Something Wrong

Something Wrong memulai debut rekamannya pada 1998, dalam kompilasi Yogyakarta United Underground. Kompilasi ini menyajikan rekaman band-band underground Yogyakarta dari berbagai aliran. Something Wrong menyebut gaya musik mereka dengan ‘Yogyakarta Hardcore’. Band ini amat terpengaruh oleh band-band band-band old school  New York Hardcore seperti Agnostic Front, 25 ta Life, Warzone, mereka juga mengadaptasi band European Hardcore seperti Discipline, Brightside, dan lain-lain. Dalam perkembangan musiknya Something Wrong juga mendapat influence dari jenis musik lain selain hardcore, seperti jenis musik Oi!, Metal, dan Punk.

Sejak awal terbentuk, pada setiap pementasannya Something Wrong sudah membawakan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri disamping juga lagu-lagu dari band hardcore favorit mereka.

Kini SWYKHC terdiri dari Wahyu Jatmiko aka Soetik (bass), Yanuar Surya (drum), Wahyu Dwihandoko aka Hendi aka Bobacox (guitar), Danar aka Kucing (microphone). Pada tahun 2010 Something Wrong merilis album ke-3 mereka “Nesu” yang merupakan akronim dari ‘Negoro Edan Sengsoro Uripe’. Terdapat 12 lagu bernuasa hardcore dengan lirik berbahasa jawa. Liriknya meneriakkan kritik terhadap sistem sosial dan situasi politik di Indonesia. Inilah yang membedakan mereka dengan band-band dengan genre sejenis. (*)

‘Tetaplah di Sini’ Bersama GIE

Band asal Jogja, Gie meluncurkan single terbaru berjudul ‘Tetaplah di Sini’. Ini menjadi single keempat yang mereka luncurkan setelah dua single sebelumnya. Gie juga telah merilis satu mini album di tahun 2015, serta satu karya tunggal lainnya di 2016. Lewat ‘Tetaplah di Sini’, Gie menggali lebih dalam tentang sebuah kenyataan, yang nampaknya menjadi suatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka yang belum siap untuk menghadapinya. Bagaimana jika kenyataan itu berhadapan langsung dengan perasaan, dimana segala hal yang sangat sensitif tersimpan dengan sangat rapi di sana.

Lewat ‘Tetaplah di Sini’, band yang beranggotakan Wimar (vokal), Gatra (gitar), Denny (bass), Kaka (keyboard), dan Subangkit (drum) ini mengajak para pendengar untuk menyadari lebih dalam mengenai kekuatan perasaan yang selama ini mungkin belum mereka sadari. Menurut Gatra penulis lagu, karya ini bercerita tentang sebuah malam yang diharapkan dapat menjadi penguat keyakinan untuk menghadapi kenyataan. Ia ingin menggambarkan bagaimana jika sebuah hubungan dihadapkan pada kondisi demikian, yang diharapkan ialah persiapan untuk saling menguatkan satu sama lain agar kenyataan tak menjadi menakutkan.

Gatra melanjutkan “Bahwa kebahagiaan bukanlah perkara waktu, tempat atau kebersamaan, melainkan apa-apa yang ditanam dan dirawat baik dalam pikiran. Karena kita hidup dalam kenyataan, dimana yang terjadi benar-benar terjadi walau pun itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan. Kita tidak hidup layaknya seperti di negeri harapan, yang mana segala sesuatunya kerap dikemas dengan indah dan menyenangkan,” kata Gatra lebih memperjelas pesan dari karya yang ia proses bersama dengan teman-temannya di Gie. (*)

Menurut bassist Gie, Denny ‘Tetaplah di Sini’ tidak hanya menjadi sebuah karya yang memiliki arti sangat mendalam, namun dari segi musikalitas, materi ini menjadi wajah baru Gie yang sebenarnya. ‘Tetaplah di Sini’ menjadi representasi para personil Gie pada musik yang selama ini menginspirasi mereka.

