Havinhell

 

Havinhell terbentuk dari UKM band di sebuah universitas swasta di Jakarta. Awalnya mereka adalah lima personil wanita yang setelah hampir dua tahun berjalan, masing-masing personil mempunyai kesibukan sendiri dengan kuliah, dan pekerjaannya masing-masing. Namun hanyalah seorang ladyrocker bernama Ika Zidane yang tetap mempertahankan band ini.

Setelah meneruskan kuliahnya di Yogyakarta dan mengembangkan skill, Ika melanjutkan karier bermusiknya. Berkat bantuan dari para musisi di Yogya, Havinhell terbentuk lagi November 2009. Dengan formasi baru Ajenk (gitaris) dan Ranie (drum) mereka membawakan genre sweet punk. September 2011 lalu Ranie mengundurkan diri dari Havinhell. kemudian hingga saat ini Havinhell di bantu oleh drummer bernama Aries Hermawan, Drummer yang akrab disapa Ebo ini juga merupakan drummer dari The Viper X.

Kata Havinhell merupakan gabungan dari ‘Heaven in Hell’ yang berarti Surga di dalam Neraka. Dalam sebuah kehidupan pasti tak luput dari permasalahan, “diumpamakan seperti didalam neraka, tapi kita harus berani menghadapi masalah-masalah itu dengan penuh keyakinan, dan terus semangat maka kita akan merasakan ketenangan seperti di dalam surga,” kata mereka.

Havinhell kerap memperkenalkan musiknya dengan istilah “Sweet Punk”, yaitu riungan Punk Rock yang manis, dan  tidak terlalu memekakkan telinga. (*)

LaQuena

LaQuena adalah band asal Yogyakarta yang frontlinernya seorang perempuan. Secara harfiah nama ini berasal dari bahasa latin kuno yang berarti ‘Tari (Spirit) kemenangan’. Harapan mereka menggunakan nama ini adalah memenangkan diri sendiri untuk tidak pernah menyerah dalam segala hal. Nama LaQuena dicetuskan oleh Adhe Yotolembah (Canonball ) dengan konsep musik yang memiliki semangat tak lekang oleh jaman.

Di awal berdirinya, LaQuena adalah proyek konspirasi dari lima orang sahabat, yaitu Julia Candra, Sandy Tanarius , Adhe Yotolembah, dan Rachmad Ibrahim. Mereka sepakat membentuk grup musik dengan frontliner seorang perempuan yang juga sekaligus gitaris. Pilihan musik mereka adalah kombinasi energi ritmik dan distorsi.

Seiring perjalanan, personel LaQuena pun berubah total, hanya Julia Candra (Vokal /Gitar) yang tersisa dan ‘ladyrocker’ ini dibantu oleh Garry Mailangkay (Gitar), Agib Tanjung (Bass), dan Alvian Vinuria (Drum). Menurut Julia, musik LaQuena adalah kombinasi harmoni lirik, ritmik, dan elemen distorsi yang disajikan sebagai bagian dari pesan proses kehidupan dan emosi yang bercampur di antaranya, ambisi, idealisme, motivasi, cinta, amarah, semangat, dan ungkapan kejujuran.

Benang merah lagu-lagu LaQuena adalah semangat menjalani proses kehidupan secara utuh, dan berjuang tidak kenal menyerah. Banyak band dengan kelebihanya masing-masing mereka jadikan panutan, “kami tidak hanya mengamati musikalitasnya saja, melainkan bagaimana pesan lagu mereka bisa diterima dan dihargai,” ucap Julia.

Dari sebuah percobaan dan pencarian jati diri band, elemen musik LaQuena adalah perwujudan semangat dari apa yang mereka tuliskan dalam lirik lagu. Pada lagu ‘Dibawah Hujan’ yang diciptakan Dory Soekamti (Gitaris Endank Soekamti), berusaha mengajak orang untuk selalu yakin dan memperjuangkan mimpinya dengan mengalahkan semua rintangan. Menurut LaQuena, musik bukanlah sekedar pelan atau keras, namun bagaimana yang disampaikan, punya emosi yang sesuai dengan irama yang dimainkan. (*)

D.P.M.B

D.P.M.B adalah akronim dari ‘Dua Petaka Membawa Bencana’. Grup yang dibentuk Oktober 2007 ini terdiri dari dua rhyme maker Alex a.k.a Donnero dan Mamok a.k.a M2MX. Mereka mengawali karir di kancah hip hop dengan single pertama berjudul ‘Microphone Attack’. Di pertengahan tahun 2007 D.P.M.B menembus Indonesian Hip Hop Chart dengan single pertama mereka “Microphone Attack” Lagu tersebut menjadi sangat influental di Skena Hip Hop Yogyakarta. Di tahun 2008, lagu lainnya yang berjudul “Gatholoco” masuk dalam album kompilasi Poetry Battle #2, lagu tersebut disadur dari susunan puisi sastrawan Goenawan Mohamad. Tahun 2010 single D.P.M.B featuring ROTRA berjudul “Lets Begin” berhasil menduduki chart nomor satu TOP JIGGO di HipHopindo(dot)net.

