyak. Sebagai sutradara, aku belum berani bilang ‘Cut!’, tahunya cuma ‘Action!’ saja. Hahaha…

Membuat film benar-benar tidak bisa dikerjakan sendirian, apalagi untuk film dengan kualitas untuk diputar di bioskop. Film ini menghabiskan bajet sekitar Rp 70 juta. Meski untuk alat-alat suting sepenuhnya di support oleh X-Code Film, bajet segitu aku habiskan untuk untuk biaya produksi, properti, dan kru.

Sebagai pembuat film anyaran, film ini sangat menghabiskan energi di proses editing. Aku juga mengalami kesulitan di bidang penyutradaraan. Sebulan lebih nggak selesai juga, akhirnya aku ‘eneg’ dan muak sendiri dengan filmnya. Film ini mengalami kegagalan secara teknis, dan akhirnya harus kandas. Film panjang ‘Long Live My Family’ aku vonis sebagai proyek gagal. Kegagalan itulah yang menamparku untuk lebih belajar lagi.

Kegagalan secara teknis ini aku selesaikan dengan refreshing dengan latihan membuat VFX di proyek berjudul ‘Daddy Miss War’. (*)

Belajar VFX di Long Live My Family

Setelah tiga tahun tidak merilis album, di tahun 2010 Endank Soekamti pindah di bawah naungan Nagaswara Music dan melahirkan album Soekamti.com, ini adalah alamat official web yang juga dijadikan judul album keempat Endank Soekamti. Selain album musik, Endank Soekamti juga membuat komik biografi yang dirilis oleh Gramedia dengan judul ‘Long Live My Family’, diambil dari salah satu judul lagu di album ini. ‘Long Live My Family’ adalah sebuah lagu yang didekasikan untuk Kamtis Family yang selalu setia dan ada untuk mensupport Endank Soekamti dalam suka dan duka.

Setelah belajar lewat kamera iPhone, aku tertantang untuk membuat sesuatu yang lebih lagi. Proyek audio visual yang aku kerjakan selanjutnya adalah video klip singel ke tiga Endank Soekamti, ‘Long Live My Family’. Tidak seperti dua singel sebelumnya yang secara musikal menampilkan identitas Endank Soekamti sebagai band rock, penuh dengan beat menghentak dan distorsi, single “Long Live My Family” ini hanya dimainkan oleh gitar akustik, dan Dory Soekamti menjadi lead vokalnya. Lagu ini tercipta dari keakraban serta eratnya kekeluargaan Kamtis Family pada saat masa–masa Endank Soekamti vakum dan tidak mengeluarkan album antara 2007 – 2010. Mereka (Kamtis Family) dimanapun berada, tetap setia mendukung Endank Soekamti.


Video klip ini merupakan karya pertamaku yang menggunakan kamera DSLR dan pertama kali juga membuat visual effect (VFX). Di video klip ini aku menggunakan kamera Canon 7D, dengan lensa 24-70mm seri L. Di video klip ini aku juga pertama kali mengenal dan menggunakan iMac. Untuk pengeditan aku menggunakan software After Effect dan Final Cut Pro yang semuanya kupelajari sendiri lewat tutorial YouTube.

Ada cerita sendiri soal bagaimana aku mendapatkan seperangkat alat editing ini. Saat itu aku juga bekerja sebagai produser musik, dan bilang ke label ada album sebuah band yang sedang di mastering. Pihak label saat itu, Nagaswara juga memberikan modal untuk membuatkan video klip yang aku bilang rencananya akan dibuat oleh Zeroshit (sebuah komunitas film di Jogja). Pada prakteknya, semua dana yang turun aku belikan iMac, dan video klip tersebut aku kerjakan sendiri. Hehee.. tricky ya..
Saat itu aku belum bisa menggunakan komputer tersebut, untuk menyalakan, mematikan, dan meng-install-nya aku minta tolong ke Ulog. Karena itulah aku harus bertanggung jawab kalau hasilnya harus apik, harus bagus. (*)

Film Pertamaku ‘Don’t Ask’

Tahun 2005 dengan ‘pede’nya aku mulai membuat film pendek sendiri. Film dengan menggunakan iPhone 3gs ini berdasarkan kisah nyata seorang teman keturunan Tionghoa. Sepanjang usianya, ia selalu dihantui sebuah pertanyaan dalam pertemanan dan percintaan. Film yang meng-capture tentang ‘rasa’ ini bercerita tentang pertanyaan-pertanyaan yang tabu untuk ditanyakan seperti; umur, agama, pekerjaan.