“Musik yang digubah dalam single ini menurut kami tidak terkesan dipaksakan untuk mengikuti arus musik tertentu. Bisa dibilang ‘Tetaplah di Sini’ merupakan karya yang lebih jujur melebihi karya-karya yang pernah kami ciptakan sebelumnya,” papar Denny.

Dalam proses penggarapan single terbarunya ini, Gie melibatkan beberapa pihak yang ikut terjun secara langsung. Beberapa di antaranya seperti Jogja Audio School yang menjadi tempat mereka untuk merekam karya tersebut, juga Rumah Rekam yang menjadi ruang bagi Gie melakukan proses finishing untuk lagu ‘Tetaplah di Sini’.

Gie juga melibatkan Regga Hendarto untuk pengerjaan cover art dari single ini. “kami mau kasih bocoran, bahwa single ini bisa dibilang sebagai materi pembuka dari album penuh kami yang rencananya siap dirilis dalam waktu dekat,” tambah Wimar.

GIE

Gie terbentuk pada 20 Februari 2011, mereka bertemu di suatu organisasi kampus, UKM Musik UMY. Awalnya beranggotakan enam orang dengan mengusung genre “Jazz Oplosan”, tapi mulai tahun 2013 sedikit mengalami perombakan personil karena vokalis pertama (Firman Faisal) memutuskan untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya, sedangkan gitaris dua (Vais Al Qirani) hijrah dan menetap di luar kota.

Genre yang diusung Gie adalah dengan mengambil unsur blues untuk dikombinasikan dengan berbagai jenis musik, sesuai kegemaran masing-masing personil. Karya yang mereka lahirkan keluar begitu saja, dengan tujuan memberikan kebebasan kepada audiens untuk memberi gambaran terhadap jenis musiknya. Nama Gie terinspirasi dari sosok pemuda yang memperjuangkan keyakinannya dalam memandang sesuatu, Soe Hok Gie. Gie sendiri ingin menyeimbangkan antara idealisme dalam bermusik dengan suguhan musik yang dapat dinikmati oleh khalayak, hal ini mengacu pada istilah “Keseimbangan Kompromis” yang dikemukakan oleh John Storey. (*)

Sanders Hates Chicken

SHC berawal pada 11 November 2011 di Selatan Yogyakarta, adalah dua orang sahabat lama yakni, Arman Harjo dan Tbonk Weimpy sepakat untuk membentuk sebuah band. Awalnya mereka menggunakan nama The Sanders, yang kemudian berubah menjadi Sanders Hates Chicken. Keduanya lalu mulai mengajak teman-teman yang lain seperti, Wedha Tama, Alvian Vinuria, Tama Mahdi dan Terakhir Raya Buwono.

Lalu mereka mulai merekam 3 lagu demo pertamanya dengan semangat menggebu-gebu layaknya remaja belasan tahun yang baru jatuh cinta. Ini berlanjut hingga merekam puluhan lagu yang diunggah dan disebarkan gratis di portal music online seperti reverbnation dan soundcloud. Mereka pun terbersit ide untuk memilih beberapa lagu untuk dijadikan full album yang diberi tajuk Drama Dunia. Sebanyak 15 lagu akhirnya dipilih sebagai materi di album ini.

Sanders Hates Chicken pada mulanya tidak mempunyai arti  dan filosofis yang mendalam. Nama ini sering dikaitkan dengan sarkasme tentang restoran waralaba Ayam goreng paling terkenal. Kebetulan pada saat awal band ini dibentuk, restoran tersebut menjadi wadah baru para musisi tanah air untuk menjual albumnya. “Sebenarnya kami justru mengabil spirit dari Sang Colonel Harland Sanders dalam berjuang hidup, dan tetap semangat berusaha walaupun pada saat restoranya dibuka, beliau telah berusia 65 tahun,” jelas Arman.