Kiprah duo rapper ini di kancah musik dan terutama subkultur Hip Hop memang sudah terbukti memiliki taringnya sendiri. Tahun 2011 D.P.M.B berkolaborasi dengan Band Hardcore asal Yogyakarta Serigala Malam, mereka menggabungkan nuansa Hip Hop dan Hardcore di lagu yang berjudul “Boyz In Da Hood”, lagu tersebut juga menjadi salah satu materi baru di album Serigala Malam “Hibernate In Harder Pain”.

Tahun 2013, single D.P.M.B berjudul “Oldschool Always Good” featuring Boys Got No Brain (Pesta Rap) masuk dalam album kompilasi Soundtrack Film “King Of Rock City”. D.P.M.B kembali merilis single berjudul TEAM ARMAGEDDON, single yang berkolaborasi dengan Heruwa (frontman Dubyouth dan Shaggydog) ini di produseri oleh Balance NgilazBeat. Lagu ini juga turut meramaikan album kompilasi lintas genre #Doggybarks yang di rilis pertengahan Agustus 2014 lalu, album kompilasi tersebut di produksi oleh Doggyhouse Records. (*)

Monrever

band rock asal Yogyakarta ini masih eksis sejak para personelnya masih duduk di bangku SMP. Sekelompok remaja yang kini beranjak dewasa ini sepakat untuk menyalurkan hobi mereka bermain musik. Sebagian dari mereka bahkan menempuh pendidikan formal di bidang musik

Nama Monrever berasal dari bahasa Perancis yaitu Mon: aku, Rever: impian, Nama Monrever berarti ‘Impianku’. Meski para pendengar bisa dengan leluasa mendeskripsikan musik yang mereka mainkan, namun secara garis besar mereka memainkan musik rock.

Keseriusan mereka bermusik pun direpresentasikan via album rekaman dan beberapa album kompilasi. di antaranya, kompilasi Asian Beat (Yamaha/2005), kompilasi soundburst (coca cola/2010) dimana mereka tampil sebagai juara 1 tingkat nasional, dan full album bertajuk ‘Everything Is Music’ (2009).

BAND Modern Rock asal Yogyakarta, Monrever memang kerap memainkan rock yang ‘keras’, Mereka adalah Danang (vokal), Atenk (vokal), Novan Gembel (gitar), Rendra (bass), Yuan (keyboard), Romello (biola), dan Jexx (drum). (*)

Fayrush

DIAMBIL dari kata “rush” yang berarti meroket dan melesat dan “fay” yang berarti tajam, band bernama Fayrush ini ingin “melesat tajam” dalam menyampaikan pesan lewat karya-karya mereka. Band yang terbentuk sejak 2010 ini bergenre Pop Kreatif. Mereka adalah M.a. Rifai P (vocal/gitar), Aji Norontoko (gitar), Daniel Wicaksono An (bass), dan Didan Bahana Patria (drum). (*)

Medium


Dengan mengusung musik yang mereka sebut ‘Alternative Pop’, Medium Band terus membentuk karakter mereka. Pada album ‘Soundbox Compilation vol #1’,  Medium menyuguhkan lagu berjudul ‘Bahagia Bersama’. Lagu ini bercerita tentang pengharapan kebahagian yang bisa diraih bersama, meski dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Band yang resmi dibentuk pada 3 Februari 2009 ini beranggotakan, Kakung Triadmojo (vokal/gitar), Fajar Alami (gitar), Yuliawan Dwi Saputra (gitar), Vicki Unggul Bramantyo (Keyboard), dan Gustiyansyah (drum). Akhir 2011 lalu, Medium Band merilis album pertama mereka yang bertajuk “Indah Pada Saatnya”. Album tersebut bermaterikan delapan lagu dengan single “Bebas (bernyanyilah)”. (*)

Sm*nh

Sm*nh terdiri dari Afgandoz, Alitalit Jabang Bayi, Doni Salah Paham, dan Rony Muyapa. Penampilan mereka selalu sukses membuat penonton tebahak-bahak selama mereka unjuk gigi. Fengan gaya boyband ‘nyeleneh’ mereka kerap membawakan lagu ‘Sayang Bilang Sayang’ (Pentaboys), kemudian medley ‘Goodbye’ (Air Supply) – ‘Jangan Ada Dusta’, dan tak ketinggalan dengan aksi heboh mereka menyanyikan ‘Dilema’ (Cherrybell).

