Swastiastu

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2017, lahir putraku yang ketiga, kuberi dia nama Swastiastu. Kelahirannya juga menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga besar Endank Soekamti, yang sehari sebelumnya secara resmi meluncurkan album ke 8 ‘Salam Indonesia’.
Swastiastu akan menjadi teman belajar, bermain, dan tumbuh kembang bersama kedua kakaknya GodBlessYou (Goku) dan Barakkallah (Barak). Swastastu terdiri dari kata-kata Sansekerta: SU + ASTI + ASTU, Su artinya baik, Asti artinya adalah, Astu artinya mudah-mudahan.
Jadi Swastiastu ialah “Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Tuhan YME”. Swastiastu juga merupakan salam pembuka yang biasa diberikan oleh orang Bali kepada seseorang yang ditemuinya.

Kamus Bahasa Bali Kata “Swastyastu” berasal dari kata suasti, yang berarti selamat, menjadi suastiastu yang berarti semoga selamat. Sedangkan menurut kamus Jawa Kuna-Indonesia “Swasti” berarti kesejahteraan, nasib baik, sukses; hidup, semoga terjadilah. Sedangkan “astu” yaitu: Semoga terjadi, terjadilah. Maka “Swastiastu” berarti semoga terjadilah nasib baik, sungguh sejahtera. (*)

 

Barakallah

Berbeda dengan kakaknya, anak keduaku Barakallah cukup rewel dan agak susah dibilangin tentang suatu hal. Jika Goku jarang sekali terserang penyakit, Barak justru kebalikannya, di usianya yang menginjak tiga tahun, dia pernah diserang berbagai penyakit dan harus dirawat di rumah sakit. Barak pernah terserang demam berdarah, kekurangan cairan, dan terkena virus.

Barak lahir 5 Mei 2014 di rumah sakit yang sama, juga dengan dokter kandungan yang sama dengan Goku. Dia sangat mengidolakan kakaknya, apapun yang Goku punya, dia juga harus punya. Sejak kecil dia sangat dimanja, oleh ibunya, juga kakaknya. Namun perlahan beberapa sifatnya akan aku ‘recovery’ saat ia sudah punya adik lagi.

Ketika Barak lahir, aku sudah mainan video, karena itu banyak sekali dokumentasi kesehariannya. Bahkan ketika akan lahiran, dan aku tahu bahwa istriku akan menjalani operasi caesar untuk kedua kalinya, aku memasang kamera dan menitipkannya pada suster. Aku memproyeksikan anak-anakku bakal jadi orang besar nantinya, maka dari itu dari kecil sudah disiapkan dokumentasi kesehariannya. Meski lebih lengkap dokumentasinya, namun foto Barak kalah banyak dengan Goku, karena Barak sangat susah untuk difoto.

Jujur, aku banyak sekali melewatkan perkembangan Barak. Pertama ketika ia bisa berjalan untuk pertama kalinya, aku sedang berada di Lombok untuk rekaman album ke7 Endank Soekamti, saat itu aku juga kehilangan momen lain, yaitu ketika Goku untuk pertama kalinya bisa berbahasa Inggris, padahal sebelumnya aku belum pernah dengar dia ngomong pakai bahasa Inggris.

Buatku semua momen yang terjadi pada Barak adalah spesial. Selain karena bentuk wajahnya yang lugu, Barak itu anaknya ‘chaos’ banget, apalagi jika dia sudah joget. Dia lebih nggak bisa diam, kalau sedang ke luar rumah, justru aku lebih ketat mengawasi Barak. (*)

Jangan Pernah Mengintimidasi Anak

Aku juga tidak ingin anak terlalu diintimidasi, pernah suatu ketika pengasuhnya menakut-nakuti Goku dengan kecoa, “awas itu ada kecoa!” jika terdengar kalimat tersebut Goku pun ketakutan. Sebagai orangtua, aku harus melakukan ‘recovery’. Berhari-hari aku bermain kecoa sampai Goku tidak takut lagi. Dia juga sempat takut dengan topeng-topeng monster yang ada di basecamp Endank Soekamti.