Di masa-masa awal SHC ingin membuat band dengan genre Pop-punk, namun karena kebebasan yang berlebihan dari setiap personilnya, maka yang terjadi adalah semakin melenceng dari konsep awal, SHC menjadi band rock dengan rap, dan hentakan drum yang liar. Harmoni vocal yang ramai dipadukan dengan suara gitar yang meraung raung dan syntheseizer dominan di setiap lagu. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘Rap Rock Alternative’. (*)

Sanders Hates Chicken Bagikan Gratis 10.000 keping CD ‘Drama Dunia’

Sanders Hates Chicken (SHC) adalah sebuah proyek musik senang-senang yang begitu serius. Bagaimana tidak serius, mereka cukup produktif membuat lagu, dan baru saja menelurkan album penuh bertajuk ‘Drama Dunia’. Judul album Sanders Hates Chicken ini diambil dari satu lagu mereka di album ini.

Album ini dirilis sebanyak 10.000 keping CD, dan dibagikan secara gratis. Menurut vokalis Arman Harjo album ini adalah sebagai bentuk rasa syukur SHC kepada teman-teman yang sudah mendukung dan menyemangati selama ini. “Rasanya ini semua kecil dibanding apa yang telah kami terima dari teman teman sekalian,” katanya.

Hal ini, lanjutnya, sekaligus merupakan upaya untuk mengabadikan nama SHC setidaknya di 10.000 ingatan. “Sebelum CD punah makan kami bagikan gratis untuk semua mungkin 20 atau 50 tahun mendatang, album kami bisa menjadi barang langka bernilai tinggi. Album ‘Drama Dunia’ ini juga bisa diunduh secara gratis di kanal SHC.

Artwork album ‘Drama Dunia’ berupa visual seorang anak yang sedang bermain piano di bawah pohon besar yang kering. Ia bermain piano di tengah hujan badai yang berlokasi di areal pemakaman. Menurut vokalis Arman Harjo, Ini mengandung makna bahwa pada situasi terburuk apapun jiwa jiwa yang senantiasa bersyukur dan berserah pada Tuhan akan menemukan keindahan sekalipun itu teramat sulit. “Untuk itu manusia menciptakan sebuah kata “harapan” ujarnya. Artwork album ini dibuat oleh seniman Danur Rahrakai, sosok misterius yang juga membuat atwork untuk beberapa band luar maupun dalam negeri.

Lagu ‘Drama Dunia’ memiliki makna yang cukup dalam. Dimulai dari perjalanan spiritual Arman mencari makna hidup. Ia melihat setiap orang berjuang mati matian untuk mengejar segala sesuatu yang sejatinya hanya untuk ditinggalkan. Sebut saja sebagai pencarian kebahagiaan yang semakin diburu seolah olah kebahagiaan itu menjauh. Lalu disimpulakan bahwa hidup ini hanyalah drama. “Maka yang sebaik baiknya dilakukan adalah kita memerankan lakon kita dengan sepenuh hati,” tegas Arman.

Lagu ‘Bye Bye’ cukup sakral untuk SHC, lagu ini bercerita tentang persahabatan dan perpisahan yang pernah dialami oleh semua orang ketika beranjak dewasa. Satu persatu sahabat dan kita sendiri punya kehidupan lain. Mulai berkeluarga, sibuk dengan pekerjaan, dan sebagainya. Maka hal-hal kecil dan sederhana bersama teman teman adalah peristiwa yang paling dirindukan. Untuk kebanyakan kita masa remaja adalah masa masa paling indah dan paling liar dengan kenangan indah tentang persahabatan.