Sm*nh berdiri ketika Hari Valentine di acara Jazz Mben Senen, Nama tersebut adalah plesetan dari Smash yang saat itu sedang naik daun. Meski mengaku boysband, Konsep Sm*nh adalah anti lipsync. “Kita emang benci lihat di tv, boysband yang pentas bisanya lipsing, ya dengan itu, kita para pemuda bermuka pas-pasan dan suara minimalis, mencoba memparodikan boysband,” ujar Gandoz. (*)

Bravesboy

 

Perjalanan band Ska Reggae asal Yogyakarta ini berawal dari sebuah proyek iseng iseng berhadiah. Embrio asal muasal Bravesboy berawal dari sebuah grup reggae modern bernama Waton Gayenk. Sebelumnya Waton Gayenk ini sempat melanglangbuana di seputaran pensi di sekolah-sekolah, bahkan di acara-acara punk di Yogyakarta. Karena terbatasnya waktu dari masing masing personil, band reggae ini pun vakum. Setelah sekian lama stagnan, Bimo sang juru vokal Waton Gayenk, dan Nazad sang penabuh jimbe/perkusi yang tak bisa berlama-lama jauh dengan musik, mereka pun kembali berkarya membuat suatu proyek bernama Bravesboy ini.

Dengan nama Bravesboy, yang artinya ‘pria pemberani, jantan’ mereka mengaku menjadi termotivasi. Mereka berharap ke depannya selalu berani menghadapi kondisi apapun, berani miskin, berani kaya, berani susah, berani senang, berani gagal,dan berani sukses, istilahnya rekoso rapopo, nek kere ra kaget, nek sugeh kroso.

Musik Bravesboy bernuansa reggae, ska, modern yang berbalut aroma hip-hop. Lirik lagu mereka renyah, sederhana, dan kadang jenaka. ‘Bravers’ sebutan untuk penggemar mereka, selalu meramaikan dimana pun Bravesboy tampil. (*)

Sekelebat Punk…..

oleh Kiki Pea

Bagi kebanyakan masyarakat, Punk dianggap sebagai gerombolan remaja yang senantiasa membuat onar, memainkan musik yang keras, cepat, dan penyanyinya berteriak-teriak tidak jelas. Dengan gaya berpakaian yang urakan, dan jauh dari kesan anak baik-baik, masyarakat awam seringkali menarik kesimpulan bahwa punk adalah segerombolan anak muda yang berperilaku kriminal. Didukung dengan hingar bingar musik dengan lirik berisi kecaman-kecaman pemberontakan mengakibatkan miringnya persepsi masyarakat mengenai punk.

Banyak yang menganggap bahwa punk adalah aliran musik semata. Menurut para pengusungnya, punk bukanlah aliran musik atau gaya fashion belaka, tetapi ia adalah ‘sikap’ yang lahir dari sifat memberontak terhadap ketidakpuasan yang ada di sekitar, entah itu politik, sosial, ekonomi, bahkan terhadap bentuk keteraturan yang telah mapan. Rasa tidak puas hati dan kemarahan inilah yang diekspresikan lewat musik dan gaya berpakaian mereka.

Lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik mereka menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran, serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Sejak awal 1970-an, musik punk sudah berkembang di Amerika, munculnya band-band seperti The Ramones, New York Dolls, MC5, Iggy Pop & The Stooges menandai awal munculnya genre punk generasi pertama. Di era yang sama, pertumbuhan punk begitu meluas dikalangan anak-anak muda di Inggris. Kala itu para remaja di Britania mencari media bagi mereka untuk memberontak karena keadaan ekonomi yang payah. Pada masa inilah revolusi punk bermula, para punks tersebut mayoritas berasal dari remaja-remaja working class yang marah terhadap perekonomian dan sistem sosial yang menindas.

Di era tersebutlah muncul band-band seperti, The Sex Pistols, The Clash, The Damned, dan sederet nama lainnya. Kehadiran The Sex Pistols di permukaan menjadi begitu kontroversial sekali karena attitude dan keberanian mereka menentang Kerajaan Inggris.

Punk setelah tahun 70-an ditandai dengan kembali berpindahnya aktivitas punk dari Inggris ke Amerika. Di sanalah scene-scene punk begitu menjamur. Mesikup tidak secara keseluruhan, bentuk pemberontakan telah mengalami banyak perubahan. Pada generasi ini cukup sulit untuk melihat punk semata-mata dengan penandaan imaji seperti fashion, bahkan musik yang hingar bingar. Punk seolah-olah merubah strategi pemberontakan mereka menjadi sebuah gaya hidup tandingan.

Punk di generasi kedua ini memfokuskan pada isu-isu dan aktivitas independen yang lebih politis daripada generasi sebelumnya. Isu-isu seperti feminisme, gender, pemberdayaan komunitas, anti rasisme, anti perang, independensi dan lain-lain merupakan isu komunal yang beredar di antara komunitas punk dalam rangka melawan informasi dari budaya arus utama.

Apa makna Punk buat kalian? (*)