Karena itu aku selalu mengajaknya bermain dengan topeng-topeng monster tersebut, lalu perlahan aku tanamkan keyakinan bahwa jangan takut dengan topeng-topeng monster itu, “di balik topeng itu kan ada daddy dan teman-teman daddy” kataku sambil memperlihatkannya foto-fotoku dengan monster-monster tersebut.

Aku juga mengajarinya agar tidak takut gelap dengan mengajaknya ’night tour’ di kebun belakang rumah. Dengan bermondalkan lampu senter, aku mengajaknya jalan-jalan. “Gelap itu menyenangkan, kamu bisa mendapat pengalaman dan melihat banyak hal yang teman-temanmu mungkin nggak pernah melihatnya”. Sejak saat itu dia pun tidak pernah takut jika ingin ke dapur atau kamar mandi, meski lampu belum dinyalakan.

Namanya anak-anak sudah pasti banyak hal-hal kurang pantas yang dilakukannya. Pernah suatu ketika aku dan keluarga istriku berziarah ke makam nenek istriku. Di sana ramai sekali dan banyak orang yang sedang nyekar dan berdoa. Tiba-tiba Goku berdiri di atas batu nisan dan teriak “Rise People, Rise!” dan kami semua pun tertawa melihat tingkahnya. (*)

 

Biarkan Anak Mengeksplorasi Kesukaannya

Setelah mengerti ‘baik-buruk’, seorang anak akan bisa melihat potensi yang ada pada dirinya. Aku sebagai orangtua hanya membimbing dan membiarkan anak mengeksplorasi kesukaannya sendiri. Jika kita melakukan hal ini pada anak, kita bisa melihat sendiri ketika ada orangtua yang fokus mengejar satu hal pada anaknya, maka anak tersebut hanya mendapatkan satu hal, itu juga tidak maksimal jika anak mendapat tekanan orangtuanya. Sedangkan jika kita membiarkan anak mengejar keinginannya, ia akan mendapatkan sepuluh hal berbeda yang ia senangi.

Kesalahan yang terdapat pada orangtua, terutama di zaman dulu adalah memfasilitasi hal-hal yang menjadi kekurangan anak. Contohnya, jika anak lemah di mata pelajaran matematika, maka orangtua akan memberi les khusus matematika pada anaknya. Sedangkan aku berbeda, aku justru memfasilitasi apa yang anakku suka.

Di sekolahnya SD Tumbuh, Goku memang bukan anak yang pintar secara akademis. Nilai-nilai di sekolahnya anjlok semua. Bahkan sewaktu di TK Playgroup Mata Air, dia pernah nggak naik kelas. hahaha… Namun di luar itu, Goku banyak kelebihannya. Contohnya, tanpa pernah aku ajari, dia bisa dengan santai bergaya di depan kamera. Di depan kelas, di hadapan guru dan teman-temannya, dia bisa melakukan presentasi dan bercerita tentang Yogyakarta dengan bahasa Inggris, dengan logat ‘Amerika’ pula.

Menurutku standar kecerdasan anak itu berbeda-beda. Untuk anak seusianya, Goku memang telat menguasai baca tulis, namun aku percaya ia akan mau belajar dan menguasai baca tulis jika sudah terdesak dengan keinginannya. Contohnya, Goku itu senang sekali dengan tutorial, nah jika dia nggak bisa baca tulis kan nggak mungkin bisa menikmati tontonan tentang tutorial.

Di sekolahnya, Goku diajari tentang ‘team work’, di sekolahnya dia juga bergaul dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, dia juga bergaul dengan anak-anak penyandang difable. “Goku itu anaknya ngalahan banget sama teman-temannya”.