Lagu lainnya ‘Gila’ SHC berkolaborasi dengan MC Fira Sasmita yang bernyanyi dengan suara seraknya yang syahdu. Ini merupakan lagu patah hati yang cukup lugu dan jujur. Arman menjelaskan bahwa dalam hal apapun kita bisa menjadi ahli jika melakukan sesuatu secara konsisten. Contohnya orang yang rajin berlatih gitar, atau memasak lambat laun akan menjadi handal. “Namun tidak untuk urusan asmara. Kita akan cenderung menjadi semakin bodoh karena logika tidak bekerja pada saat-saat ini terjadi,” jelasnya. (*)

LastElise merilis album kedua ‘Memorabilia’

Band alternatif dari Yogyakarta, LastElise merilis album keduanya yang berjudul ‘Memorabilia’. Album ini merupakan hasil kontemplasi setelah 10 tahun berkarya dan mencoba berbagai hal dalam musikalitas. Menurut sang frontman, Uya “Memorabilia” diambil sebagai simbol bahwa setiap kepingan proses kehidupan memiliki nilai dinamis terkait rentang usia, namun menyeluruh pada satu proses. Dan setiap lagu merupakan potret fragmentasi dari proses pengalaman individu dalam kehidupan.

“Metempsychosis” salah satunya, lagu ini terinspirasi dari cerita tentang reinkarnasi dan jurnal sains tentang perpindahan energi untuk membentuk individu dalam kandungan. Sampai pada lagu terakhir “Masa”, tentang kembalinya individu ke alam euforia atau nirwana di mana semua indah & damai.

Band yang berdiri pada 12 September 2006 ini telah melalui banyak proses musikal dan format, yang akhirnya membuat Uya (Surya) selaku frontman, memutuskan menggunakan konsep kolaboratif & eksperimental. Konsep ini akhirnya membawa LastElise pada bentuk yang sangat luwes sebagai proyek musikal.

Pada album ‘Memorabilia’, LastElise lebih mengedepankan tentang keutuhan konsep album, berdasar pengembangan cara berproses dari album pertama, jadi workshop materi yang cukup lama & sound design yang diambil untuk mewakili tiap komposisi yang ada di album ‘Memorabilia’ cukup memusingkan. Proses kolaboratif masih terjadi di sini, dengan beberapa orang yang ikut mengisi bagian di album ini.

Target dari album ini, lanjut Uya, adalah paradigma yang berbeda tentang cara menyikapi sebuah album, bahwa menurut kami, sebuah album bukan sekedar kumpulan komposisi yang dijadikan satu, yang mungkin sering terjadi beberapa tahun belakangan, melainkan sebuah kontemplasi tentang tema besar yang melingkupi keseluruhan materi yang ada. “Sehingga tiap repertoar memiliki makna seni sebagaimana musik seharusnya”. (*)

Last Elise

Band yang berdiri pada 12 September 2006 ini telah melalui banyak proses musikal dan format, yang akhirnya membuat Uya (Surya) selaku frontman, memutuskan menggunakan konsep kolaboratif & eksperimental. Konsep ini akhirnya membawa LastElise pada bentuk yang sangat luwes sebagai proyek musikal.

Sebagian besar warna musik yang diusung LastElise bernuansa ambient & psychedelic, serta pengaruh musik alternative rock 90-an. Meski awal mula terbentuk sebagai trio, tapi album pertama LastElise berisi beberapa nomor kolaboratif, misalnya “Diskusi 4×4” adalah lagu yang direkam secara live dan dengan format double bass player (feat. Punjul Wahyu), menurut Uya lagu ini akan selalu berbeda ketika dibawakan secara ‘live’, karena sangat terbuka untuk instrumen lain, misal saxophone, perkusi atau lainnya. (*)

Broken Rose Luncurkan album kedua “A Glimpse Of Glory”

Broken Rose adalah; Agung (Guitars), Jojo (Vocal), Sindhu (Bass), Affan (Lead Guitars), Dian (Drums). Meski saat ini personil dan crew mereka dipisahkan jarak, namun Broken Rose selalu berusaha menyebarkan karya mereka di kota masing-masing. BR dibentuk pada 2011 silam, dan setelah lebih tiga tahun, akhirnya menelurkan album kedua mereka “A Glimpse Of Glory”. Album ini berisi 10 track, irama bernuansa chicano punk bisa dirasakan di tembang-tembang: We’ve Really Had Enough, Brock and Rosey, Langgam Suara Terkekang, Light Up The Sky, 98, A Glimpse Of Glory, Catch Me When I Fall, Bittersweet Symphony, Let The Rain Wash Away The Pain, dan Bad Boys Blues.