Ofan Rahadi (Ahonk) menjadi pemeran utamanya, dan dibantu sederet aktor lain yang merupakan orang-orang di selingkaranku; Mr. Didik, Nocky, Dita, Nitha, Ajenk Havinhell dan Dochi PWG. Di film ini aku menjadi sutradara, merangkap DOP, sekaligus editornya. Isa Mahendra aku percayai sebagai asisten sutradara. Audionya digarap oleh Ari Soekamti dan Paijo Stripes, pencahayaan oleh Wawak, dan keseluruhan film ini dibantu oleh Raya Differ, Sensen The Dumbest Rockstar, Rio Kribo, Mr. Gaduls.

Mau tahu judulnya? “Don’t Ask!”, Ya, filmnya memang berjudul ‘Don’t Ask’. Saat itu film ini sudah menjadi viral, tapi bukan di dunia maya, melainkan di warnet-warnet seputar Jogja.
‘Don’t Ask’ juga berhasil menjuarai kontes film iPhone di Eropa ‘Best iPhone Short Film’ untuk kategori drama. “lumayan laah ya, untuk pemula.”

Aku juga sempat membuat Indonesian iPhone Film Club, Bersama Goen Rock, yang kini sudah menjadi kameraman ternama di Indonesia. Komunitas tersebut kini sudah bubar tanpa meninggalkan jejak apa-apa. ‘Don’t Ask’ adalah karya pertama, dan aku malu untuk menontonnya lagi saat ini. Hehehe..

Namun dari modal membuat ‘Don’t Ask’ ini kemudian menantangku untuk membuat sesuatu yang lebih lagi. Aku pun lalu memberanikan diri untuk membuat sendiri video klip ‘Long Live My Family’. (*)

‘Bawakan Aku Bunga’ Perkenalanku dengan Audio Visual

Berbeda dengan musik yang memang sudah kubayangkan kalau aku akan berkarir di bidang tersebut, sebelumnya aku sama sekali nggak pernah kepikiran untuk berkecimpung di dunia audio visual. Karena memang tidak pernah punya referensi, aku tidak pernah membayangkan untuk membuat film sendiri, apalagi menjadi seorang sutradara. Namun sebagai musisi, ternyata dunia audio visual sudah menjadi kebutuhan tersendiri, dan kemudian aku dituntut untuk mengerti dan menguasai sinematografi.Kebetulan sejak dulu Endank Soekamti sudah meyadari betapa pentingnya sebuah dokumentasi. Kami rajin merekam momen-momen sehari-hari dengan kamera video handycam milik Dory Soekamti. Tapi rekaman-rekaman dalam format kaset video tersebut tidak ada yang diedit, dan belum tahu nantinya untuk apa.

Aku sendiri mulai bersentuhan dengan audio visual ketika bekerja sebagai sound eingineer dan mengerjakan mixing di FK Studio. Kebetulan saat itu Ferry, pemilik FK Studio adalah mahasiswa Fakultas Seni Media Rekam di ISI Yogyakarta. Ia membuat proyek video dan punya tempat praktik audio visual untuk teman-teman kampusnya. Dari situ aku mulai dapat banyak referensi, bahwa di dunia audio visual ada berbagai profesi seperti, sutradara, editor, kameraman, dan sebagainya. Ferry sekarang juga dikenal sebagai additional keyboard untuk Sheila On7.

Suatu kali tahun 2003 aku terlibat pada pembuatan film pendek berjudul ‘Bawakan Aku Bunga’ karya Ndik Pradhono. Film tersebut juga merupakan tugas kuliah Ferry dkk. Kebetulan soundtrack film tersebut menggunakan lagu karanganku yang berjudul sama. Karena ‘Bawakan Aku Bunga’ kental dengan nuansa pop, maka dipilihlah band bernama Sophie untuk membawakannya.

Peranku di film tersebut sebenarnya nggak ada, aku cuma sebagai penulis lagu saja dan melihat semua proses produksinya. Tapi dari proyek tersebut akhirnya menginspirasi Endank Soekamti untuk terus membuat video, dan saat itu aku yakin bahwa kemudian hari akan ada sutradara yang merespon dokumentasi-dokumentasi video milik Endank Soekamti.

Sejak saat itu Endank Soekamti memutuskan untuk beli kamera video sendiri, formatnya Mini DV yang masih pakai kaset, merknya Sony Nex 5. Saat itu yang pegang kamera masih ganti-gantian. Meski dalam bentuk yang sederhana, untuk dokumentasi panggung pun sudah mulai diedit. (*)