Aku ingin Goku tumbuh dan besar menjadi anak-anak yang memiliki ‘point of view’ biasa saja, hingga kini Goku hanya baru sekali menonton konser Endank Soekamti. Goku pernah sempat bingung ketika di mal ada orang yang mengajaknya foto bareng. Goku nggak senang diajak foto sama banyak orang, lalu aku menegurnya.
“Goku jadi orang nggak boleh sombong”. kataku.
“Sombong itu apa sih daddy,” dia bertanya balik.

Aku mengajarinya supaya mau kalau diajak foto sama orang, “orang-orang yang ngajak foto itu senang sama Goku, dan Goku juga harus buat mereka senang”. Yang aku ajarkan adalah bagaimana bisa menyenangkan orang, itu yang jadi ‘Gol’nya. (*)

Tidak Harus Jadi Pintar, Tapi Pastikan Mereka Jadi Orang Baik

Hal pertama yang aku ajarkan pada anak-anaku adalah perbedaan antara baik dan buruk. Aku selalu berusaha mengenalkan kalau ini baik, dan itu buruk. Contohnya, bagaimana cara memanggil orang tua, cara bicara yang sejajar, cara makan, dan sebagainya. Selain itu yang lebih penting pada anak laki-laki adalah mengajarkannya bagaimana sikap dan cara memperlakukan perempuan, dan bisa mengalah dengan teman.

Anak-anak seusia Goku memang seharusnya diberikan kebebasan menggeluti apa yang dia suka. Sebagai orangtua, jangan pernah memaksakan kehendak agar anak-anak bisa memenuhi keinginan orangtuanya. Aku sangat nggak setuju dengan orangtua yang ‘hyper parenting’. Aku pernah melihat sendiri orangtua seperti ini ketika menjadi juri lomba anak di sebuah mal di Solo.

Orangtua yang ‘hyper parenting’ ini biasanya merasa tidak puas dengan karir atau segala hal yang mereka peroleh, sehingga mereka melampiaskannya pada anak-anak mereka. Orangtua mesti tahu bahwa memaksakan kehendak adalah hal yang tidak baik. Dampaknya bisa berakibat sangat fatal bagi anak-anak, baik secara psikologis maupun secara fisik.

Pada dasarnya, setiap anak-anak memiliki jiwa yang bebas. Anak-anak juga dapat berkembang dengan baik karena mereka memiliki kebebasan dalam bereksperimen, bereksplorasi, berpendapat, dan lainnya.

Proses ini memang seharusnya mereka lalui dalam kehidupan, agar anak dapat memaksimalkan potensinya, dan mengasah kecerdasan mereka dalam masa tumbuh kembang. Sebuah impian dan cita-cita seorang anak bisa selalu berubah. Namun orangtua jangan khawatir apakah bakat yang sedang ditekuninya bisa menjadi kariernya di masa depan.

Yang penting adalah jangan pernah memaksakan kehendak untuk sama seperti orangtua, dan bisa membimbing semua bakat minat dan potensi yang memang sudah di anugerahkan-Nya.

“Aku gak pernah ngajarin jadi pintar, tapi memastikan mereka jadi orang baik”

 

Godblessyou

Anak pertamaku Godblessyou lahir 16 April 2008. Awalnya aku ingin proses persalinan secara normal, namun karena kelahirannya terlambat sebelas hari, dan air ketubannya sudah hijau, untuk urusan ini keinginanku pun tidak kekeuh seperti biasanya, Goku harus dilahirkan lewat operasi caesar. Hal yang kurasakan saat itu adalah tidak tega melihat ibunya, karena hal beban yang ditanggung ketika punya anak bukanlah pada sembilan bulan mengandung, namun seumur hidup anak itu.

“Selamat pak, anak bapak sudah lahir!” aku langsung kaget ketika mendengar ucapan dokter yang mengurus persalinan anak pertamaku. Yang lebih mengagetkan lagi adalah raut muka anakku tampak sangar sekali persis kayak petinju, antagonis banget. Seketika aku langsung teringat dosa-dosa yang pernah kulakukan. Untungnya raut sangar di muka Goku itu lama-lama menghilang.