Album kedua Broken Rose ini memiliki konsep yang sangat berbeda dari album perdana “Blood, Sweat, and Tears”. Pada album pertama, menurut frontman Broken Rose Jojo, ada beberapa lagu yang berbeda karakteristik dengan lagu-lagu lainnya. Baik itu dari segi penulisan lirik atau aransemen lagunya. Sementara di album ini, semua lagu dikonsep secara lebih matang.

Untuk kover Album “A Glimpse of Glory” dikerjakan oleh seniman Jogja, Helly Mursito dari Kerja Keras Kulture. Sebagai seniman, Helly KKK juga telah membuat beberapa artwork untuk musisi terkenal seperti; Superman Is Dead dan Dubyouth.

“A Glimpse of Glory” direkam di Bajink Studio, Magelang, sebuah home recording studio milik kawan mereka yang bernama Syarif. Kini Bajink studio sudah tidak beroperasi lagi karena Syarif ingin lebih fokus ke hobi dan pekerjaan barunya. Ketika proses rekaman sudah 50% Broken Rose berembug dengan Bajink Studio dengan keputusan bahwa ini adalah proyek terakhir Bajink Studio. Materi yang tersisa langsung dikebut, bolak-balik Jogja-Magelang setiap minggunya hingga album ini rampung.

Broken Rose mendistribusikan album ini secara mandiri. Selain bertemu langsung, untuk mendapatkan CD album dan merchandise juga bisa melalui online. Broken Rose juga bekerja sama dengan sejumlah pihak seperti iTunes, Spotify, Joox, dan lain-lain. “Jadi selain rilis fisik, pendengar juga bisa memiliki album-album Broken Rose secara eksklusif di gadget masing-masing.  Bicara target sih gak muluk-muluk. Yang penting CD/merchandise laku terjual, penjualan online juga lancar dan orang-orang juga bisa mendengarkan karya-karya kami,” ujar Jojo.

Saat ini beberapa personil dan crew Broken Rose memiliki pekerjaan masing-masing. Di antara mereka ada yang rutin bermain akustikan di sejumlah cafe, ada juga yang punya proyek band yang kerap tampil di acara-acara sepakbola. “Tapi kalau ada panggilan tugas (Broken Rose) pas weekend, kami akan berkumpul,” ujar Jojo. (*)

DEATH VOMIT

DEATH VOMIT telah meluncurkan tiga studio album dan satu live konser album dalam bentuk video (DVD). Album perdana „Eternally Deprecated‟, dirilis pada tanggal 24 November 1999 DEATH VOMIT Korean Tour 2017 dengan label mereka sendiri Demented Mind Records. Album tersebut kemudian dirilis ulang oleh sebuah label asal Bandung yang bernama Extreme Souls Production (ESP). DEATH VOMIT merekam album ke dua bertitel „The Prophecy‟ di bawah label Rottrevore Records, Jakarta pada bulan Mei 2006. 

Pada tanggal 19 Juni 2008 mereka mengadakan live performance yang direkam dalam format DVD bertitel „Flames of Hate‟ di bawah label yang sama (Rottrevore). Dengan personel Sofyan Hadi (gitar/ vokal), Oki Haribowo (bass) dan Roy Agus (drum). Pada tahun 2014 DEATH VOMIT meluncurkan album “Forging A Legacy”, sebuah album yang diluncurkan dengan jeda waktu yang cukup panjang dari album sebelumnya, yakni setelah 8 tahun pasca dilincurkan album sebelumnya pada tahun 2006 (The Prophecy). 