Tidak ada ritual dan selebrasi khusus untuk merayakan kelahiran anak pertamaku, namun sesuai adat dan tradisi Islam Jawa, kami melakukan aqiqah dan prosesi memotong atau mencukur rambut bayi. Aqiqah adalah sembelihan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran seorang bayi, sedangkan tradisi cukur rambut adalah hal berguna yang dipercaya untuk membuka lubang pori-pori yang ada di kepala. Ini juga dipercaya bisa bermanfaat untuk menguatkan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran si bayi.

Semakin besar sifat Goku makin terlihat. Dia jauh lebih friendly daripada bapaknya. Goku juga cepat sekali beradaptasi, mempelajari, dan mengeksplorasi hal-hal yang dia suka. Awalnya aku pikir Goku sangat minat dengan musik, sewaktu belum punya gigi, ia sudah mahir bernyanyi ‘Long Live My Family’ dan vokalnya itu sama sekali nggak fals. Sejak kecil, sudah banyak hal yang ia coba, mulai dari; yoyo, menggambar, membuat animasi, robotik, skateboard, dia juga bisa berenang dan sama sekali nggak takut dengan air. Namun yang paling bikin aku kaget adalah ketika dia bisa berbahasa Inggris. Lha, padahal bapaknya aja nggak lancar bahasa Inggris, kok bisa?

Goku itu paling senang nonton tutorial, lalu sharing apapun yang dia dapat saat itu. Dia juga bisa nge-rap, ‘free style’, referensinya dia dapat dari video games. Itulah hebatnya, anak kecil bisa ‘free style’ tanpa ada beban, bisa bisa nge-rap dengan gaya yang ‘los’ banget. Lucunya lagi, kalau lagi nge-rap Goku bisa kehilangan konsentrasi jika akan memuntahkan kata-kata ‘kotor’. (*)

Jadwal Erix Soekamti Februari

3-4 Februari : Gathering Kamtis

Setelah dilaksanakan beberapa kali sebelumnya, Kamtis Family bersama Endank Soekamti mengadakan kegiatan yang berjudul Gathering Kamtis. Kegiatan ini sengaja dibuat untuk mempererat tali persaudaraan serta menjaga hubungan antar individu, baik dari Kamtis Family maupun di luar Kamtis Family bersama Endank Soekamti.

Selain berkumpul bersama, dan bersenang-senang, acara ini  juga mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk merealisasikan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan secara beramai-ramai melakukan bakti sosial.

Kedatangan Endank Soekamti di acara ini tidak seperti kunjungan konser musik di kota-kota lain, karena mereka datang sukarela untuk berkumpul bersama. Acara akan terus berlanjut tiap tahunnya untuk mempererat hubungan semua Kamtis Family di Indonesia.

 

6-14 Februari : Setelah melakukan produksi album “Salam Indonesia” selama 30 hari di Papua, Erix akan kembali ke Pulau Cendrawasih di ujung timur Indonesia tersebut. Kedatangannya ke Papua kali ini bukan untuk rekaman lagi, tapi? Penasaran kan? tunggu berita selanjutnya ya.

 

27 Februari : Setelah mengunjungi 10 kota di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sejak 5 Januari lalu,  Roadshow Salam Indonesia akhirnya kembali ke Yogyakarta, dan akan dilaksanakan di kampung halaman Endank Soekamti. Dalam roadshow ini akan ada nonton bareng film “Behind The Songs” (film dokumentasi tentang latar belakang terciptanya lagu-lagu di album Salam Indonesia), sharing session seputar proses kreatif pembuatan album ke-8 Endank Soekamti yang dilakukan di atas kapal pinisi sambil mengarungi lautan Papua, dilanjutkan dengan meet and greet, photo session, dan diakhiri dengan makan malam bersama dengan personel Endank Soekamti.

Acara yang dilaksanakan mulai pukul 18:00 waktu setempat ini terbatas hanya untuk 200 peserta di setiap kotanya. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan agar suasana akrab dan intim antara Endank Soekamti dan peserta yang hadir dapat semakin terjalin. Info lebih jauh dan pendaftaran bisa dilakukan dengan menghubungi Masayu via WA di nomer +62 821–3333–4441

Belut Disambelin

Salah satu tempat makan favoritku di Selatan Yogyakarta adalah Sambel Welut. Sudah beberapa kali di sana aku merayakan ulang tahun dan makan sepuasnya bersama teman-teman. Nama tempatnya adalah warung Sambal Welut Pak Sabar. Olahan daging belut ini merupakan kuliner tradisional khas Bantul. Menu utama di sana adalah aneka hidangan berbahan dasar belut, dari yang sederhana seperti belut goreng hingga belut yang diulek dan dijadikan sambal. Sambel welut adalah jagoan utama di warung ini. Pastinya menu inilah yang wajib kalian coba, pedasnya pun ada beberapa level, tinggal pilih sesuai kekuatan lidah dan perut. Jangan lupa tambahkan lalapan segar seperti mentimun dan daun kemangi. Lalapan ini juga berfungsi sebagai peredam rasa pedas. Sambal belut ini bisa disajikan pisah atau dijadikan satu dengan nasi. Untuk makan bersama, penyajian pisah sepertinya lebih pas. Rasanya benar-benar segar dan sedap saat disantap. Hahaha…

Sambel welut dibuat setelah belut yang sudah dibersihkan dan dihilangkan durinya digoreng. Kemudian dagingnya ditumbuk dengan sambal yang sudah dibuat terpisah. Sambalnya terbuat dari cabai hijau, kencur, daun jeruk, bawang putih dan garam. Kencur dan daun jeruk memberi aroma khas yang bener-bener ‘Slentem’, sangat menggugah selera makan.

Kesegaran dan kelezatan sambal belut ini juga dipengaruhi oleh bahan baku, termasuk ukuran belutnya. Untuk disambal, belut yang digunakan kurang lebih beratnya 1 ons atau 100 gram.

Selain menu utama sambal belut, di sana juga menyediakan olahan belut lainnya, seperti belut goreng, oseng belut. Rasa belut gorengnya sangat gurih, tidak terlalu kering dan tidak juga terlalu basah. Nah, favoritku selain sambal welut ya ini, oseng belut. Lidahku sangat dimanjakan dengan perpaduan rasa gurih dan manis, dan sedikit cipratan kuahnya yang pedas.

Kalau makan ke sana  beramai-ramai dengan teman-teman dan koleha, mending pesan belutnya kiloan, jadi bisa dimasak jadi beberapa variasi menu. Satu kilogram belut biasanya cukup untuk makan lima hingga tujuh orang. Tapi kalau datangnya nggak ramai-ramai, biasanya satu porsi sambal welut bahannya seberat satu ons.

Jika ada yang kurang suka daging belut, atau masih geli karena belum terbiasa, teman-teman bisa memilih menu tambahan beberapa jenis ikan sungai seperti, wader dan kutuk (ikan gabus) yang nggak kalah menariknya. Siapa yang mampu mengingkari betapa nikmatnya nasi putih hangat dengan lauk wader goreng kering atau pun ikan gabus goreng yang dicocolkan ke sambal bawang.

Minumannya yang spesial adalah teh dan jeruk, mau panas atau pun dingin pakai gula batu sebagai pemanisnya. Lokasi warung ini memang berada cukup jauh dari pusat kota Jogja, meskipun begitu, warung ini selalu ramai didatangi orang dari berbagai kalangan.

Jika mau ke sana, lokasinya dari pusat Kota Jogja, menuju ke selatan arah Pojok Benteng Wetan.

Pertigaan pertama, belok kanan hingga bertemu Jalan Ringroad Selatan. Terus lagi masih ke selatan sekitar 1,5 kilometer, selanjutnya biarkan aplikasi peta digitalmu yang bekerja. Hehehe..