Album tersebut resmi diluncurkan pada tanggal 25 Agustus 2014 dirilis dan diedarkan oleh Armstretch Records berisi 9 lagu. Istimewanya dua lagu di album tersebut mendapat sentuhan bengis seorang gitaris kawakan dari Amerika Serikat yaitu Dennis Munoz, seorang gitaris dari band metal lawas, Solstice. DEATH VOMIT menjadi salah satu band yang sangat berpengaruh terhadap dunia musik di Indonesia. Pembuktian selama lebih 20 tahun atas eksistensi dan konsistensi dalam bermusik patut diberikan apresiasi tersendiri, terlebih komitmen untuk tetap berkarya di jalurnya adalah salah satu yang patut diberi applause. 

Di Indonesia sendiri DEATH VOMIT telah memiliki jutaan penggemar yang loyal, hal tersebut bisa dibuktikan dengan selalu padatnya penonton di setiap konsernya. (*)

DEATH VOMIT Tampil di Ansan We Rock, Seoul

Sejak didirikan pada tahun 1995 di Yogyakarta, DEATH VOMIT telah menjajaki di segala penjuru negeri. Kiprah mereka tidak hanya berhenti di kancah nasional, beberapa kali DEATH VOMIT tampil dalam pementasan di luar negeri, antara lain di beberapa kota di Australia, Jepang, Malaysia dan Vietnam. 

November ini DEATH VOMIT kembali menjalani pentas internasional di Korea Selatan. Beberapa waktu yang lalu manajemen DEATH VOMIT sempat dihubungi penyelenggara Vermin Majesty dari Korea Selatan untuk tampil dalam konser ekslusif di Ansan, sebuah kota yang tidak jauh dari Soul, Korea Selatan. Bagi DEATH VOMIT, ini merupakan kesempatan terbaik untuk bisa menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia memiliki potensi yang patut diperhitungkan. Selain tentu saja mengenalkan Indonesia.

Sebenarnya DEATH VOMIT telah memiliki jadwal penampilan di Korea Selatan lebih awal, yakni pada tanggal 17 Oktober 2017 untuk tampil bersama Devourment, sebuah band slamming death metal asal Texas, USA bertempat di Club Crack, Seoul, namun karena alasan tehnis masalah Visa yang belum bisa keluar, terpaksa tidak dapat bergabung di konser tersebut. Sebagai gantinya DEATH VOMIT akan tampil secara spesial di Ansan We Rock, dan satu panggung dengan band-band Korea Selatan, Formal Apathy dan Doxology. 

DEATH VOMIT telah membuktikan sebagai salah satu pionir death metal Indonesia, yang  sejak awal telah memainkan musik Death Metal hingga sekarang. Tanpa terasa tahun ini adalah tiga tahun sejak album “Forging A Legacy” diluncurkan pada tahun 2014. Album tersebut merupakan album ketiga DEATH VOMIT yang telah beredar luas di Indonesia dan beberapa negara lain termasuk Amerika Serikat (USA). Album Forging A Legacy beredar dalam bentuk CD (compact disc), kaset maupun vinyl (piringan hitam). Dalam beberapa kesempatan baru-baru ini, telah dinyatakan bahwa di tahun 2017 ini band yang digawangi; Sofyan Hadi – Vocal / Guitar Oki Haribowo – Bass / Vocal Roy Agus – Drums ini mulai melakukan penggarapan materi untuk album baru yang diharapkan paling lambat tahun depan sudah dapat dirilis dan didengarkan masyarakat metal di Indonesia maupun dunia. 

Di tengah kegiatan mengumpulkan materi untuk album baru tersebut, beberapa kali DEATH VOMIT masih sempat menjalani beberapa konser di Indonesia, diantaranya adalah sebagai headliner acara Selatan Beringas di Kudus dan terakhir tampil sebagai salah satu band pembuka konser Dream Theater di perhelatan musik internasional JogjaROCKarta di Stadion Kridosono Yogyakarta. Di konser musik fenomenal tersebut DEATH VOMIT tambil menggandeng beberapa musisi Jogja untuk berkolaborasi, yaitu dengan para musisi yang tergabung dalam komunitas Drummer Guyub YK serta salah satu gitaris andalan Yogyakarta dan Indonesia, Eross Candra dari Sheila on 7.  (*)