Setelah semakin ramai, warung Pak Sabar yang mulai membuka usahanya sejak awal tahun 90an ini diperluas, dan kini lokasinya berada di pinggir jalan. Sambal Welut Pak Sabar alamatnya ada di Jalan Imogiri Barat km 6, Dusun Dokaran, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Warung ini buka setiap harinya dari jam 10 pagi hingga 10 malam. (*)

 

Bikin Cilok Sendiri

Jika teman-teman sudah mulai ketagihan yang namanya Cilok, tapi penjual cilok keliling sudah lama nggak ada yang lewat, ditambah kita lagi pengen santai di rumah dan malas keluar. Maka

Jangan ragu untuk bikin Cilokmu sendiri.

Cilok itu terbuat dari tepung aci (kanji) yang dicampur dengan air, lalu diaduk hingga jadi adonan yang lentur.  Adonan ini kemudian kita bikin bentuknya bulat-bulat seperti bakso. Lalu direbus atau dikukus. Jangan lupa siapkan tusuk sate, lalu disiram kuah kacang atau kuah kecap.

Dari sini kita juga bisa buat sendiri variasinya, mau Cilok, Cireng, atau Cimol. Kalau Cilok itu kan singkatan dari aci dicolok, Cireng itu aci digoreng, dan Cimol adalah aci digemol. Lha, kalau Ciblek? (hehehe.. bercanda.. bercanda…)

Bahan utama untuk membuat cilok, cireng, dan cimol adalah tepung aci, bumbu ketiganya pun nyaris sama. Untuk membuat adonan cilok, aci juga dicampur dengan tepung sagu dan terigu.
Kemudian masak air panas bersama bawang putih halus, penyedap, garam dan merica. Air panas ini dimasukan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tepung sambil diuleni hingga kalis.

Jika adonan kalis berarti sudah beremulsi dengan semua bahan. Kalau diuleni akan terasa licin dan untuk mengeceknya sangat mudah. Tandanya adalah saat diaduk, adonan sudah tidak lengket di tangan maupun di wadah atau alasnya.

Adonan tersebut lalu dibentuk bulat dan direbus dalam air mendidih sampai mengapung. Kalau penjual Cilok biasanya kan menjajakannya di gerobak, cilok tersebut dikukus dalam dandang terus-menerus hingga tetap hangat.
Selanjutnya kita bikin sendiri genre ciloknya, menurut referensi cilok di setiap daerah itu berbeda-beda cara penyajiannya. Kalau di Bandung, rasa gurih pada cilok karena adonannya dibuat bersama rebusan kaldu dan bawang putih yang dihaluskan, serta rempah-rempah lainnya. Belakangan ini juga banyak yang dikustom dengan berbagai isian, tinggal pilih, keju, sosis, ayam, dan lainnya. Ada juga cilok yang dibakar seperti sate.

Kalau kamu mau makan yang pedas-pedas, dan berkuah hangat. Coba genre Cilok Goang yang terkenal dari Tasikmalaya. Goang adalah nama sambal khas Sunda yang terbuat dari tumbukan cengek (Cabai rawit) dengan garam. Menurut pakar cilok, sejarah genre ini masih simpang siur. Samapi sekarang belum ada yang tahu persis kapan Cilok Goang ditemukan, dan siapa penemunya. Bisa juga ditambahkan berbagai jenis rempah-rempah. Mulai dari isi daging cincang, tahu, ceker ayam, dan kuah kaldu merah pedas.

Ayo, bikin sendiri cilokmu, dan pamerkan karya cilokmu di sini! (*)

Cilok Segede Gajah?

Bentuknya bulat seperti bakso, bertekstur kenyal, bisa disiram kuah atau saos pelengkap, kecap, maupun sambal kacang. Ditusuk-tusuk dan paling enak dimakan hangat-hangat, hayo siapa yang suka?

Siapa di sini yang nggak pernah makan cilok? Gunakan tusuk kayu untuk mencolok dan menikmati butiran cilok. Cita rasa yang gurih dengan paduan bumbu meresap ini bisanya paling enak dinikmati sambal ‘nyore’. Nyammm!

Ya, makanan yang terbuat dari tapioka ini asal muasalnya dari Jawa Barat. Tak hanya di bumi Parahiayangan, cilok juga jadi jajanan favorit di berbagai kota lainnya. Kita bisa dengan mudah menemukan penjual cilok yang menjajakan dagangannya di gerobak.

Karena terbuat dari bahan aci (tepung kanji), dan cara menyantapnya dengan dicolok, maka ia dinamakan cilok, singkatnya cilok adalah singkatan dari aci yang dicolok.

Di Jogja kotaku tercinta, Cilok juga banyak ditemui. Namun yang paling hits adalah cilok Gajahan yang terletak di Alun-Alun Selatan, Yogyakarta. Kalau kamu kebetulan lagi jalan-jalan sore di sana, perhatikan ke salah satu sudutnya. Di sana banyak orang berkumpul buat antri di depan sebuah gerobak, hanya untuk jajan Cilok Gajahan ini.

Biasanya pembeli selalu ketagihan dan balik lagi buat jajan di sana. Alasannya tentu saja soal kualitas dan rasanya. Cilok Gajahan ini jadi spesial karena racikan sambalnya. Menurut juragan Cilok Gajahan yang bernama Mas Syahrul, rahasia sambalnya yang mantap, adalah cabe rawit segar, bawang merah, bawang putih, dan beberapa bumbu lainnya. Buat yang suka, teman-teman juga bisa minta tambahan kecap. Rasa pedas manis, gurih adalah sensasinya. Istilahnya Tony Soekamti….. Mak, Slentem!

Kalau melihat dari bahan bakunya, memang nggak berbeda dengan cilok lainnya, yakni tepung tapioka, dan rempah-rempah. Namun yang berbeda adalah isinya yang menggunakan daging. Nama cilok Gajahan ini bukan karena besarnya segeda gajah lho, bukan juga berarti isiannya yang terbuat dari daging gajah, tapi karena letak berjualannya berada di bekas kandang gajah milik Keraton Yogyakarta, yang dikenal dengan area Gajahan.

Kamu tahu, Mas Syahrul ini sudah berjualan cilok di sana sejak 10 tahun lalu. Ia menjajakan ciloknya setiap sore hari di area Gajahan, dan pagi harinya beliau keliling dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Bayangkan, 10 tahun lalu cilok belum nge-hits kayak sekarang, waktu itu juga nggak banyak pembeli dan pelanggan yang mampir ke gerobaknya. Namun karena keputusannya untuk tetap menjual cilok, meski tren kuliner terus silih berganti menjadi salah satu kunci suksesnya. Ya… beliau adalah orang yang konsisten dengan pilihannya.

Sebab kegigihannya dan nggak pernah menyerah, lambat laun ciloknya mendapat kepercayaan pelanggan, hingga akhirnya ramai seperti sekarang. Karena sudah memiliki banyak pelanggan, beberapa tahun ini, Mas Syahrul sudah tidak lagi berjualan keliling ke sekolah-sekolah. Saking ramainya, kalau jajan di sana sekarang pakai nomor antrian, dan hanya dalam waktu dua jam lebih, cilok-cilok tersebut sudah ludes terjual.

Dibanding dengan cilok-cilok di kota lainnya seperti Bandung dan Jakarta yang dibandrol seharga Rp 500 per buah, Cilok Gajahan justru jauh lebih murah teman-teman. Bayangkan dengan harga Rp. 250 untuk sebuah Cilok, Mas Syahrul mampu meraup omzet hingga Rp. 1.5 juta per hari lho!

Gimana, bener-bener ‘Slentem’ kan? (*)